Esai: Ketika Kuntowijoyo Menganalisa Sajak D Zawawi Imron

 Oleh Hasan Aspahani

MENUTUP buku puisi D. Zawawi Imron “Madura, Akulah Darahmu” (Grasindo, Jakarta, 1999), Kuntowijoyo menulis sebuah artikel yang menarik dan baik untuk memahami puisi dan memahami bagaimana kerja seorang penyair menghasilkan puisi. Ada bagian dari artikel itu yang menjelaskan bagaimana menurutnya sajak-sajak Zawawi tercipta.

Mula-mula Kuntowijoyo menjelaskan bahwa menulis nonfiksi (esai, artikel, buku ilmiah), menulis fiksi (novel dan drama) itu berbeda secara kategoris dengan menulis puisi.  Masing-masing punya cara sendiri.

Untuk menulis nonfiksi yang kita perlukan ialah kemampuan analisis. Untuk fiksi kemampuan memaparkan secara diskursif (berurutan).  Dan untuk puisiyang diperlukan adalah impresi (kesan) mengenai sesuatu.

Jika ada yang tak teruraikan lewat nonfiksi, tak bisa diurutkan dalam fiksi, kemungkinan satu-satunya hanya bisa diungkapkan dengan puisi (dan media seni yang lain, seperti musik, tari, dan seni lukis).

Kuntowijoyo menjelaskan rindu, cinta, dendam, ketenteraman, kebahagiaan, keinginan, keterkejutan, kekaguman, kabadian, kebdian, suka, duka, dan sebagainya hanya  dapat diungkapkan dengan tepat lewat puisi.  Oleh karena itu puisi akan kehilangan makna bila diterangkan, bahkan puisi yang diterjemahkan akan mengalami penyusutan makna.

“Saya sebenarnya bukan penyair, yang bersyair sebenarnya alam, kemanusiaan, dan jeritan yang secuil singgah ke dalam hati,” ujar Zawawi pada suatu kali.

Ucapan itu dikutip oleh Kuntowijoyo dan menurutnya itu mempertegas kepenyairan Zawawi yang menulis dengan intuisi . Zawawi menggunakan imaji (citra, gatra, gambar-angan).

Dengan apa imaji ditemukan? Ya, dengan intuisi (ilham) itulah. Intuisi bagi penyair sama dengan inteligensi bagi ilmuwan. Inteligensi dapat dipertajam lewat ilmu-ilmu, sedangkan intuisi lewat penghayatan terhadap kenyataan secara langsung.

Intuisi, menurut Henri Bergson, adalah kemampuan menembus kedalaman objek, dapat melakukan refleksi, dan memperluasnya secara tak terbatas.

Pada titik itulah bisa disimpulkan bahwa sebenarnya cara kerja ilmuwan dan seniman itu sama. Keduanya harus rigorous, cermat.

“Seorang penyair harus cermat, hemat kata, tidak boleh ada kata yang berlebih,” ujar Kuntowijoyo.

Dari sajak-sajak Zawawi, Kuntowijoyo menarik kesimpulan bagaimana proses lahirnya puisi: Pertama, ada impresi, kesan yang mendalam terhadap suatu objek. Objek inilah yang kemudian diangkat penyair menjadi subjek puisinya.  Kedua, melalui intuisinya penyair menemukan imaji-imaji.  Ketiga, imaji itu menjadi referent (rujukan, tunjukan) untuk mengungkapkan sesuatu yang universal.

Begitulah sebuah sajak tercipta. Begitulah seorang penyair bekerja.|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *