Puisi: Sketsa Bulan Retak di Atas Ranjang – Galih Pandu Adi (1987)

bilamana bulan meretak, lalu kuhirup itu pendar cahaya
keperakan dari ruas-ruas dadamu. ada yang menyesak dan
penuh di paru-paru. sedang kau memang tak pernah cukup
dalam puisi, dalam halaman-halaman buku yang menulis
namamu namaku untuk kesekian kali.

“dinding-dinding kamar dan ranjang ini memang telah
terlampau basi,”ucapmu.

“bagaimana dengan tikaman belati itu, sayang?
apakah cukup untuk sekedar mengenal
betapa dendam dan rindu adalah hal paling nisbi?”
bisikku
sembari menggeliat erat menyusuri punggung pundakmu.

kaupun tahu bagaimana malam telah berubah menjadi mata panah
yang melesap cepat dan meruncing tajam dalam kepala kita.

lalu derik udara menjadi begitu sepi,
ada yang berdenging dan membuat kita terus berpusing
menekuri debu-debu yang disisakan ranjang itu
tempat segala dendam dan rindumu menetes
membentuk peta sungai
menderas,
melarungkan batang-batang doa
yang beranak-pinak di garis-garis mata
lalu muara biru bernama laut itu tercipta
menyelimuti tubuh kita dalam ombak,
dalam sesak yang menggeliat
melempar bilangan-bilangan almanak
menyeret nama-nama pada kedalaman paling tua
di dada kita

selebihnya, dermaga sepi di garis tanganmu selalu memaksa
perahu dari tulang punggungku kembali, melambat ke tepian,
melempar tali pancang dan tertambat untuk kesekian kali.

sedang ingatan adalah mata logam paling runcing yang
menajam sampai retak bulan itu. garis-garisnya membentuk
peta wajahmu.
melesap lindap cahayanya,
kita hirup
penuh dan sesak.

“setelah ini adakah yang disisakan waktu untuk kita, sayang?”

selain rindu dan dendam yang terus membatu meruntuhkan
puing-puing tubuh kita pada bau busuk masa lalu. dan logam-
logam itu terus berjatuhan dari langit malam paling sialan. saat
tak lagi kutemui kau sebagai kekasih, sebagai laut paling dalam.

Semarang, 2010

Sumber: Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat; Kendi Aksara, Yogyakarta, 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *