Puisi: La Quartal – Hudan Nur

Hudan Nur

: Tanjungpinang

engku putri hamidah disambar pengar ketika
belajar bersolek
dua ribu lima ratus penduduknya
malam itu belum mengenal dempul dan brandmark singapura

: bunga angsoka gugur di pelupuk matanya
barisan bukit menghampar di selatan perkampungan melayu-arab
dari pesisir mengkasar merapat ke tanjungnya
gigir laut menepati janjinya untuk negeri gurindam

engku putri hamidah belajar menyulam di atas sampan
bianglala yang jatuh di beranda pendoponya diragi menjadi
: ruparupa kekalungan
oleh-oleh buat masa depan

di waktu subuh anak-anak mengalir ke air
bakau-bakau menghidrasi pulau-pulau untuk tetap dikremasi
cerita nagari yang membangun masjid tanah liat untuk
pertapaan
: akan kembali ke air

pada masanya engku naik bukit dan turun di sebuah keraton
tua milik saudagar penderma kibutz-kibutz kafilah. engku
belajar nama-nama hari, nama-nama jalan, nama-nama semua
hingga engku duduk di atas tungku.
: kun jadilah menara lingga

Sidera, November 2010

Sumber:  Menuba Laut (Scripta Cendekia, Banjarbaru, 2016).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *