Puisi: Pandangan Elang – A Muttaqin

A Muttaqin

Bangsatlah para serigala yang mengajar perang
kepada kabilah-kabilah satwa di hutan sana.
Bangsatlah celeng-celeng yang mengajar rasa rakus
kepada sekalian satwa yang gampang mampus oleh lapar
Telah kutinggal kubu-kubu burung itu melanglang ke padang pasir
supaya aku tahu rahasia gurun dan angin dan gunung dan lautan.
Kutempuh cara demikian lantaran aku ingin ketemu ilmu makan
yaitu makan sekadar ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Singa dan ular telah uzlah ke goa-goa gelap supaya mereka
tahu rahasia cahaya yang membuat mata mereka tetap peka
pada warna dan rasa. Dari singa dan ular itu aku tahu, gajih
adalah bala yang membuat sayap dan kaki burung betah di tanah
Mengapa burung-burung itu tak bersabar menunggu aku
pulang dari tualang panjang  dan mengajarkan pada mereka
laku kura-kura tua yang telah menempuh banyak jalan
dan mengikhlaskan dagingnya untuk melunaskan puasaku?
Mereka malah bertarung antar-sesama bangsa burung dan
mengurung dendam yang dikandung sampai ke indung telur.
Tidak. Jangan diteruskan. Sungguh yang demikian  itu adalah
aniaya bagi roh burung-burung yang merenung di pohon sidrah.
Apakah kalian ingin seperti burung unta yang berlari
dan terus berlarian sambil menyembunyikan kepala,
padahal, sebagai burung, kau diteteskan untuk terbang
dan melihat lekuk-lekuk kami dari ketinggian sana?
(2016)
Sumber: Kompas, Sabtu, 10 Desember 201

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *