Esai: Kritik, Pengarang, Masyarakat dan Perkembangan Sastra

Oleh Hasan Aspahani

Bagaimana kritik sastra, pengarang, dan masyarakat terhubung? Bagaimana sastra bisa kita kembangkan? Apa peran kritik dalam upaya itu?

Beberapa waktu lalu saya membagikan ke beberapa orang guntingan esai Abdul Hadi WM dari Kompas, 7 Agustus 1975. Esai 45 tahun lalu itu terasa masih amat relevan.

Berikut ini saya mencoba meringkas dan menyusun ulang pokok-pokok gagasan dari esai tersebut. Mungkin dengan begini lebih mudah ditangkap gagasannya dan lebih mudh diikuti alur pemikiran salah satu penyair dan kritikus terbaik kita itu.

  1. Abdul Hadi WM menggambarkan situasi kritik dan hubungannya dengan perkembngan kesusasteraan seperti simfoni kegelisahan, atau lingkaran setan di dalam lingkaran setan. Sastra kurang berkembang, karena kritik miskin, hal mana juga terkait pendidikan, perkembangan bahasa, tidak ada tradisi sastra yang kuat dst.
  2. Persoalannya kompleks, karena ini terkait masyarakat di mana pengarang dilahirkan, mengambil bahan, mengolah tema, dan bahasa yang ia gunakan sebagai medium adalah bahasa masyarakatnya juga, sementara karya sastra adalah hasil kerja individu yang punya kecenderungan dan kepekaan estetik sendiri.
  3. Pengarang mendapatkan kemampuan berbahasa, pengetahuan, kemampuan intelektualitas, daya imajinasi, kepekaan estetik dari pendidikan dan kebiasaan yang terdapat dalam masyarakatnya.
  4. Pada pihak pembaca – yang juga bagian dari masyarakat itu – berkembang daya kritis, dan itulah yang kemudian berkembang menjadi kritik sastra, yang juga dipengaruhi oleh perkembangan sosial, terutama proses pendidikan yang memberikan pengetahuan tentang bahasa dan sastra, juga proses sosial dan budaya, perkembangan intelektuil, dsb.
  5. Manusia belajar segala hal dari kebudayaan yang telah terbentuk dalam masyarakatnya lewat adaptasi, setelah menghadapi konflik, dan bereaksi sebelum menyeleraskan diri dengan kebudayaannya itu.
  6. Studi sastra bisa dilakukan bukan hanya lewat ilmu bahasa, tapi juga dalam kerangka sosiologi, psikologi antropologi, estetika, sejarah ide-ide, dan filsafat.
  7. Bahasa sastra dalah linguistics performance seperti dikatakan oleh Roger Fowler dalam The Structure of Criticism and The Language of Poetry: An Approach Through Language, yang terjemahan lengkapnya begini, “…para antropolog lebih merupakan figur kunci daripada para ahli linguistik karena (puisi sebagai) kesatuan linguistics performance tidaklah berkenaan dengan sintaksis melainkan berkenaan dengan situasi bahasa yang kulturil sifatnya, atau kejadian komunikatif, yang memberikan fungsi dan bentuk karakteristk terhadap kalimat”.
  8. Antropolog yang demikian harus juga mendalami bahasa dan kesusasteraan di samping tentu menguasai antropologi itu sendiri. Contoh sosok antropolog seperti ini adalah Harry Aveling yang banyak meneliti sastra Indonesia.
  9. Kritik sastra menjulang di Amerika dan Eropa seiring atau sebagai bagian dari perkembangan intelektualitas.
  10. Kritik sastra juga berkembang karena pengarang punya agenda mempengaruhi selera estetika publik. T.S. Eliot dan Ezra Pound disebutkan sebagai contoh dua penyair yang menulis kritik dan juga getol menggelar diskusi kritik sastra, juga banyak banyak menerbitkan buku kritik sastra.
  11. T.S. Eliot berkata, perkembangan kritik adalah gejala perkembangan atau perubahan puisi dan perkembangan puisi itu sendiri adalah gejala perkembangan atau perubahan masyarakat.
  12. Sejak tahun 1930-an, kritik sastra di Indonesia telah menguat tetapi diterima dengan antipati, sebagai mana dibaca pada esai J.E. Tatengkeng dan Sutan Takdir Alisyahbana.
  13. Subagio mencatat keluhan kurangnya kritik sastra (Horison, 1966). “…barangkali justru kesadaran tidak adanya sejarah kritik itu menghambat timbulnya kegiatan kritik. Orang tidak punya pegangan pada aparat-aparat kritik, dan keseganan melancarkan kritik pada sastra sebagian besar datang dari kurang pengetahuan azas dan cara mengkritik.”
  14. Harus diakui kritik dalam hal tertentu subjektif. Kritik adalah usaha interpretasi dengan kemampuan kritis suatu karya sastra yang bermacam-macam dan usaha itu hasilnya mau tak mau ditunggangi oleh selera estetik si penulis. Tapi tidak mengurangi sifat objektifnya karena yang ditelaah adalah sebuah objek, karya sastra yang sebenarnya abstrak.
  15. Puisi – karya sastra – yang menjadi objek kritik memang stabil tapi setiap kali seseorang membacanya akan mendapatkan sesuatu yang lain dan baru, karena pengalaman dan daya imajinasinya bertambah.
  16. Puisi bicara bukan lewat unsur-unsurnya yang mekanis dan fisik, melainkan yang psikologis atau pun filosofis dan sebagainya. Puisi tidak mengangkut bahasa yang kaku mati, tetapi bahasa yang terus-menerus hidup karena kemampuan seorang penyair. Di sini kita bisa pahami kata-kata Fowler bahwa bahasa dalam puisi itu lingustics performance.
  17. Gerard Manley Hopkins, penyair, kritikus dalam mahzab Jenewa, mengatakan kesusasteraan adalah sebentuk kesadaran dan kritik sastra adalah petualangan batin dalam karya sastra. Ia katakan, “tugas kritikus sastra adalah mengidentifikasi dirinya dengan subjektivitas yang diekpresikan kata-kata, menalar kembali kehidupan yang bergerak dalam jiwa, dan menyusunnya menjadi suatu yang bersifat baru dalam kritik.
  18. Jadi kritik adalah seni tersendiri. Metode apapun tidak penting. Yang penting cara mengemukakanya. Pertanggungjawabannya, sebab kebenaran berada di seberang kritik sastra itu sendiri.
  19. Fungsi utama kritik adalah ikut membentuk selera literer atau sastra dan berhasil atau tidaknya tentu tergantung pada pembaca kritik sastra dan kemampuan sang kritikus.
  20. Tapi benarkah karya sastra perlu diperantarai oleh kritik untuk sampai terpahami oleh pembaca? Ya, tapi hanya sebagian kecil. Ada banyak masalah dalam soal ini. Setiap pembaca punya daya kritis masing-masing. Pembaca harus membaca karya sastra. Kritik tak bisa menggantikan pembacaan atas karya itu.
  21. Terkait upaya memajukan dan mengembangkan sastra hal yang paling baik bukan kritik sastra tetapi bagaimana membentuk dan membangun minat dan daya kritis pembaca, menghadapkan mereka dengan obyeknya yang nyata yaitu karya sastra itu sendiri.

Sumber: Abdul Hadi WM, Kritik Sastra, Pengarang dan Masyarakat (Kompas, 7 Agustus 1975)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *