Puisi: Celurit Emas – D Zawawi Imron

D Zawawi Imron

roh-roh bebunga yang layu sebelum semerbak itu
mengadu ke hadapan celurit yang ditempa dari
jiwa. celurit itu hanya mampu berdiam, tapi ke-
tika tercium bau tangan
           yang
           pura-pura mati dalam terang
           dan
           bergila dalam gelap
ia jadi mengerti: wangi yang menunggunya di se-
berang. meski ia menyesal namun gelombang masih
ditolak singgah ke dalam dirinya.

nisan-nisan tak bernama bersenyuman karena ce-
lurit itu akan menjadi taring langit, dan mata-
hari akan mengasahnya pada halaman-halaman ki-
tab suci.

celurit itu punya siapa?
amin!

1984

Sumber: Celurit Emas (Bintang Surabaya, Surabaya, 1986)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *