Puisi: Bajak Laut – Mas Marco Martodikromo (1890-1932)

Mas Marco Martodikromo  (1890-1932)

“Ha! Ini tanah bagus sekali,
Sudah tentulah kita diami,
Jalan mana yang kita lalui,
Buat merampas tanah ini!”

Begitu berkata bajak laut,
Melihat tanah tumbuh juwawut,
Yang bisa membikin kenyang perut,
Dan bisa juga membikin gendut.

“Baik kita orang mendekati,
Pulo yang bagus tertampak asri,
Berkenalan dengan orang bumi,
Dia oranglah yang mempunyai”

Begitulah kata kepala,
Bajak laut bangsa yang durhaka,
Hendak mendekati di tepinya,
tanah yang penuh harta dunia.

Bajak laut purak-purak dagang,
Barang makanan ditukar uang,
si Bajak Laut merasa senang,
Dan timbul tabiat binatang.

Dia orang bikin huru hara,
Dia melakukan dengan paksa,
Bertabiat seperti raksasa,
Pada orang yang tidak berdosa.

Tuan tanah selalu melawan
Dengan gagah dan keberanian,
Banyak bajak yang ditawan,
Diikat tali seperti hewan

Minta dame kepalanya bajak,
Dengan berjanji yang enak-enak,
Asal temannya tidak dirusak,
Ditendang dipukul atau didupak.

Tuan tanah menuruti
permintaannya dengan berjanji
Tiada boleh berlaku keji,
kepada semua orang bumi.

Bajak laut pun sudah menurut
Berkata “baik” dan manggut-manggut,
Bersanggup tidak membikin kalut,
Semua prentah akan menurut.

Tuan tanah pun sudah mendengar,
Dia punya janji yang keluar,
Dia diberi makan sekedar,
Oleh orang bumi yang tak besar,

Kamu boleh berdiam di sini,
“Kamu menjadi sahabat kami”
Kata kepalanya orang bumi,
Yang dermawan lagi bermurah hati,

Kepala di situ menyiarkan,
Kepada orang yang dibawah kan,
Orang asing sudah diijinkan,
Bertempat tinggal di desa Bantan.

Semua irang bumiputra,
Menganggapnya seperti saudara,
Boleh berlaku dengan merdika,
Tapi jangan membikin duraka

“Di sini banyak orang sabrang,
Mareka itu sama berdagang,
Dia hidup dengan kita senang,
Hidup rukun tidak dengan perang.”

Begitulah berkata tuan tanah,
Pada bajak laut yang menyerah,
Karena dia orang sudah lemah,
Dia pun sudah mengaku kalah.

Bajak laut berdaya upaya,
Bersepakatan dengan temannya,
Supaya jadi kepunyaannya,
Itu tanah yang bagus dan kaya.

Bajak laut mengirimkan surat,
Kepada temannya yang mof’akat,
Yang misih ada di tanah melarat,
Minta senjata dan obat obat!!

Pekakas perang sudah sedia,
guna merampas tanah yang kaya,
Dan yang punya dibikin binasa,
Supaya tanah jadi miliknya.

Banyak orang yang sama dibunuh,
Oleh si bajak yang jadi teguh,
Di tanah ini menjadi rusuh,
si bajak laut menjadi musuh.

Orang bumi banyak yang melawan
Menyerang keras mati-matian,
Sudah tentu banyak kerusakan,
Banyak orang sama di tawan,

Kepada orang bumi yang takut,
Lebih senang marika menurut,
Kehendaknya bajak-bajak laut.
Maskipun temannya kalang kabut.

Banyak orang bumi yang tak sukak
Turut kepalanya yang mengajak,
Berdamai dengan si bajak-bajak,
Dia tak sukak menjadi budak.

“Lebih baik kita orang mati,
Dari pada kita menuruti,
Kehendak bajak yang amat keji,
Begitu kata orang yang berani.

Si kepalanya mencari akal,
Supaya temannya tak menyangkal,
Menurut kehendaknya yang nakal,
Buat menurut bajak yang brutal.

Kepalanya orang bumi,
Tidak memikir di belakang hari
Cuma memikir diri sendiri,
Hidup besar dan berasa mukti.

Marika itu kena dibujuk
Oleh temannya yang sudah mabuk,
Pangkat besar, payung kuning, kuluk,
Itu barang tanda dia takluk.

Dia takluk pada bajak laut,
En toch mengaku orang yang ketua,
Merentah bangsanya yang menurut,
Sabetulnya dia si pengecut.

Si bajak laut tinggal tertawa,
Karena dia bisa memerentahnya,
Orang bumi yang jadi kepala,
Juga di pandang seperti Raja,

Si bajak laut menanam pengaruhnya,
Pada orang yang di bawahkannya,
Agar dia gampang dipijatnya,
Dan merampas harta bendanya,

Banyak orang tidak mengerti,
Tipu muslihat yang mengenai,
Kepada semua orang bumi,
Sebab tak berpikir dalam hati.

Dari itu orang-orang bumi,
Hidup melarat setengah mati,
Dia bekerja seperti sapi,
Cuma mendapat uang setali.

Si bajak laut menjadi gemuk,
Uangnya banyak bertumpuk,
Hasilnya banyak tinggal menggaruk,
Saban hari musti main mabuk.

Apa kabar orang bumi situ?
Banyak yang menguli memikul batu,
Badannya rusak hatinya pilu,
Pikiran bingung menjadi dungu.

Saban hari bertambah tambah,
Bangsa bajak yang datang mitenah,
Di tanah itu yang amat murah,
Mencari makan tak dengan susah.

Jangan tanya lagi orang bumi,
Bertambah sussah mencari nasi,
Sebab tanahnya yang keluar padi,
Banyak yang sama di juali.

Untung sekali si bajak laut,
Pinter menipu bisa memukul,
Supaya dia bisa menurut,
Perentahnya yang tiada patut.

Bajak laut semangkin kuat,
Penjagaannya pun sudah rapat,
Bertambah pinter pat pat gulipat,
Sampai marika itu bersambat.

Dua sambat-sambat minta makan,
Kerna dia sudah kelaperan,
Dan dihinakan seperti hewan,
Oleh bangsa orang pemabukan.

Bajak laut tak memperdulikan,
Sambatnya orang yang kelaparan,
Si bajak selalu meneruskan,
Mengisap marika sampai pingsan.

Maka hal ini harus dipikir,
Akan gunanya merobah takdir,
Supaya kita bisa mengusir,
Manusia bangsa orang…..

Semarang, 23-12-18

Sumber: Sinar Hindia, 23 Desember 1918.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *