Puisi: Sama Rasa dan Sama Rata – Mas Marco Martodikromo (1890-1932)

Mas Marco Martodikromo (1890-1932)

Syair inilah dari penjara,
Waktu kami baru dihukumnya,
Di Weltevreden tempat tinggalnya,
Dua belas bulan punya lama,

Ini bukan syair Indie Weedbaar,
Syair mana yang bisa mengantar,
Dalam bui yang tidak sebentar,
Membikin hatinya orang gentar,

Kami bersyair bukan kroncongan,
Seperti si orang pelancongan,
Mondar mandir kebingungan,
Yaitu pemuda Semarangan,

Dulu kita suka kroncongan,
Tetapi sekarang suka terbangan,
Dalam S.I. Semarang yang aman,
Bergerak keras ebeng-ebengan.

Ini syair nama: “Sama rasa”
“Dan Sama Rata” itulah nyata,
Tapi bukanlah syair bangsanya,
Yng menghela kami di penjara.

Didalam penjara tidak enak,
Tercere dengan istri dan anak,
Kumpul maling dan perampok banyak,
Seperti bangsanya si pengampak.

Tapi dia juga bangsa orang,
Seperti manusia yang memegang,
Kuasa dan harta benda orang,
Dengan berlaku yang tidak terang.

Ada perampok alus dan kasar
Juga perampok kecil dan besar,
Bertopeng beschaving dan terpelajar
dengan berlaku yang tidak terang.

Dia itulah sama perampoknya,
Minta orang dengan laku paksa,
Tidak mengingat kebangsaannya,
Bangsa manusia di dunia.

Hal ini baik kami kuncikan,
Lain hal kami bicarakan,
Perkara yang mesti difahamkan,
Dan akhirnya kita melakukan.

Banyak orang yang mengetahui,
Dua kali kami kena duri,
Artikel wetboek yang menakuti,
Juga panasnya seperti api.

Kaki kami sudah sama lukak,
Kena duri yang kuincak-incak,
Juga palang-palang yang kudupak,
Sudah ada sedikit terbukak,

Haraplah saudaraku di tendang,
Semua barang yang malang-malang,
Semua kita berjalan senang,
Ke tempat kita yang amat terang.

Buat sebentar kami berhenti,
Di jalan perempat tempat kami,
Merasakan kecapaia diri,
Sambil melihati jalan ini.

Jangan takut kami putus asa,
Merasakan kotoran dunia,
Seperti anak yang belum usia,
Dan belum bengun dari tidurnya.

Kami sampe di jalan perempat,
Kami berjalan terlalu cepat,
Temen kita yang berjalan lambat,
Ketinggal misih jauh amat.

Kami berniat berjalan terus,
Tetapi kami berasa aus,
Adapun pengharapan tak putus,
Kalau perlu boleh sampe mampus.

Jalan yang kutuju amat panas,
Banyak duri pun anginnya keras,
Tali-tali kami tatas,
Palang-palang juga kami papas,

Supaya jalannya SAMA RATA,
Yang berjalan pun SAMA me RASA,
Enak dan senang bersama-sama,
Yaitu: “Sama rasa, sama rata!”

 

Sumber: Sinar Djawa, 10 April 1918

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *