Puisi: Hai, Ma! – Rendra (1935-2009)

Rendra (1935-2009)

Ma!
Bukan maut yang menggetarkan hatiku,
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya
dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam
aku menjalani lorong panjang
tanpa tujuan kemana-mana

Hawa dingin
masuk ke badanku yang hampa,
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang
menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan
kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran,
Tidak ada perasaan,
Tidak ada suatu apa.

Hidup memang fana, Ma!
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada.

Kadang-kadang
aku merasa terbuang ke belantara
dijauhi ayah bunda
dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar
Aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar

Mereka merobek-robek buku
dan mentertawakan cita-cita

Aku marah, Aku takut,
Aku gemetar,
Namun gagal menyusun bahasa.

Hidup memang fana, Ma.
Itu gampang aku terima,
Tetapi duduk menekuk lutut
sendirian di savana
Membuat hidupku tak ada harganya.
Kadang-kadang,
aku merasa ditarik-tarik orang
kesana kemari
Mulut berbusa
sekadar karena tertawa
Hidup cemar
oleh basa-basi
Dan orang-orang mengisi waktu
dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan
Atau percintaan tanpa asmara
Dan senggama yang tidak selesai.
Hidup memang fana,
tentu saja, Ma.
Tetapi akrobat pemikiran
dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
Lalu mendorong aku menjerit-jerit
sambil tak tahu kenapa.

Rasanya setelah mati
berulang kali,
Tak ada lagi yang mengagetkan
di dalam hidup ini.

Tetapi, Ma,
setiap kali menyadari,
Adanya kamu di dalam hidupku ini
Aku merasa jalannya arus darah
di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja
Sukmaku menyanyi
Dunia hadir
Cicak di tembok berbunyi
Tukang kebun kedengaran
berbicara kepada puteranya
Hidup menjadi nyata
Fitrahku kembali.

Mengingat kamu, Ma,
adalah mengingat kewajiban sehari-hari.
Kesederhanaan bahasa prosa,
keindahan puisi-puisi.
Kita selalu asyik bertukar pikiran, ya, Ma!
Masing-masing pihak punya cita-cita.
Masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata
Hai, Ma!
Apakah kamu ingat
Aku peluk kamu diatas perahu
ketika perutmu sakit?
Dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu.
(Masya Allah!
Aku selalu kesengsem
pada bau kulitmu!)
Ingatkah?
Waktu itu aku berkata
Kiamat boleh tiba,
Hidupku penuh makna!

Wah, aku memang tidak rugi
ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak,
Aku juga merasa bahwa
kemarin dan esok
adalah hari ini.

Bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar,
langit di badan,
bersatu dalam jiwa

Sudah ya, Ma!

Sumber: Horison, No. 3, Tahun XXVIII, Maret 1994

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *