Puisi: Di Padang Rumput – Yogi (1896 – 1983)

Yogi (1896 – 1983)
Di Padang Rumput

(Nyanyian untuk Anak Gembala)

 

Di waktu rembang tengah hari,
Sedang terpijak bayang-bayang
Panas yang amat terik, melesukan tulang,
Maka segala ternak di padang rumput – pergilah
mencahari tempat pernaungan,
Anak-anak gembalanya bernaunglah di bawah pohon
yang rindang,

Duduk bersandar dengan perasaan sunyi
Dengan mata yang mengandung cinta kasih;
Memandang, memperamati binatang piaraannya,
Bernyanyilah ia dengan hati yang gairah;
Katanya:

o, ternak, cinta kasihku,
Makanlah rumput di padang luas;
Kalau kauturut segala nasihatku,
Setiap waktu kehendakmu puas.

Jangan masuk ke hutan rimba,
Nanti diterkam binatang garang;
Bermanja-manja janga kaucoba,
Agar kautidak kebencian orang.

Suh, suh, jangan ke situ,
Nanti dikait, onak dan duri;
Makanlah nugerah Tuhan yang Satu,
Besar manfaatnya kepada “diri”.

Jangan naik ke tubir gunung,
Nanti terjerumus ke lembah jurang;
Sebarang kerja baik kau renung,
Supaya kesengsaraan jangan menyerang.

Jangan masuk ke kebun orng,
Manusia konon banyak yang bengis;
Jika tubuhmu terkena parang,
Engkau menderita, aku menangis.

Perlak orng jangan masuki,
Siapa tahu engkau dilemparnya;
Engkau menderita, salah sendiri,
Karen tertipu, di tanaman mudanya.

Kelakuakn “Si Puntung” jangn ditiru,
Sepanjang kala banyak sengsara;
Wahai kekasih, dengar nasihatku,
Dunia penuh bermara-bara.

“Si Benuang” konon kerbau tertua,
Banyaklah sudah menaruh pengalaman;
Ia mengecap bahagia dunia,
Sebab sabar, lagi beriman.

Sifatnya itu, baik teladan,
Gagah berani, lagi setia;
Pikirannya luas sebagai medan,
Di dalam dunia limpah bahagia.

Hidpnya bebas tiada terkira,
Tak suka merompak kebun dan ladang;
Baginya tak perlu undang negara,
Hatinya suci, matanya bendang.

Wahai sahabat yang kucintai,
simpanlah nasiha dari pelindungmu;
Ingatlah kodrat Tuhan Ilahi,
Agar sentosa selama hidupmu!

Sehabis nyanyi cateri padang rumput itu,
Nyanyian yang kelur dari rongga hatinya,
Bisikan dan sukma, getiran nyawa,
Nasihat dan seruan dari seorang pelindung,
Maka sunyi senyaplah daerah itu…
Segala ternak habis terteku,

Asyik dan insaf lagu yang merdu itu,
Seakan murid mendengar sabda Maha Guru,
Maka dikibas-dikibaskannyalah ekornya sebagai tanda
berjanji akan memegang perjanjian itu.

Sumber: Pujanggan Baru (H.B. Jassin, 1963; dari Puspa Aneka).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *