Esai: Budi Darma tentang Penyair yang Benar-benar Penyair

Budi Darma tentang Penyair yang Benar-benar Penyair
Oleh Hasan Aspahani

SEBUAH diskusi digelar di Surabaya, pada 11 Juli 1972. Budi Darma membentang makalah dalam diskusi Apresiasi Sastra Dewan Kesenian Surabaya itu. Ia membahas buku puisi Goenawan Mohammad “Pariksit” yang saat itu baru terbit.

Budi Darma membuat kerangka pembahasan yang kuat dan relevan yang bisa dijadikan landasan untuk membahas buku puisi manapun dan penyair siapapun. Berikut ini saya sarikan apa yang dibentangkan olehnya dalam diskusi itu.

  1. Buku puisi harus menjadi gambaran dari perkembangan karya penyair dalam kurun waktu penciptaan tertentu, bahkan gambaran penyairnya sendiri.
  2. Dari buku puisi bisa dilihat apakah seorang penyair hadir secara utuh dan bulat sebagai penyair, kebulatan yang dimiliki oleh penyair-penyair yang betul-betul penyair, bukan seseorang yag hanya bisa menulis puisi.
  3. Puisi, mengutip T.S. Eliot, adalah bentuk yang paling terorganisasi dari aktivitas intelektual. Kutipan ini mengoreksi juga melengkapi apa yang disadari dan digemari sejak lama di Indonesia bahwa puisi adalah getaran sukma.
  4. Bagi seorang penyair, intelektualitas tanpa bakat alam tidak mungkin bisa menulis puisi dengan baik. Penyair yang baik, adalah dia yang mengutuhkan, dan mencapai kebulatan yang menyatukan kedua hal itu di dalam dirinya.
  5. Menyadari dan menjalani aktivitas berpuisi sebagai kegiatan intelektuil adalah pil pahit yang harus ditelan oleh siapapun yang ingin menjadi penyair yang benar-benar penyair.
  6. Di satu sisi harus dikerahkan dan dinyalakan bara logika sebagai balatentara intelektualisme, di sini lain ia harus mengguyur bara itu dengan gelora perasaannya.
  7. Penyair yang baik adalah dia yang selamat, artinya dia tetap keluar dari perang saudara dalam dirinya itu dengan puisi yang baik.
  8. Penyair dengan bakat alam dan intelektualisme ibarat seseorang yang mengelola dua kepala yang masing-masing punya otak yang lengkap. Pertama kepala penyair, kedua kepala yang pandai menyalurkan ide-ide cemerlang, kepala seorang esais.
  9. Seorang penyair yang lain adalah seorang esais yang baik (mengutip Abdul Hadi W.M., Sinar Harapan, 26 Juni 1972). Esais membarakan logika secemerlang mungkin, penyair harus mengguyur bara logika itu dengan getaran sukma.

Dengan sembilan tolok ukur itu Budi Darma menilai, Goenawan Mohamad adalah penyair yang benar-benar penyair. “Inilah yang saya lihat pada Goenawan Mohamad: bersatunya intelektualisme dan bakat alam, yang sekaligus membulatkan dia sebagai penyair,” kata Budi Darma.

Sumber: Sebuah Soliluqui Mengenai Goenawan Mohamad (Horison, Tahun XII, No. 2, Februari 1977)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *