Anekdot: Haji Kok Gondrong? Dikepang Pula

Oleh Doddi Ahmad Fauji

SUATU hari di sebuah seminar. Ada waktu jeda dalam sesi tanya jawab. Untuk mengisi kekosonganitu, moderator bicara ke sana ke mari. Wan Anwar (alm) memang pencerita yang baik. Namun kali ini, hanya mengisi waktu, dan kembali bertanya, “Barangkali sudah ada ide untuk ditanyakan?”

Akhirnya ada juga mahasiswi yang angkat tangan. Lalu dipersilakan.

“Kenapa Bapak yang sudah al-hajj kok memanjangkan rambut, dan rambutnya dikepang?”

Sutardji juga manusia, ada kalanya ingin modis. Tapi ya begitu, modisnya penyair malah jadi nyentrik.

SCB menjawab.

“Perlu diketahui, para Nabi itu gondrong. Silakan cari poster Yesus yang rambutnya kelimis. Pasti gondrong. Alasannya, mungkin belum ada gunting cukur saat itu”.

“Kata Nabi, barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu. Nah, aku ini memanjangkan rambut, biar masuk ke dalam kaum Nabi”.

“Soal dikepang, ini alasan praktis saja. Kasihan malaikat kalau rambutku tidak dikepang. Kalau aku solat lalu sujud, nah rambut itu menutupi wajah… Malaikat harus mendekat untuk memastikan siapa yang sedang solat”.

Tapi dengan dikepang begini, saat sujud, rambut itu jatuhnya ke pinggir, tidak menutupi wajah. Dari jauh pun malaikat mengenalku… Oh Tardji toh yang sedang solat.”

Begitulah, Tardji juga manusia, adakalanya berkelakar, menjawab pertanyaan sambil ketawa-ketawa.

Doddi Ahmad Fauji, penyair menetap di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *