Esai: Memikirkan Bahasa dan Memelayukan Kata Asing

Kenapa Kita Menulis Puisi (4)
Memikirkan Bahasa dan Memelayukan Kata Asing

Oleh Hasan Aspahani

SASTRA dalam bahasa kultur Melayu tumbuh serentak di ranah lisan dan tulisan. Kita pahami dulu sastra dengan pengertian yang dekat dengan akar etimologisnya sebagai produk berupa teks yang ditulis dengan bagus pada satu sisi, dan produk bahasa lisan dengan muatan estetis yang berbeda dengan bahasa komunikasi sehari-hari, tapi ia juga menjadi bagian dari keseharian itu.

Budaya tulisan itu – karena kebutuhan – berkembang di lingkungan istana. Maka lahirlah berbagai kitab yang ditulis oleh para sastrawan perintis, yaitu mereka yang dekat dengan istana penguasa, atau memang bagian dari kekuasaan kala itu. Hamzah Fansuri (akhir Abad ke-16), Raja Ali Haji (Akhir Abad ke-19), Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Akhir Abad ke-19), adalah beberapa nama yang terkenal yang bisa dikelompokkan pada golongan itu.

Beberapa nama lain harus disebut karena karyanya sangat penting tetapi selama ini terlupakan, sepeti Bukhari Aljauhari (Awal Abad ke-17) dan Abdullah bin Muhammad Al-Misri (Awal Abad ke-19). Nama yang kedua itu menghasilkan beberapa karya catatan perjalanan dan syair yang penting. Sementara Bukhari diketahui hanya menulis satu kitab yaitu “Tajussalatin” (1603) akan tetapi pengaruhnya amat luas di nusantara. Seluruh isi kitab itu digubah ulang ke dalam bahasa Jawa dalam bentuk tembang bernama “Serat Tajussalatin”.


Para penulis itu adalah para pemikir dan pengembang bahasa Melayu. Abdullah dalam “Hikayat Abdullah” kita tahu bukan hanya memakai bahasa Melayu untuk karya-karyanya tapi juga mempelajarinya.
Kita kutip Abdullah dari “Perintis Sastra” (Hooykas, 1950): “… akupun sehari-hari belajar daripada nahu bahasa Inggris paeda tiap-tia[p hari, sebab pada pikiranku aku hendak jadikan dia ke dalam bahasa Melayu, sebab kudapati terlalu banyak gunanya, karena perkara yang demikian tiaa dalam bahasa Melayu, sebab itulah kebanyakan orang Melayu pergi belajar nahu bahasa Arab, ia itu bukan barang-barang susahnya…”

Orang lain yang mengembangkan bahasa Melayu dengan merujuk pada nahu bahasa Arab itu antara lain Raja Ali Haji. Ia menyusun “Kitab Pengetahuan Bahasa” dan “Bustanul Katibin”, yang dianggap perintis awal kajian atau pengembangan teori lingustik dalam bahasa Melayu.
Sementara itu Raja Ali Haji dalam mukaddimah “Kitab Pengetahuan Bahasa” mengatakan: “…ketahuilah olehmu hai orang yang menuntut bahasa Melayu, bahwa sesungguhnya sekali-kali tiada boleh dapat kenyataan segala maksud bahasa Melayu dengan sempurnanya melainkan hendaklah dengan ilmu yang tersebut, yang akan lagi datang di dalam kitab ini.”

Secara umum sumbangan terbesar para sastrawan perintis itu adalah pemelayuan kata-kata dari bahasa lain, Ingris, Arab, Portugis, Persia, menyusul perkembangan sebelumnya dalam bahasa Melayu yang banyak menyerap kosakata dari bahasa Cina, India dan Sanskerta.

Para penulis perintis itu sadar benar bahasa Melayu kekurangan kosakata untuk menuliskan apa yang hendak mereka sampaikan. Pada masa-masa itulah ada lonjakan jumlah kosa kata yang masif. Sebagian kata itu kini tak lagi kita rasakan sebagai kata hasil adopsi, sebagian lagi menjadi arkaik bahkan mati dan tak terpakai lagi. (bersambung)

Foto: Joko Indratmo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *