Puisi: Perawi Rempah – Ahmad Yulden Erwin (l. 1972)

Ahmad Yulden Erwin
Perawi Rempah

1

Minggu pagi menggigil di sayap burung undan, seperti ratusan
minggu pagi lainnya, menyusun sesatu kenangan. Kau mencari
beberapa onggok pulau di Timur dengan wangi cengkih tertiup
angin muson, dan kelasi itu berteriak, ‘Surga telah ditemukan!’

Ketika itu di anjungan, kau nampak berdiri menatap selengkung
ombak biru, setapak jejak sepatu mengutuk layar kapalmu; kini
kaubayangkan putri duyung berbau pala di ranjang kabut pagi,
kaubayangkan lidah jahe menjilat ususmu. Saat itu angin mati,

separuh kelasi lapar dihajar kudis. ‘Bunuh saja aku!’ gerutumu.
Lalu kaukenang janjimu, atau mimpi buruk itu: berkarung lada
dan kapulaga bagi tumbung gurita raksasa saat kembali, delapan
tentakelnya membelit sepeti koin emas, tentu saja bajingan itu

keranjingan menuntut balas andai tiada kautebus amis mulutnya
dengan kayu manis, plus bebiji lada, dari ladang rahasia. Maka,
demi berkah Yesua, kauburu rempah sepanjang bandar antik dan
teluk Afrika: ‘Meski badai mendampar kami ke tengah pasifik.’

‘Surga telah dihamparkan!’ kelasi itu kembali berteriak, ombak
mencium wangi tangkai cengkih di puting pelangi. Kau terjaga.
Bagai tak percaya kaugosok kedua matamu di bawah alis pagi:
Yesua telah berbaring nudis di pantai sunyi. ‘Haleluyah!’ Alangkah

bahagia: kau tengah menapak di pasir pantainya. Tentulah wajar
bila kaupungut bebulir hitam terserak di sana, surga akan selalu
berlimpah. Pantaslah tamak-tamak kauisi palka kapalmu dengan
bebiji rempah. Beginilah hikayat Nusa Permata sebelum dijarah.

2
Sesayat mimpi bersama irisan daging kering, kutu dan belatung
pasti lebih dulu menyantapnya, begitu sarapan bagi para kelasi
hingga makan siang dan makan malam mereka; sesayat mimpi
demi setimbun rempah eksotis di pulau tropika. Mereka bukan

awak perompak Selat Malaka, mereka lanun penggila misteri,
juru selamat kaum kafir dari ketel neraka. Tiada gentar mereka,
sebab wahyu telah mekar di ladang nyali musim dingin Eropa,
sebab tukak dihangati lada, sebab tafsir tertera dalam sabdanya:

Setiap sebiji rempah kaurampas di tanah ini akan menjelma doa,
sebab misi sempurna, resah tiada, kaulah wakil kerajaan Bapa.
Di pantai itu kau berdoa: ‘Undanglah kami, O Yesua, mencicipi
lezatnya gurita, beraroma rempah, semeja-hidang Ratu Sheba.’

Fakta cogito akhirnya, bukanlah Yesua undang kalian, melainkan
diseret tentara Sultan: ‘Kalian babi bulai pencuri pala petani!’
Randai beriring mereka digiring ke halaman istana; menanting
aneka piring, panci, kuali dan peralatan makan lainnya –– juga

kompas juru peta, juga Kidung Cinta Salomo penakluk dunia:
kuasa gaharu di hidung surga. ‘Kenapa Tuan Nakhoda curi itu
bebiji pala?’ murka Sultan Boalief. ‘Sebab di sini tanah Yesua,
segala bole dipungut seturut kami suka,’ singut Tuan Nakhoda,

sejenak kecut, ditatapnya merah jambul kasuari di pici Sultan
dandan Persia. ‘Di Nusa Tarnate orang bole ambil segala suka,
andailah bisa Tuan ganti kami punya!’ Ciutlah nyali nakhoda,
bekal segala habis di Sunda Kelapa, hanya jubah lusuh dan zirah

besi miliknya semata. Cemas oleh gagal akan misinya, pias akan
cekik delapan tentakel gurita, ia letakkan sarung belati dan kitab
suci di duli kaki Sultan Tarnate, ‘Habis kini harta tersisa.’ Haru
sebab siasah begini, setengah tertawa, Sultan berbagi jatah pala.

3

Mereka membangun benteng kecil di tengah padang ilalang,
sebelum kaum kafir itu mengayunkan pedang, sebelum tarian
bumbung hantu dikepung tabun perang. Cuaca melesit langit biru
jadi kelabu, disorot gahar sebiji mata kucing lapar. Dagumu naik,

sedikit bergetar, lekas meracau kalimat jemu, ‘Salju tak laik ada
di lekang pulau tropika.’ Kecuali batu dan kepulan debu, musim
kemarau menyulut pasukan Tidore membakar benteng kecilmu,
melampuskan segenap harapmu; begitulah kauputuskan segera

menikahi gadis coklat itu, pentil sepasang teteknya berbau pala.
Jadi, diam-diam kautakik tradisi membenci, melawan nasibmu
sembari berburu babi, begitu jelas taktik paling minim, sebelum
fajar kaukirim sepucuk surat itu, sebelum datang penjarah baru

melocok senapan dengan mesiu; terayun dari moncong buaya
ke taring singa, begini nasibmu terbantun dikutuk aroma rempah
serupa kemaruk busuk mulut gurita. Tiada Yesua di pantai surga,
tiada Bapa, kecuali sepasang beruk keling memanjat sebatang

pohon Cockyane tumbuh subur di ranah mimpimu, mereka kawin
dan berpinak di sana, merekalah moyang segala penjarah terkeji
di muka bumi, pelahir jadah-jadah sinting sejarah, penghasut
jenial cacing-cacing pita penafsir vagina-kedamaian paling suci;

‘Jadi begini saat paling tepat buat pembalasan, bukan?’ Begitu
kaucatat dalam suratmu ke Lisbon, usai perjanjian paling oon
membelah bumi semata milik dua kerajaan –– seekor paus putih
resmi melontarkan restu dari moncongnya menganga kelaparan

melahap segala plankton, ubur-ubur, plus ganggang beracun;
teritip di lambung kapalmu makin mengganas, kau tak berharap
bisa kembali, jadi kauputuskan wajib menjarah dan membantai
sepulau penduduk surga ini, meski Yesua mesti disalib dua kali.

Sumber: Perawi Rempah – Kumpulan Puisi (1994-2018)⁣ , Penerbit Lampung Literature, 2018.

Catatan:

  1. Cogito: aku berpikir; prinsip filsafat Descartes.
  2. Bole: boleh.
  3. Oon: dungu.
  4. Gahar: garang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *