Esai: Tentang Seni – Arief Budiman (1941-2020)

Pengantar: Esai ini bagi kami klasik dan penting sebagai fondasi pemikiran tentang seni, teknologi, dan manusia. Kami menaikkannya di sini sebagai kenangan atas penulsnya Arief Budiman (kalau itu masih memakai nama Soe Hok Djin) yang hari ini, Rabu (23/4/2020) meninggal. Artikel ini dimuat di Horison Edisi 5, November 1966. Arief ikut mendirikan majalah tersebut.

Esai: Tentang Seni
Oleh Arief Budiman

Manusia Sebagai
Makhluk Berkebebasan
dan Berkemungkinan

KREATIVITAS adalah kesanggupan untuk melihat kemungkinan yang lebih sempurna dan merealisasikannya. Dalam dunia ini hanya manusia yang memiliki kemungkinan – karenanya hanya manusia yang mungkin kreatif. Untuk melihat hal ini, kita terpaksa terjun ke filsafat antropologi.

Hakikat dari kemanusiaan primer adalah eksistensinya. Dia tidak primer memiliki esensinya yang sudah serba tertentu. Ketika seorang manusia dilahirkan – dia belum menjadi apa-apa. Kata kaum eksistensialis, “Ketika kau berhadpan dengan seorang bayi yang baru dilahirkan, hanya satu ketentuan yang dapat kau katakan tentang bayi itu secara hampir pasti, ialah bahwa dia pada suatu kal akan mati.”1) Hanya itu. Tidak ada apa-apa lagi yang dapat dikatakan tentang seorang calon manusia. Lain halnya bila kita berhadapan dengan seekor bayi hewan misalnya. Seekor hewan, sejak dilahirkan telah memilik esensinya, dia telah tahu fungsi-fungsinya dalam dunia ini. Seekor itik sejak lahirnya telah tahu apa yang harus dimakannya, telah tahu bahwa dia dapat berenang, dsb. dsb. Semua ini telah diatur oleh insting-instingnya. Dia telah memiliki esensinya sebagai seekor itik. Dia telah larut pada alamnya secara hampir sempurna – dan alam telah menggariskan hidup yang akan ditempuhnya nanti.

Tapi manusia seakan-akan retak dari kesatuan dengan alamnya – seakan-akan ada jarak antara dia dengan alam. Dia harus terus mencoba-coba – harus belajar untuk mengetahui dirinya. Dia kurang/tidak larut pada alamnya, seperti halnya seekor hewan larut pada alamnya. Menurut Bolk – manusia lahir kepagian.2) Atau seperti kata Nietzsche manusia adalah “das nicht festgestellte Tier” (binatang yang tidak ditetapkan bentuknya). Sebelum alam mempersiapkan garis terperinci bagi hidup manusia – manusia ini telah datang. Semua yang pada hewan telah sempurna terperinci, pada manusia masih merupakan kemungkinan yang terbuka. Manusia seakan-akan terbengkalai di tengah-tengah alam. Di sinilah letak kekurangan manusia dari pada hewan. Tapi di sini pula letak kelebihan manusia. Karena ini berarti manusia berkebebasan dan berkemungkinan. Heidegger mengatakan: “Manusia bukan saja memiliki kemungkinan tetapi manusia itu sendiri adalah kemungkinan yang bisa membentuk dan memperkembangkan dirinya sesuai dengan keinginannya sendiri.” Sebab itulah pengertian dosa hanya ada pada manusia – pada hewan tidak. Karena manusia adalah kebebasan dan kemungkinan, meskipun ada batas-batasnya.

Manusia terbengkalai di tengah-tengah alam. Ini menuntut dia untuk bangkit dan mengurus dirinya sendiri. Dia harus menjadikan dirinya sendiri sesuatu. Paul Tillich menguraikan keberadaan manusia ini sebagai berikut. Keberadaan manusia tidak hanya sekadar melekat begitu saja pada dirinya, tapi menuntut untuk diberi arti. Dia akan selalu ditanyakan, telah dibuat menjadi apa dirinya. Yang bertanya adalah dirinya sendiri, yang berfungsi sebagai penuntut yang menghadapi dirinya pula sebagai terdakwa.3) Dia harus menjadikan dirinya sesuatu – ini berarti dia harus meletakkan suatu tujuan di mukanya dan bergerak menuju pada tujuan itu. Yang bergerak adalah kenyataan dirinya yang terbengkalai dan belum menjadi apa-apa itu – dirinya yang terbelenggu pada dunia konkritnya. Yang dituju adalah ego-idealnya. Ego ideal ini dibentuk oleh aspek kerohan dari manusia yang dapat bergerak melampaui ruang dan waktu. Di sini lagi letak dualisme manusia: dia adalah suatu keretakan – di dalam dirinya sendiri. Dia seakan-akan dapat berada dalam suatu jarak dengan dirinya sendiri. Dia dapat menangkap dirinya sebagai kwasi objek, di samping dia mengalami dirinya sebagai subjek. Dan sebagai subjek, dia bahkan dapat menuntut dirinya – seperti yang diuraikan Paul Tillich tadi. Dari sini kita dapat mengerti mengapa manusia bunuh diri. Seorang filosof berkata bahwa “manusia adalah hewan yang dapat membunuh diri”. Bunuh diri mencerminkan di satu pihak kebebasan manusia di lain pihak keretakan manusia.

Yang mau saya tekankan di sini ialah aspek kerohan manusia yang dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan formil dunianya. Roh inilah yang kreatif. Dia dapat mengembara ke ruang yang tidak terbatas, mencari kemungkinan-kemungkinan nilai yang lebih sempurna. Dia seakan-akan mendahului gerak kebadaniahannya. Roh manusia ini selalu memproyektir kemungkinannya. Dan roh tersebut akan terus berkembang ke arah yang paling sempurna. Dan karena yang paling sempurna adalah Tuhan, maka kata J.P Sartre, “Manusia bercita-cita untuk menjadi Tuhan”. Kesempurnaan mutlak itu tidak pernah dia peroleh. Manusia adalah seperti seekor kuda yang di mukanya digantungkan rumput – di mana setiap kuda itu bergerak maju, rumput itupun bergerak maju. Sang kuda tak pernah mencapa rumput itu – dia terus bergerak. Ini adalah gerak manusia dalam membentuk dirinya. “Dalam mengada, aku menjadi,” demikian kata J.P. Sartre. Manusia tidak pernah menjadi selesai dan mencapai kepuasannya. Pelukis Pablo Picasso pernah ditanyakan lukisan mana yang pernah dibuatnya yang dianggapnya paling memuaskan dan dia menjawab, “yang akan saya buat”.

Teknologi
dan Seni

Kita telah mendapat gambaran serba sedikit tentang adanya manusia di tengah-tengah alam. Karena terbengkalai, manusia harus membentuk dan menemui dirinya sendiri. Seorang manusia baru mencapai kebahagiaan bila dia menangkap dirinya sebagai berharga, bla dia dapat menegakkan harga dirinya sebagai individu. Dalam psikologi, harga diri telah lama dikenali sebagai dorongan vital bagi kehidupan manusia – justru karena manusia lahir tanpa memiliki esensi. Kurt Koffka menganggap dorongan “untuk mengangkat Ego naik” ini sebagai dasar yang terpenting bagi dinamika manusia, sedang McDougall menganggapnya sebagai “kekuatan yang paling berperan dan berkuasa dalam hidup taraf tertinggi manusia”. 4)

Manusia yang dibengkalaikan oleh alam seakan-akan melakukan pemberontakan. Dalam mencari esensinya dia tidak hanya sekadar menyerah kepada alam – menjadi manusia yang hanya mengikuti impuls-impuls alamiah yang ada di dalam dirinya – tapi dia memberontak dan mengubah alam. Manusia berusaha menjadikan dirinya sebesar-besarnya dan sesempurna-sempurnanya – di mana alam harus mengabdi kepadanya. Dialah kini yang menguasai alam. Bila alam memberikan hal-hal yang kurang praktis bagi hidup, manusia mencari kemungkinan-kemungkinan yang tadinya dirahasiakan alam kepadanya, untuk membuat alat-alat yang lebih praktis. Maka lahirlah teknologi. Manusia di sini menunjukkan bahwa dia sanggup mencari dan menemui sendiri rahasia-rahasia tersebut.

Lahirnya teknologi adalah dari hubungan yang kurang ramah dengan alam – penuh keangkuhan dan sikap-sikap formil. Manusia dalam mengobservir alam tidak lagi bergaul dengan ramah – tapi bersifat memata-matai hukum alam yang dirahasiakan itu. Dapat kita bayangkan wajah yang penuh kewaspadaan dari seorang eksperimentator yang sedang membedah dada seekor anjing dan memperhatikan gerak di jantung anjing tersebut, atau seorang sarjana ilmu alam yang sedang memperhatikan gerak elektron yang timbul pada logam yang diberi arus listrik- alam seakan-akan secara defensif berusaha menyembunyikan rahasianya sedang sang sarjana secara aktif berusaha mengeksploitirnya.

Manusia adalah sebagian dari alam. Dia hanya dapat menangkap dirinya dalam hubungannya dengan alamnya. Sikap berhadapan dengan alam secara formil tidak akan dapat menghasilkan tanggapan tentang alam secara sejati, di mana keduanya saling menutup diri. Karya-karya teknologi tidak mengekspresikan alam – karenanya tdak mengekspresikan manusia. Dia lebih-lebih mengekspresikan kemenangan manusia terhadap alam – tapi ini justru yang membuat manusia makin terasing dari kenyataan dirinya sebagai bagian dari alam, karena dalam teknologi manusia tidak berhubungan dengan dirinya sebagai suatu pribadi.

Seni adalah hasil pergaulan manusia secara ramah dengan alam. Dia mengembalikan lagi hubungan pribadi manusia dengan alam. (Lihat karangan saya: Manusia dan Seni, Sastra 1963). Dalam seni manusia akan menangkap dirinya sebagai individu, seperti yang akan teruraikan dalam uraian selanjutnya. Dalam seni, terus berhubungan dan membentuk dirinya – manusia terus bertemu dengan dirinya.

Dorongan-Dorongan
Individuil Dalam
Menciptakan Seni

Dalam teknologi manusia mengambil jarak dengan alam dan memagari dirinya dengan sifat-sifat kebadaniahannya. Dia memecahkan kesatuan dirinya dengan alam – seakan-akan dar suatu gerak arus alam, manusia tersebut keluar dan menghentikan gerak itu. Alam dalam keadaan berhenti itu dan dalam situasi yang berjarak itulah yang ditangkap oleh teknologi. Karenanya manusia tidak mengekspresikan dirinya dalam teknologi. Karena alam yang ditangkap bukan lagi alam yang sesungguhnya, alam yang bergerak di mana untuk menangkapnya kita harus selalu terjun ke dalam gerak itu. Yang ditangkap hanyalah sekadar momen-opname dari alam yang bergerak dan itu adalah tidak representatif, demikian Bergson.

Seorang seniman, ketika berdiri seorang diri dalam kegelapan kota Jakarta memandang jauh ke arah jalan raya yang terbuka di hadapannya dengan lampu-lampu gedung yang gemerlap di tepinya, merasakan tiba-tiba sesuatu yang ditangkap rohnya yang kemudian membuat rohnya ikut berpartisipasi dengan gerak alam itu. Inilah yang disebut Jacques Maritain sebagai gerak Puisi, yang dirumuskannya sebagai “pertemuan dunia dalam dari benda-benda dan dunia dalam dari manusia – suatu dialog rahasia dan tidak bersuara”.5)

Suasana yang punya nilai estetik ini harus segera ditangkap dan diikat oleh manusia dalam bentuk yang konkrit, kalau tidak dia akan segera hilang lagi dalam alam yang bergerak – dalam roh yang bergerak. Tapi tangkapan itu bukanlah tangkapan suatu momen-opname – melainkan harus dijelmakan gerak alam tersebut. Tangkapan momen-opname tidak menjelmakan keindividuan si seniman. “Seni yang baik adalah seni yang hidup”, demikan kita sering mendengar orang berkata. Atau kata Socrates, “Seni adalah meniru alam”. Ini tidak boleh ditafsirkan seni hanya meniru alam yang mati karena alam dalam arti yang sebenarnya adalah alam yang hidup. Dan alam yang bergerak selalu melibatkan faktor manusia, karena kita tak mungkin menangkap alam yang bergerak tanpa ikut bergerak bersama. Alam yang bergerak hanya bisa ditangkap dari dalam. Yang ikut terlibat dalam gerak ini ialah aspek kerohan dari manusia. Gerak roh ini adalah gerak yang kreatif, karena dia tidak terikat pada yang konkrit – pada konsep-konsep yang membatasi gerak. J. Maritain berkata bahwa gerak Puisi adalah kehidupan pra-konsep dari manusia – karena itulah kehidupan Puisi memungkinkan kreativitas dalam arti yang sebenarnya. Maka sering terjadi seorang seniman yang memiliki gagasan yang besar, merasa tidak terekspresikan segalanya itu – karena kehidupan. Puisinya mengalami pengalaman-pengalaman yang jauh lebih kaya daripada konsep-konsep yang telah ada. Di sinilah seorang penyair mulai “memutarbalikkan tata bahasa, seorang pelukis mulai memutar-balikkan bentuk-bentuk”, untuk mencari bentuk-bentuk ekspresi baru yang dapat lebih sempurna memanifestasikan pengalamannya. Sebab itulah dia memperkenalkan nilai-nilai baru dengan merombak yang telah ada.

Dalam karya seni si seniman tidak saja menangkap dirinya, tapi dia pun berusaha menunjukkan dirinya sebagai diri yang besar kepada orang lain. Pada permulaan karangan ini dibahas bahwa manusia adalah makhluk yang lahir kepagian yang mencari esensinya dalam keberadaannya. Ketika lahir, dia tidak memiliki identifikasi diri – segala sikap dan perbuatannya dikendalikan dan diselenggarakan oleh alam. Baru kalau dia telah dapat mentransendir alam – dia memiliki/menangkap keakuannya. Keakuan ini jadinya hanya bisa ditangkap dalam dia menangkap sesuatu. Seperti kata Gabriel Marcel, “Keakuanku aku temui dalam diri Kau”.

Jadi keakuanku aku tangkap dalam aku menangkap sesuatu. Dan apa yang aku tangkap memberikan nilai pada keakuanku apakah itu hanya gagasan-gagasan kecil saja ataukah persoalan-persoalan yang besar. Apa yang aku tangkap jadinya mencerminkan nilai aku juga. Di sini tampak keterjalinan yang erat antara subyek dan obyek – antara aku dan duniaku. Aku menyerap ke dalam duniaku dan duniaku menyerap ke dalam diriku. Sebenarnya tak bisa kita pisahkan antara pengertian aku dan duniaku – mereka berketerjalinan secara erat sekali. Pengertian itu hanya kita pisahkan dalam abstraksi.

Maka dalam karya seni tidak hanya diperjuangkan merumuskan diri si seniman, tapi juga mengangkat martabat diri si seniman setinggi-tingginya. Tapi kalau demikian halnya, maka seni hanya merupakan pameran iri seorang seniman yang egosentris belaka. Memang dorongan untk mencintakan karya seni adalah individuil. Tapi suatu karya seni – disetujui atau tidak disetujui oleh si seniman – adalah bernilai sosial. Dalam dia mengangkat dirinya sebagai pribadi yang besar, dalam dia mematangkan pribadinya, dia memproduksikan gagasan-gagasan yang besar, kebenaran-kebenaran baru yang memperkaya perbendaharaan jiwa umat manusia. Seni mengajarkan bagaimana kita harus bersikap terhadap alam, supaya menjumpai keindahan, karenanya berbahagia. ini adalah kebenarannya. Seperti kata Leo Tolstoy, “Kebenaran bukan diketahui oleh mereka tentang apa yang telah terjadi sebagai kenyataan, tapi oleh mereka yang melihat apa yang seharusnya terjadi sesuai dengan keinginan Tuhan”.6) Itulah kebenaran seni.

Maka karya seni yang baik adalah seperti suluh api yang memimpin manusia mencari nilai-nilai yang dapat menolong dia menemui hakekat kemanusiaanya yang berbahagia. Karya seni memungkinkan manusia-manusia yang kurang kreatif ikut serta dalam dunia nilai-nilai. Para seniman adalah orang yang membukakan pintu bagi mereka.

Jakarta, 14 Desember 1963

1). E. L Allen, “Existentialism from Within”. (Routledge & Kegan Paul Ltd. – London

2). Prof. Dr. C.A. Van Peursen, “Badan-Jiwa-Roh”, terjemahan G.M.A. Nainggolan; Badan Penerbit Kristen Jakarta.
3). Paul Tillich, “The Courage to Be”, Yale Unversity Press – New Haven.

4). G. W. Allport, “Personality”, Henry Holt and Company – New York.

5). J. Maritain, “Intuitive Creation on Art and Poetry”, Meridianj Books Inc. – New York

6). Leo Tolstoy, “What is Art”, Oxford Universty Press – New York.

Sumber: Horison, No. 5, November 1966.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *