Puisi: Tangerang – Sjahril Latif (1940-1998)

Sjahril Latif (1940-1998)
Tangerang

Persis seperti yang selalu kubayangkan dalam angan-angan karena begitulah kuterima waktu pertama kali diceritakan: Rumah itu bercat putih, sebuah rumah tua yang besar, masih tampak bekas kemegahannya, peninggalan seorang meneer Belanda, sisa-sisa kekayaan yang sirna kelihatan pada tembokny dn pilr-pilarnya yang agung berukir mengingatkanku pada rumah-rumah tuan tanah di New Orleans, Mississipi, dalam novel-novel William Faulkner; atapnya dari kayu besi, pekarangannya luas tak teratur, tak terurus. Teringat juga zaman vd seperti dalam buku pelajaran menggambar. Hanya tak tampak bendi berkudanya. Di depannya tumbuh sebatang mahoni tua berdaun lebat. Teduh dan nyaman.

Ya, disitulah di tinggl, memencilkan diri bagai orang terbuang, sisa-sisa kejayaan yang runtuh dengan anak lima dan istri yang setia. Bekas direktur dari sebuh pabrik pemintalan benang.

Di belakangnya: tanah pekuburan yang ditingglkan terbengkalai.

Gundukan tanah seperti bukit-bukit kecil yang ditumbuhi rerumputan liar tak terurus. Dan angin mendesai dari padang terbuka.

Semak-semak keremunting, semak-semak liar yang tak kutahu jenisnya, bergoyang malas. Lalu agin siang itu pun sunyi.

Seekor jago terbang ke pagar untuk bertengger, mengepak, lalu berkokok dua kali.

Di samping rumah ada jalan setapak yang rumputnya baru disiangi.

Mobil kutinggal di tepi jalan. Tiba-tiba dilihatnya aku dari sudut rumah. Ia sedang mengunggun sampah, asapnya pecah kena angin.

“Hai, Ril! Kau itu?! Tumben sudah lama tidak muncul. Kemana saja?”

Aku melambai tangan.

“Ambil jalan sini! Dekat ke pinggir! Hati-hati keinjak tai kebo. Tadi barusan banyak lewat di sini!”

Ramahnya masih seperti dulu. Sedikit pun tak tampak derita kesusahannya, walau aku tahu ia sekarang sedang nganggur sehabis pemecatan dari pabriknya.

“Mana Ati?! Mana anak-anak?! Kenapa tak dibawa?!” teriaknya.

Aku tak bisa menjawab. Tiba-tiba ada rasa tersekat di kerongkonganku.

Astagfirullah, dia belum tahu?

Sumber: Horison, Januari 1979.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *