Esai: Berpuisi dan Memuisi – Arief Budiman (1941-2020)

Berpuisi dan Memuisi
Oleh Arief Budiman (1941-2020)

KALAU kita membaca sajak-sajak W.S. Rendra pada nomor Horison bulan lalu (Januari 1968, Ed.), dan bila kita juga kebetulan mengenal manusia Rendra secara pribadi – cara hidupnya, pandangannya tentang kehidupan, agama, wanita dan segalanya yang lain – suatu hal yang segera tampak nyata: menyatunya sajak-sajak tersebut dengan kehidupan pribadinya. Sajak-sajak itu benar-benar merupakan dirinya sendiri, lengkap dengan segala kenaifan Rendra: ejekan-ejekan tajam terhadap hal-hal yang tak disukainya, sikap a priori yang terus menghakimi dan sebagainya dan sebagainya. Tapi sebenarnya di sinilah letak kekuatan Rendra.

Penyair-penyair Indonesia pada saat ini kebanyakan baru tiba pada tarap “berpuisi” dan belum pada taraf “memuisi”. Pengertian “memuisi” menunjuk pada gejala di mana sajak adalah ekspresi kehidupan si penyair secara wajar. Bahwa dia menjadi puisi ini disebabkan kehidupan si penyair itu sendiri yang adalah puisi. Sebaliknya pengertian “berpuisi” menunjuk pada gejala penulisan sajak yang seakan-akan dipaksakan. Di sini, pretensi mau menjadi penyair terlalu besar dan dorongan untuk menyair terlalu kecil. Maka yang muncul adalah permainan kata, di mana terdapat jarak antara kata-kata dan situasi yang mau didukungnya. “Penyair” seperti ini tidak akan membuka daerah-daerah baru, karena dia hanya mempermainkan asosiasi-asosiasi kata dari penyair-penyair kreatif sebelumnya, semacam penjipkakan kreatif.

Pengertian “memuisi” menunjuk pada gejala di mana sajak adalah ekspresi kehidupan si penyair secara wajar. Bahwa dia menjadi puisi ini disebabkan kehidupan si penyair itu sendiri yang adalah puisi. Sebaliknya pengertian “berpuisi” menunjuk pada gejala penulisan sajak yang seakan-akan dipaksakan.

Kembali kepada sajak Rendra. Jelas sekali sajak-sajak ini menyatakan manusia Rendra sebagai mana dia adanya, tidak lebih dan tidak kurang. Sajak-sajaknya seolah-olah merupakan percakapan sehari-hari yang direkam dn dituliskannya. Tak ada “pretensi puisi”, tak ada “pretensi estetis”. Tapi juga, justru karena itu dia adalah puisi dan dia adalah estetis. Sebab manusianya sendiri telah menjadi puisi. Sajaknya sekadar ekspresi kehidupannya sebagai mana adanya, tanpa pretensi apa-apa.

Kalau sajak adalah ekspresi dari suatu kehidupan, maka sajak yang bernilai adalah ekspresi dari suatu kehidupan yang bernilai. Suatu kehidupan adalah bernilai bila dia tidak bergerak pada bidang horisontal saja, melainkan menangkap pula dimensinya yang vertikal. Artinya menghidupi kehidupan dalam “dimenson of depth” seperti yang dinyatakan Paul Tillich. Ini tidak bisa dicapai dengan melakukan aktivitas-aktivitas horisontal seperti rajin membuat sajak bagi penyair atau rajin melukis bagi pelukis. Ini hanya bisa dicapai bila si seniman di samping aktivitas-aktivitasnya yang horisontal tersebut, juga masuk ke kehidupan riel dan terlibat dalam misterinya dan meresapkannya ke dalam dirinya. Ini hanya bisa dicapai bila si seniman tidak membatasi dirinya pada dunia fisika, tapi menerobosnya dan mencemplungkan dirinya ke dalam ruang-antariksa metafisika. Di sinilah sebenarnya latihan sesungguhnya bagi seorang seniman dalam rangka proses pendewasaan dirinya.

Kalau sajak adalah ekspresi dari suatu kehidupan, maka sajak yang bernilai adalah ekspresi dari suatu kehidupan yang bernilai. Suatu kehidupan adalah bernilai bila dia tidak bergerak pada bidang horisontal saja, melainkan menangkap pula dimensinya yang vertikal.

Kalau Rendra berbeda dengan Chairil Anwar, di sinilah letak perbedaan tersebut. Ketiga sajak Rendra (Nyanyian Angsa, Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Pesan Pencopet kepada Pacarnya) pada Horison nomor lalu lebih bergerak pada bidang yang horisontal, sedang Chairil sudah bergumul dalam dimensi-dimensi yang vertikal. Persamaan keduanya ialah mereka telah sama-sama “memuisi”, tidak lagi penuh pretensi untuk menciptakan puisi ketika menuliskan sajak-sajaknya.

Sumber: Rubrik Catatan Kebudayaan, Horison, Februari 1968. (Judul dari editor Hari Puisi. Tulisan asli tidak berjudul).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *