Anekdot: Presiden SBY dan Presiden Penyair


Oleh Doddi Ahmad Fauji

SAYA termasuk hobi ngoceh, dan karena itulah sepertinya, alasan panitia menunjuk saya jadi MC, saat Koran Jurnas berulang tahun, salah satunya membuat panggung Mimbar Penyair. Acara ini akan dihadiri dua presiden, yaitu Presiden SBY dan Presiden Penyair Indonesia.

Ini tahun 2007, di mana saya diminta panitia untuk menghubungi sekian penyair dan pejabat, sekaligus pejabat yang penyair. Walikota Sabang diundang untuk baca puisi, juga Bupati Merauke, serta Walikota Tanjungpinang Suryatati A. Manan.

Singkat cerita, acara dimulai. Hadirin dipersilakan berdiri. Presiden Republik Indonesia, Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu, akan memasuki gedung pertunjukan.

Semua berdiri. Semua? Tidak! Ada satu orang yang tidak berdiri.

Tepat ketika SBY lewat, orang yang duduk itu baru berdiri, jadi pergerakannya terlihat oleh Presiden SBY.

Dan tergelarlah dialog yang tak akan pernah saya lupakan ini.

“Hei, Bung, apa kabar?” tanya Presiden RI.

“Baik, situ gimana kabarnya?” Presiden Penyair balik bertanya.

“Alhamdulillah baik juga. Ke mana saja?”

“Ada, situ kemana saja?” Presiden Penyair balik bertanya.

“Ya kalau tidak ada tugas, saya ada di rumah. Mainlah sesekali ke Istana.”

“Apaan main ke Istana, susah mau masuknya, pake dijaga-jaga segala. Situ saja yang main ke TIM.”

“Baik, nanti saya akan berkunjung ke TIM.”

Setelah mendengar obrolan itu, saya baru percaya, bahwa SCB memang Presiden!

One thought on “Anekdot: Presiden SBY dan Presiden Penyair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *