Puisi: Pamflet – Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

50 tahun kemudian, pada tembok hangus itu
masih ada sisa poster dengan kepalan teracung
ke angkasa. Masih terbaca coretan cakar ayam
yang pernah ia bubuhkan dengan tergesa:
“Mereka yang setia pada lapar
adalah kaum revolusioner.”

Kata-kata itu kini tampak konyol dan menggelikan,
bahkan berlebih-lebihan. Tapi masih ia saksikan
orang-orang yang berangkat pagi buta, menempuh rel
dan roda, mengusug tubuh kering tulang-tulang
pada deru dinamo dan logam dan balok kaca.

Ia ingat seseorang pernah membuat nujuman:
“Mereka yang ditindas akan bangkit
dengan palu besinya, ketika lonceng pabrik
tak kedengaran lagi.”

Tapi, di sini, tak ada lagi kabar orang-orang
yang mencuri bantalan kursi, sepatu bot
dan mantel kusam. Tak ada kisah pekerja
malam yang memuntahkan dahak hitam
saat menghitung recehan terakhir.

Tak terdengar lagi kabar orang-orang
berparas merah yang mengacungkan sabit
di antara antrean sedekah dan deretan nisan
dari galian mayat dan tabel kumuh cacah jiwa.

Di sini, 50 tahun kemudian, masih ia saksikan jam
bergerak lamban. Ia dengar langkahnya sendiri
di lorong itu. Ia rasakan nyeri pada pinggul,
bergeser di bangku dan trotoar basah.

Dengan rasa getir yang sama, ia hapus coretan itu
lalu menuliskan: “Tabik pada mereka yang bertahan
pada risalah merah. Mereka yang mengenal komune
hingga tak pernah mati oleh dusta kitab suci.”

2015

Sumber: Kompas, 26 April 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *