Puisi: Meminang Pamakayo – Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Tukang kebunkah
Atau hanya burung kehi yang bisa menyeru hujan
agar turun ke Pamakayo
Aku akan mendaki
Agar kutemukan untukmu pematang-pematang batu penuh ilalang
bukit jurang,
beras padi merah,
sulur-sulur jewawut mengejang
di lereng-lereng beralas karang rengkah

Tak ada perigi di sana
Tapi aku mendengar suara orang menimba
Aku melihat tujuh ekor merpati datang dari pusar cakrawala
Lalu mengambil air yang tersembunyi di kebun seorang nenek raksasa

Kata orang
Salah satu dari merpati itu tak dapat lagi kembali
Isi kendinya tumpah dan menimbulkan bah di bumi
Memisahkan daratan menjadi pulau-pulau yang dikelilingi teluk-teluk sunyi

Kata orang juga
Ia dinikahkan dengan seorang manusia
Sebagai hukuman bagi penghuni langit tang telah mencuri air
dari kaki gunung-gunung di Solor Wetan Lema

Sejak itu
Antara langit dan bumi ada sebuah jembatan bianglala
Berasal dari tangis si merpati yang merindukan negeri asalnya di surga

Aku mendaki
Aku singgahi engkau pada pondok-pondok kayu yang ditinggalkan
aroma moke,
darah hewan persembahan,
batu-batu suku mengerang dalam rentak tarian

Bila lelah
Aku akan istirahat di bawah dahan pohon randu yang patah
Agar kudengar apakah
Tunasnya sudah tumbuh untuk memberi kabar baik
Waktu pesta di akhir musim paceklik

Agar kucukupkan untukmu cerita
Di dalamnya aku menitipkan sehelai kawate yang lusuh dan pudar
Sajak-sajak ringan yang kutulis
ketika kapal-kapal bertolak mengulak ombak
di bandar-bandar

Hanya itulah balaku
Hanya itulah ketipaku
Aku tak dapat mengisi bewaya selain sirih pinang
Bahkan sedahnya yang pahit telah tercampur garam

Maka siapakah yang begitu tulus menyeru hujan
agar turun ke Pamayako
Aku mendaki
Aku temui engkau pada surga pohon bidara
Tempat damai bagi bocah-bocah yang memburunya
dengan gembira

Juni 2013

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *