Puisi: Mahakam – Irianto Ibrahim (l. 1978)

Irianto Ibrahim (1978)

Mahakam

1/
bahkan kukira kau tak ingin
menjelaskan sedikit pun tentang kemarau
apalagi ketika tanah dan daun meretak
burung-burung merendah
kau malah bicara tentang bahasa angin
dan menafsir potongan senja

sebab Mahakam telah merekam
segala yang meriak dalam diriku
dan badai sudah menggenang dalam matamu
maka kumohon, jangan
pergi!

2/
berapa kali sudah
kau bersua sepi di sini
jalan-jalan lengang
dan suara-suara kau biarkan ebralalu
ada cerita dan nada perih
yang menganga
menunggumu di sini
di balik tirai
yang tak pernah mengenal kata
mati

3/
mengapa pada salak anjing kau titip perih
apakah kabut bagimu hanya bermakna duka
sementara embun telah kau lepuhkan
menjadi lidah-lidah api?

berkali-kali sudah aku bersua sepi di sini
menunggui malam yang selalu karam
menandai bandul waktu yang menggerutu
di antara sayup senyap percakapan bintang
dan desau nafas butir-butir angin
yang memanggilku kembali.
ayo pulang, katamu.

Samarinda, 2007

Sumber: Buton, Ibu dan Sekantong Luka (Framepublishing, Yogyakarta, 2007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *