Esai: Tradisi Berproses – Doddi Ahmad Fauji

Oleh Doddi Ahmad Fauji

HAL terbaik dari bacaan bernama koran, adalah menyediakan ruang untuk seseorang berproses dalam mengasah kreativitas intelektualnya, agar terus meningkat dari waktu ke waktu. Koran menyediakan ruang atau rubrik berupa opini, kolom, resensi, reportase, serta halaman sastra (puisi dan cerpen) yang cenderung dimuat di hari minggu, serta novel yang dimuat dalam bentuk cerita bersambung tiap hari. Para penulis yang tulisannya dimuat pada rubrik-rubrik tersebut, akan menerima honor berupa uang.

Seingat saya, butuh setahun latihan menulis puisi terus-menerus, agar puisi yang saya gubah, dapat dimuatkan di koran. Koran pertama yang memuatkan puisi saya adalah Bandung Pos, tahun 1991, yang diredakturi oleh Suyatna Anirun. Suyatna Anirun, aktor dan pendiri Studiklub Teater Bandung itu, menjadi redaktur tamu di Bandung Pos dan Mitra Desa. Ia beragama Kristen, sedang puisi saya yang dimuatkan berjudul Tahajud dan Lailatul Qodar. Di sini saya meyakini, bahwa ada nilai universal dalam sebuah puisi, yang bisa melintasi agama, suku, bahasa, bahkan bangsa dan negara. Seperti apa puisi yang bagus dan layak muat kala itu? Terlalu panjang bila dipaparkan dalam tulisan ini. Bagi yang ingin mengetahuinya, ada baiknya membaca buku seluk-beluk dan petunjuk menulis puisi, dengan judul Menghidupkan Ruh Puisi, yang saya tulis dari hasil permenungan sejak 1990 hingga 2018. Bila puisi ingin bisa dimuat di koran, syaratnya adalah menulis puisi yang bagus dan terjauh dari tipo alias salah ketik.

Bagi yang ingin mengetahuinya, ada baiknya membaca buku seluk-beluk dan petunjuk menulis puisi, dengan judul Menghidupkan Ruh Puisi, yang saya tulis dari hasil permenungan sejak 1990 hingga 2018.

Untuk bisa menulis puisi yang bagus, yang ukurannya itu bersifat subyektif, bergantung kepada daya resepsi masing-masing redaktur, seorang calon penulis memang harus berproses. Saya yakin banyak penulis yang berhenti di tengah jalan, karena kehilangan kesabaran dalam menjalani proses. Menjalani proses itu, menurut saya, akan melahirkan intensitas, kedalaman, dan tentu kualitas. Kebalikannya, instanisasi cenderung melahirkan hal yang bersifat temporer, permukaan, dan patokannya adalah kuantitas.

Saya yakin banyak penulis yang berhenti di tengah jalan, karena kehilangan kesabaran dalam menjalani proses.

Tradisi berproses itu sekarang sedang dijungkirbalikkan, sehingga banyak hal yang bersifat ujug-ujug. Di jaman koran berdaulat, bahkan untuk menjadi pimpinan di koran pun ditempuh melalui proses dan jenjang karier, dan tentu tidak ujug-ujug. Ada semacam uji kelayakan untuk seseorang agar dapat menduduki posisi redaktur, redaktur pelaksana, hingga pemimpin redaksi. Meskipun posisi tersebut bersifat politis, yang artinya ditempuh bukan hanya berdasarkan kriteria kualitas, namun juga dari kinerja kepemimpinan serta ‘like or dislike’ atasan, namun kualitas atau kompetensinya dalam bidang menulis serta praltik jurnalistik, tetap tidak dikesampingkan.

Tradisi berproses yang dijarkan di jamam prainternet itu, sekarang ini sedang dijungkirbalikkan. Instanisasi sekarang telah menjadi tradisi mainstream, di mana seseorang bisa ujuh-ujug jadi pemimpin redaksi, namun dengan minim pengalaman, wawasan, kualitas kepemimpinan, dan lain-lain. Sekarang inilah memang seseorang ujug-ujug bisa menjadi Bupati. Sekarang inilah ujug-ujug seseorang bisa jadi penulis terkemuka tanpa dipertimbangkan terlebih dulu kualitas karyanya.

Tradisi berproses yang dijarkan di jamam prainternet itu, sekarang ini sedang dijungkirbalikkan.

Tradisi berproses itu, menurut saya, harus dipertahankan dan dinikmati tahapan-tahapannya. Bukankah manusia dilahirkan, tetap akan berproses? Memang dalam menjalani proses itu, ada yang lamban dalam penempuhannya, namun ada yang bisa cepat menyelesaikannya, serta dapat melakukan lomtapatan-lompatan langkah, sehingga dapat dengan cepat mencapai hasil yang ditargetkan, bahkan melampaui target. Mereka yang mampu menjalani proses dengan cepat itu, disebabkan ia memiliki kecerdasan dan daya akselerasi yang tinggi. Nah, bagaimana meningkatkan kecerdasan dan daya akselerasi warga negara itulah yang perlu kita tingkatkan, tanpa harus mengapuskan proses.

Apa yang disebut dengan etiket, formula, resep, rumus, teknik, metode, tatacara, serta mungkin masih ada nama lainnya, untuk meningkatkan kecerdasan dan akselerasi itulah, yang harus terus kita cari hingga ketemu, dan bukan memberikan ruang terbuka luas, untuk seseorang meninggalkan tradisi berproses. Godaan-godaan agar segera sampai pada tujuan, lalu melakukan pencitraan dari hasil instanisasinya itu, dengan mengobarkan semangat narsistik, menurut saya, adalah kebodohan yang nampak, yang menjadi musuh dari kemajuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Doddi Ahmad Fauji, Penyair tinggal di Bandung.

One thought on “Esai: Tradisi Berproses – Doddi Ahmad Fauji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *