Puisi: Jalan ke Bukit Penuh Duri – Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

— untuk Afrizal Malna

Ya, jalan ke bukit sudah berubah
dalam langkahku kini;
semak-semak meninggi, penuh duri
rumput, ilalang pun jelatang
berebut tumbuh di celah batu
menggores pundakku, sia-sia
mencari bekas pondok, pohon-pohon, mata air
bahkan batas ladang yang lama ditinggalkan

Tak ada suara seruling atau denting kecapi
di ladang-ladang mati. Tak ada langkah penyabit rumput
untuk lenguh ternak yang memang tak kedengaran lagi
Tak ada gegas laki-laki turun ke teratak
menyandang sekarung gandum musim panen.

Tapi aku tetap saja berjalan, mendaki
di antara kabut dan duri. Menguak semak-semak dan onak,
penuh debar, bagai menguak cadar perawan
(gadis-gadis kecil sepermainan)
berharap bertemu runcing bukit dan lekuk lembah kenangan.

Terus saja aku berjalan mengikuti desau ilalang
dari jurang ke jurang. Barangkali itulah lembah biru
tempat paling riang dalam hidupku:
yang di dasarnya memancar mata air
tempat membasuh lelah ibu
tempat pernah kugoreskan namaku di batu licin
tempat benih dan bijian tumbuh di subur rahim
tempat ayah berkubur akhirnya di gembur rahim.

Sungguh, semak-semak terasa bergetar
oleh rindu! Bahkan duri-duri terasa akrab
memahkotai diri. Dan aku gemetar, terbayang
semangka curian yang terlepas dari pangkuan
menggelinding liar dan jatuh di batu;
o, merah isinya bagai gelegak darah mudaku
ingin segera pergi mengenal peta baru dari lautan!
(tapi mengapa tak kunjung kukenali kembali
peta lama ladang sendiri di bukit-bukit pesakitan ini?)

wajahku tergores ilalang, bersama kembang
            darah mengalir dari kuntum usia yang hilang
ke dalam jurang. Sadarlah aku, semak bergetar,
bukan karena kilau bayang
            masa silam
tapi gedesau liar babi hutan atau geliat lapar harimau
            kumbang…

aku tersintak, hari hampir malam, atau barangkali matahari
tak sampai ke mari (telah jatuh di laut jauh). Aku tertatih
menyandang ransel sarat beban. Apa yang kau bawa
            penyair letih?
Bertanya aku pada diri sendiri, pada sepi. Apa yang kubawa?

Peta-peta kusam-kelabu. Tak terbaca karena gagu. Sobekan
            layar hilang warna
Pudar disepuh laut jauh tak berberita. Patahan jangkar.
            Bungkulan garam.
Sirip hiu. Moncong todak. Kulit penyu. Bulu camar. Akar bahar.
Kertas-kertas penuh coretan.

Pernah aku berkata, di pelabuhan penghabisan:
“Akan kugenapkan koleksi benda-benda yang kusimpan
serbuk cengkeh dan pala penuh aroma. Minyak nilam.
            Mata cangkul
dari tanah hitam. Bulu enggang. Paruh kuau. Jimat cakar
            elang. Taring celeng
Ketapel. Batu-batu lumutan. Akan kususun jadi bahasa baru
            penuh gema,
meski mungkin hanya aku yang tahu maknanya, aku seorang!”

Karena itulah aku pulang, berziarah. Persetan segala lelah!
Aku toh bisa bersandar di pohon rindang
dekat batu besar (serasa pokok ketapang di pantai, di celah
            karang)
Kelepak elang pulang sarang berselisih kelepak kelelawar
            ke luar kandang,
mengingatkan malam benar-benar akan segera datang
Aku tiba-tiba merasa sendirian, di tengah hutan, di dalam kelam
terasing di tengah tanda dan lambang-lambang
yang belum terumuskan. Sampai-

tanganku yang capai meraba licin lumut, lalu seperti tersesat
di kasat huruf. Aku temukan apa yang pernah kugoreskan:
batu itu menyimpan nama masa kecilku!

Dan segera kukenali kini: bekas pondok lapuk terlantar,
pusara tua, pancuran lama. Lalu, lidahku yang kelu
menyeru-nyeru ibu, “Ibu! Ibu! Kutemukan lembah yang riang
dan kemilau mata airku!”

Bahkan kunang-kunang pun berkilau di tepi hutan
dan semak-semak penuh duri, bercahaya. Aku teringat
bintang-bintang di atas pulau karang, penuh ranjau
Namun tetap kucari kata-kata yang lama hilang
dan kini terdampar di belantara warisan nenek-moyang!

Kutulis lagi mata bajak dan genta sapi
sampai semak kembali bergetar oleh irama yang akrab
            dikenali
bergetar, dalam pusaran angin malam. Bergetar, karena cinta
dan rindu-dendam. Aku pun gemetar, dan diam-diam
            menyorotkan cahaya senter ke tepi hutan;
sepasang mata harimau kumbang
bagai teror di jalan pulang!

Aduh ibu, mengapa teror kembali berulang
di ladang-ladang mati dan jelan penuh duri? Aduh, betapa berat
jalan kembali!

Tiba-tiba sebumbung asap menari dari sebalik bukit
yang lain lagi. Tapi bukan pertanda ladang atau tempat berdiang
yang aman. Tak ada aroma pisang panggang
            dan kelepak enggang
melainkan kobaran api, teror demi teror
melumat kenangan

Dan aku tinggal sendiri, di atas puing ribuan lambang:
menulis dengan abu, puntung dan arang
beserta perih duri-duri
tetap dengan riang…

Rumahlebah, yogyakarta, 2002

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *