Puisi: Tangsi untuk Ahmad Marzoeki – Deddy Arsya (l. 1987)

Deddy Arsya (l. 1987)
Tangsi untuk Ahmad Marzoeki

Di situ, empat orang raja, duduk bersila
di atas munggul kayu tua. Ada tiga orang tuanku
menitah pada burung, seperti bunyi gesek aur bunyi titahnya,
melewati sebuah lembah, di garis matahari naik matahari turun,
di tepi jalan besar tuan komandur, dengan kereta angin,
dan opas menepikan kuda, mengalir batang air,
matahari dekat terasa. Ada tempat
di mana ragam rindu tak berselisih dengan cuaca
di kubu yang kukuh, dari segala jurusan terdengar
salak meriam, seperti bunyi aur, kataku bergesekan
tebing tarahku buncah di lurah penuh angin,
seorang alim juru terang, Imam Perang,
telah turun dari parit-parit penuh ranjau,
pada dahulumu, tempat aku meletakkan siku,
di situ mengalir sungai amarahmu,
di gelanggang menggejolak api.
Mungkin negeri ini dulu hanya padang kuda
sialang setinggi paha dan jika senja hilang-raib
ke dalam kelumunmu, lalu di pinggir bukit ini
kau tatah tanah dan tali-tali nasib memanjang
bagai kau tarik selendang kuning mayang
dari pundakku. Mungkin kita tak butuh cinta
atau yang semacamnya, dalam tindakan wajar
kukulum lagi hasratku dari tepi kawahmu,
merabuk udara, hibuk pucuk-pucuk akasia,
di pangkalnya, empat orang raja, duduk bersila
di atas munggulnya, munggul tua, kataku.
Pada lepuh damar, telah tumpah dawat
ke kuning kertas, telah terbang kawat
ke jarak luas, di luar keras angin, menampar
-nampar, pucuk pisang melepai-lepai
dan berderit engsel
dan palang pintu tanggal.

Sumber: Kompas, Sabtu, 22 Juni 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *