Esai: Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi

Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi

Oleh Hasan Aspahani

KITA harus mempertimbangkan kembali sumbangan dan tempat bagi Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007) dalam sejarah sastra Indonesia. Tahun ini jika masuh hidup ia berusia 90 tahun.  Kesimpulan-kesimpulan yang selama ini diletakkan atas dirinya bisa dilepaskan kembali. Apakah dia penerus Chairil Anwar atau dia membawa warna yang sama sekali lain? Apakah dia terbelenggu oleh kebesaran bayang-bayang Chairil Anwar yang menjulang tepat di awal tahun-tahun kemunculannya?  Apakah dia cukup dikenang dan dikenal lewat “Pahlawan Tak Dikenal” atau “Ibukota Senja” saja?  Apakah pengaruhnya masih ada hingga hari ini? Atau apa yang bisa diambil dari persajakannya untuk mengembangkan sajak kita ke hadapan masa depan puisi Indonesia?

Esai ini adalah pemantik untuk upaya pembacaan dan pertimbangn ulang itu. Upaya yang dimulai dengan meninjau sikap dasar kepenyairannya dan apa yang dianggap telah ia sumbangkan bagi puisi Indonesia.

Kata-kata, bagi penyair kita Toto Sudarto Bachtiar, adalah lambang yang mati tak berdaya. Sama seperti angka bagi seorang ahli ilmu pasti. Sama seperti garis dan warna bagi perupa. Atau nada bagi komponis.

Menulis sajak, baginya, berarti memberi sentuhan pada kata untuk memembuat kata itu menjadi hidup. Bukan hanya menghidupkan kata, tapi menghidupkan sebuah dunia dengan kata-kata itu.  

Bukan juga sekadar dunia, tapi sebuah dunia baru yang memaknakan sebuah dunia lain, yang mempunyai ufuk yang lebih luas dan lebih besar.

Dunia baru itu tercipta atau ditemukan setelah si penyair menempuh perjalanan yang tiada putus, menjelajahi berbagai wilayah yang dikenal maupun yang tak dikenal, pun telah melalui berbagai pergulatan lahir dan benturan batin.

“Dunia itu adalah sebuah dunia yang utuh dan semesta,” ujar Toto.

Toto tak banyak meninggalkan catatan pemikirannya tentang puisi. Apa yang saya tuliskan kembali di atas adalah esai pendeknya di sisipan Kaki Langit, majalah Horison, Juni 1997. Tampaknya tulisannya ditujukan kepada pembaca muda, kalangan yang disasar oleh sisipan itu.

Esai pendek berjudul “Proses Mencipta Sajak Berbeda dengan Proses Menulis Sajak” itu dimuat kembali di buku kumpulan sajak lengkapnya “Suara, Etsa, Desah” (Grasindo, 2001), dengan sejumlah penyuntingan. Judulnya pun menjadi “Proses Kreatif Sebagai Pengalaman Penyair”.

Saya percaya, upaya kita untuk memahami kepenyairan seorang penyair, selain dengan membaca seluruh karyanya, juga terbantu banyak dengan menyelami pemikiran atau konsepsinya tentang sajak. Karena itu, esai Toto di atas bagi saya penting.

Sayang, Toto bukan penyair yang banyak menulis esai tentang puisi. Mungkin tak terarsip, tapi kalau kita percaya pada kelengkapan arsip PDS HB Jassin, maka esainya yang di atas adalah satu-satunya.

*

Dengan berpedoman pada konsepsinya tentang sajak dan proses penciptaan sajak yang seperti ia rumuskan itu, maka kita bisa paham kenapa Toto tidak menjadi seorang penyair yang produktif.

Ia juga boleh dikatakan terlambat muncul. Usianya lebih muda tujuh tahun dari Chairil Anwar. Ia lahir di Palimanan, Cirebon, 12 Oktober 1929. Ia sekolah HIS di kota kelahirannya, lalu pindah ke Bandung. Rencana masuk MULO tak terlaksana sebab pendudukan Jepang. Ia masuk sekolah pertanian di Tasikmalaya, lulus tahun 1944.

Hingga tahun itu, dia tampak belum tertarik pada puisi. Di masa revolusi fisik, setelah proklamasi, Toto kembali ke Cirebon, melanjutkan sekolah SMP. “Diterima di kelas tiga,” ujarnya seperti ia kisahkan kepada majalah Mangle, No. 1032, 20-26 Februari 1986.

Saat-saat SMP itulah dia bergabung dalam Corps Pelajar Siliwangi. Teman sekelasnya antara lain tokoh militer Yogie S Memet, yang kelak menjadi gubernur Jawa Barat.  “Tugas kami waktu itu menjaga Pak Nasution,” kenang Toto.

Kemudian, Toto bergabung dengan Detasemen Polisi Tentara 312, hingga tahun 1948. Ketika seluruh tentara hijrah ke Yogya, Toto diperintah oleh atasannya untuk kembali ke Bandung. Menamatkan SMP, lalu melanjutkan ke SMA. Mula-mula jurusan B, lalu pindah ke A, akhirnya jurusan C. Bukan karena minatnya berubah-ubah, tapi karena tidak ada guru yang mengajar. Ia lulus SMA, pada usia 21, pada tahun 1950. 

*

DI DALAM esainya, Toto menceritakan proses kreatifnya menulis sajak “Ibukota Senja” yang rawan-sendu dan “Pahlawan Tak Dikenal” yang amat terkenal itu.

Sajak “Pahlawan tak Dikenal” ia tulis pada tahun 1955. Bulan November. Sajak itu, katanya, adalah rekaman dari pengentalan dan perenungan selama sepuluh tahun.

Artinya ia mulai memikirkan sajak itu sejak tahun 1945. “… saya turut memanggul senjata sebagai anak muda yang terpanggil untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan tahun 1945,” ujar Toto.

Proses menulisnya sendiri tidak lama. Dari pengalaman itu ia membedakan antara “penciptaan sajak” dan “penulisan sajak”. Baginya membedakan dua hal itu penting.

Pengalaman yang sama ia contohkan pada proses lahirnya sajak “Ibukota Senja’. Sajak itu ia pikirkan sejak 1950, ketika ia pertama kali datang ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum, UI, ikut nongkrong di Pasar Senen, dan menuliskannya pada 1951.

Nilai sebuah sajak, bagi Toto, tergantung pada penampilan sosok dan kepribadian penyair yang tertuang dalam sajak itu. Karena itu, baginya, proses penciptaan sajak itu sangat penting.

Menciptakan sajak bagi Toto, adalah proses penalaran menempuh dua tahap. Pertama melahirkan gagasan dan khayalan. Dengan kata lain membentuk ide dan memainkan imajinasi. Lalu kedua, menilai gagasan dan khayalan tersebut. 

“Kedua tahap itu berkelindan,” kata Toto. Prosesnya terus-menerus, mondar-mandir, maju-mundur, keluar masuk dari gagasan ke khayalan, dan sebaliknya. Pada titik ini saya melihat pertautan etos kepenyairan Toto dengan Chairil. Keduanya tak percaya pada ilham. Keduanya percaya pada kerja keras.

Dan keduanya menghasilkan sajak yang kuat.

*

TOTO memang tak bisa menghindar untuk tak dibandingkan dengan Chairil. Ia muncul pertama kali di tahun 1950, tepat setahun setelah kematian Chairil. Sajaknya mula-mula muncul di Majalah Mutiara (diasuh Mochtar Lubis), lalu di Mimbar Indonesia (diasuh Jassin). Hingga pemuatan sajak-sajak pertamanya itu, Toto menerima penolakan yang banyak. “Sajak saya yang ditolak Jassin lebih dari seratus,” katanya.

Kenapa Toto menulis? Dan kenapa menulis puisi? Ia sudah mempunyai keinginan itu sejak kanak-kanak. Sejak itu pula ia suka membaca. Jika di rumah kurang buku ia akan berkunjung ke  rumah teman yang punya banyak buku.

Ketika SMP, Toto mulai rajin kutrat-kotret menulis. Asal tulis saja. Ada seorang guru yang mendorong minatnya. Namanya Pak Sumarjo. Di SMA, minatnya terhadap bacaan dan kegiatan menulis makin meningkat. Tapi, ia benar-benar serius menulis setelah tinggal untuk kuliah di Jakarta.   

Toto punya minat besar pada bahasa. Dua bahasa asing yang sangat ia kuasai adalah Bahasa Inggris dan Belanda. Penguasaannya atas dua bahasa itu membuatnya kelak menjadi penerjemah buku yang sangat produktif. Ia sempat juga jadi penerjemah tentara Jepang, padahal itu bahasa ia pelajari secara otodidak.

Berada di Jakarta. Bergaul di Pasar Senen, pusat tongkrongan seniman penting pada masanya, tampaknya memberi momen bagi Toto untuk mengembangkan minat dan bakat menulisnya. Ia kira-kira pada tahun-tahun itulah mulai mengembangkan sajak-sajaknya. Ia menulis banyak sajak, ratusan yang ditolak Jassin itu.

Orang bicara soal Chairil, peninggalannya dan pengaruhnya pada penyair kemudian. Toto jelas juga membaca Chairil. Ia mengambil dan mengolah pengaruh Chairil pada persajakannya.

Pada tahun 1955, artinya lima tahun setelah mulai serius menyajak dan berhasil menyiarkan banyak sajak, Toto menulis sebuah sajak yang ia persembahkan untuk Chairil Anwar.

Pernyataan
kepada C.A.

Aku makin menjauh
Dari tempatmu berkata kesekian kali
Laut-laut makin terbuka
Di bawah langit remaja biru pengap melanda

Apakah cinta tinggal cinta, kuyup
Tanpa kehendak biar sayup?
Berkata tentang diri sendiri
Berkaca dan kembali berlari?

Balai malam yang gugup
Menjadi saksi kita berdua
Terhadap makna dan kata-kata
Yang hidup dalam hidup keras berdegup

1955

Kita bisa menangkap banyak hal tentang Toto, sajaknya, kepenyairannya, dan apa arti Chairil baginya dalam sajak ini.

Chairil adalah ‘kawan’, sama-sama penyair (Menjadi saksi kita berdua), yang ia pertanyakan dan tak sepenuhnya ia setujui sikapnya (Berkata tentang diri sendiri / Berkaca dan kembali berlari?), yang ingin dan berhasil ia lepaskan pengaruhnya (Aku makin menjauh / Dari tempatmu berkata kesekian kali), tetapi toh t etap bertemu dan berada di tempat yang sama (Laut-laut makin terbuka / Langit remaja biru), dan dipersatukan kembali oleh pencarian dan penemuan makna kehidupan yang universal (terhadap makna kata-kata / yang hidup dalam hidup terasa berdegup).

Jassin mengendus pengaruh Chairil pada Toto. Misalnya, ia katakan, pengaruh liku lekuk jalan pikiran Chairil Anwar terbaca pada proses pelontaran apa yang terpendam dalam sajak Toto.

“Sesuatu sajak mulai begitu saja dengan lontaran pikiran yang merupakan suatu kesimpulan dari pemikiran yang panjang sebelumnya,” kata Jassin dalam ulasan panjangnya – yang tampaknya ia tulis dengan gembira – “Toto Sudarto Bachtiar – Penyair Ibukota Senja” dalam buku “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” (PT Gunung Agung, Jakarta, 1967).

Yang juga serupa pada kedua penyair itu, kata Jassin, adalah kesukaan memakai perlompatan baris, membikin napas sajak mengalun dari baris ke bari dengan licin. Lalu ada hentakan tiba-tiba, yang seakan membendung aliran itu kemudian mengalirkannya kembali.

Akan tetapi Toto adalah Toto dan Chairil adalah Chairil. Pengaruh Chairil pada Toto tidak membuat Toto menjadi epigon. Pada Toto, kata Jassin, ada pencernaan dan ada pematangan yang membikin ia jelas berdiri di panggung sastra Indonesia sebagai Toto.

Toto berbeda dengan Chairil dalam hal sikap terhadap hidup. Esai panjang Subagio Sastrowardoyo dengan jernih memaparkan perbedaan itu. Toto bukan seorang pemberontak seperti terasa pada Chairil yang berjiwa gerah dan tegang menghadapi nasib. Toto dengan sabar menerima nasib. Dengan sikap itu ia mengolah tema dan persoalan hidup.

*

DUNIA baru dalam sajak yang berhasil, kata Toto, tidaklah semata mengandung tambahan pengetahuan, peningkatan kedalaman dan pengentalan serta keserbanekaan, namun ia juga memiliki kesegaran, keseksamaan, kebenaran, kejujuran dan dampak perasan. Toto dengan demikian bicara soal estetik, etika, logika, dan emosi dalam puisi.

Toto telah paham benar apa itu puisi. Ia punya standar tinggi tentang bagaimana puisi yang baik. Itu sebabnya mungkin, kenapa ia tak banyak menulis. Ia tak produktif. Atau ia memang sangat selektif menyiarkan sajak-sajaknya.

Toto menyiarkan buku puisi pertamanya pada tahun 1956. “Suara” (diterbitkan BMKN), memuat sajak yang ia tulis sepanjang 1950-1955. Lalu menyusul “Etsa” (Pembangunan, 1959). Ada banyak sajak lain yang ditulis pada tahun-tahun itu yang tak ia bukukan. Jassin mencatat, sajak-sajak yang tak terbukukan itu dimuat di Mimbar Indonesia, Zenith, Siasat, Indonesia, Pujangga Baru, dan Kisah.

Dua buku itu, ditambah sajak lain yang ditulis pada 1997-2001 (diberi subjudul “Desah”) dikumpulkan dalam satu buku yang bisa disebut sebagai sajak lengkapnya, “Suara, Etsa, Desah”.

*

ADA masa panjang ketika Toto menghilang, berhenti menulis, sama sekali tak menyiarkan sajak. Orang pun mencari dan bertanya.  Selepas kuliah, 1955, ia menetap di Bandung. Menjadi pegawai negeri. Juga bekerja di beberapa majalah yang ia ikut dirikan. Juga menerjemahkan buku.

Kemana saja Toto?

Ayatrohaedi menyebutnya sebagai “pahlawan orang-orang kecil”. 

APA sumbangan Toto pada persajakan Indonesia? Menurut Subagio, Toto adalah perintis pencarian ilham pada sumber-sumber kejiwaan Indonesia dengan tidak meninggalkan tingkat kelembutan ekspresi persajakan yang pernah tercapai di alam sastra modern Indonesia.

“Toto telah membuka jalan perkembangan baru yang kemudian ditempuh oleh penyair-penyair yang kemudian, seperti Ajib Rosidi, Rendra, dan Ramadhan K.K.,” ujar Subagio dalam esainya “Hati Sabar Toto Sudarto Bachtiar” dalam buku “Sosok Pribadi dalam Sajak (Balai Pustaka, 1997).

*

TOTO meninggal di rumah seorang kerabatnya Cisaga, Ciamis, sepuluh menit menjelang pukul 6 pagi, 9 Desember 2007. Kabar kematiannya terasa mengejutkan. Ia tidak sakit. Pagi itu ia bersiap hendak kembali ke bandung. Di kecamatan Cisaga itu, dulu ayahnya pernah menjadi camat.

Di situ pula ia di masa tuanya menjadi penyuluh pertanian tanpa bayaran.  Usianya mencapai 76 tahun.  Ia pernah terkena serangan jantung pada 1998. Ia meninggalkan dua orang istri, seorang anak, dua orang cucu, dan sejumlah karya yang abadi.

Jakarta, September 2019

One thought on “Esai: Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *