Esai: Kurang Lafaznya, Banyak Maknanya

Kenapa Kita Menulis Puisi (5)

Kurang Lafaznya, Banyak Maknanya

Oleh Hasan Aspahani

PERAN seorang penyurat atau penulis di sebuah kerajaan setara dengan panglima perang. Sebuah pemerintahan kerajaan bertahan atau dipertahankan dengan dua jalan: perang dan diplomasi, pedang dan pena. Kultur beraksara di kerajaan-kerajaan Melayu tumbuh di atas keyakinan itu.

Posisi seorang penyurat sangat penting dan terhormat karena dialah pencatat dan penyimpan segala rahasia raja. Karena itu kualifikasinya berat. Bukhari Aljauhari dalam “Tajussalatin” (1603) menjelaskan seorang penyurat harus menguasai banyak hal: pengetahuan alam (air, tanah, musim), astrologi, pengetahuan bahasa (sastra dan tata bahasa), etika berkorespondensi, juga berperilaku baik.

Pesannya untuk kita hari ini adalah penulis harus berwawasan luas, untuk siapapun kita menulis, apapun yang kita tulis. Tulisan yang baik hanya bisa dihasilkan oleh penulis dengan bekal pengetahuan yang luas seperti itu.

Lalu apa ukuran tulisan yang baik dalam khazanah sastra Melayu di awal abad ke-17 itu? Dalam “Tajussalatin” disebutkan surat yang baik memenuhi beberapa syarat:

  1. Kurang lafaznya dan banyak maknanya. Menulislah dengan bahasa yang efektif. Tidak bertele-tele. Tidak mengaburkan maksud yang hendak disampaikan, tetapi terkandunglah banyak makna pada yang disampaikan dengan “sedikit lafaz” itu.
  2. Satu kata jangan disuratkan dua kali. Jangan menulis dengan bahasa yang membosankan, dengan pengulangan yang tak perlu. Menulislah dengan menarik, indah, tak berulang-ulang hanya untuk menyampaikan satu maksud yang itu-itu juga.
  3. Terpelihara dari segala kata yang berat. Pililah kata yang dipahami benar dan susunlah kalimat agar mudah ditangkap dan jelas maksudnya. Tak ada kata-kata yang sulit dimengerti.

Semua itu hanya bisa dituliskan apabila:

  1. Tatkala ia menyurat hendaklah ia berkhalwat. Artinya mengkhususkan waktu hanya berkonsentrasi pada penulisan itu. Kalau pun tidak pada waktu dan tempat khusus maka ketika ia menulis tak ada seorang pun yang “melihat pada (gerak) tangan si penyurat itu”.

Menulis bukan pekerjaan iseng dan main-main. Itu pesannya. Tapi yang terakhir ini sekarang tentu tak lagi mutlak, apalagi kita toh bukan penulis istana. Tapi, pesannya masih relevan, apabila kita artikan bahwa saat menulis kita memang harus sepenuhnya berkonsentrasi pada apa yang sedang kita tulis itu.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *