Esai: Sedangkal Sepenggalian, Serba Sedikit Soal Estetika

Sedangkal Sepenggalian, Serba Sedikit Soal Estetika

Esai Hasan Aspahani

KEPADA kita mungkin seseorang pernah mengatakan: …wah, puisimu tak ada estetikanya sama sekali, tidak menyentuh perasaan saya. Coba bandingkan puisi Chairil, itu estetis banget, emosi kita ikut menggelegak ketika membaca sajak heroiknya, atau pada sajak yang bicara soal kesepian, kita juga bisa merasa tercekik kesunyian kamar.

Di kali lain kita mungkin mendengar orang berkata, estetika pantun terletak pada kesempurnaan sanjaknya, citraan yang nyata tapi imajinatif dan menyaran kuat pada pembayang, dan terutama pada kedekatan antara sampiran atau pembayang dan isi. Namanya juga pembayang, bukan? Pantun terbaik adalah ketika disebutkan pembayangnya orang sudah bisa membayangkan atau bahkan sudah tahu isinya.

Tapi apakah estetika itu? Estetika adalah cabang filsafat. Eh, apa? Filsafat? Ya, filsafat, tapi jangan buru-buru alergi dengan kata itu. Filsafat itu soal hidup sehari-hari juga, kok. Soal yang berhubungan dengan keindahan dan rasa. Urusan yang tak lepas dari keseharian kita.

Keindahan itu dirasakan, bukan? Dengan apa kita merasakan? Dengan seluruh indera kita (“aromanya membangkitkan selera”, “penyajiannya mewah”, “komposisi warnanya menarik”, “suaranya pas dengan lirik lagunya”, dll). Lalu secara keseluruhan hati kita yang menyimpulkan (“aduh, aku terbuai”, “aduh, aku jadi pengen nambah makannya”, “aduh enak banget nih, rasanya kayak pengen mati!”). Dan akhirnya pikiran kita menegaskannya (“saya kasih nilai 9, deh”).

Ya, pemahaman atas estetika memandu kita memahami bagaimana indera bekerja di hadapan sebuah karya atau hal apa pun. Ketika kita mencipta maka pemahaman tentang estetika membantu kita melahirkan karya yang sebanyak-banyaknya dan seintens mungkin merangsang kerja indera penikmat karya kita. Coba ingat-ingat perangkat puitik. Citraan, misalnya. Ada yang dengan kehadirannya, terangsang kerja indera pendengaran, penglihatan, dll, bukan? Juga rima, dan kakofoni. Juga simile dan metafora. Semua terkait dengan rangsang pada indera para pembaca.

Baik estetika secara umum maupun filosofi seni secara khusus mengajukan pertanyaan seperti “apa itu seni?”, “apa itu seni sastra?”, “apa itu sastra?”, “kenapa ada topografi sastra?”, dan yang paling kerap dielakkan “apa yang membuat seni menjadi bagus?” dan sebaliknya juga menjelaskan, “kenapa sebuah karya harus dianggap jelek’.

Sebagai cabang filsafat, estetika menguji apa yang kita anggap indah, hal yang kerap sangat subjektif itu, apa yang melibatkan kerja inderawi dan emosi itu.

Apakah estetika mencakup sumber alami saja? Tidak, yang alami dan yang buatan, yang terbentuk begitu saja dan yang melewati perekayasaan, disentuh oleh tangan-tangan kajian, penilaian, dan pengalaman estetis. Estetika menjelaskan apa yang terjadi dalam pikiran kita ketika kita terlibat dengan objek atau lingkungan estetika seperti dalam melihat seni visual, mendengarkan musik, membaca puisi, dan sebagainya.

Ada makanan yang sangat enak. Tapi ketika kita harus menghabiskan sepuluh porsi makanan itu, maka porsi ke-3 mungkin kita sudah tak merasakan enak lagi. Apakah makanan itu berbeda rasanya? Tidak, rasanya sama persis. Apakah karena pada porsi ketiga makanan tak lagi ternikmati enaknya, maka porsi pertama dan kedua jadi batal nikmatnya? Tidak juga.

Seperti seorang juru masak dan juru hidang sekaligus, penyair atau seniman apapun, tahu kapan harus berhenti menambahkan sesuatu yang menambah nilai pada karyanya, agar karyanya terhidang dengan nilai estetika maksimal. Itulah strategi estetis.

Naluri dan kemampuan estetika adalah kombinasi antara pengenalan dan pemakaian bahan terbaik dan racikan bumbu yang khas. Juga cara menata dan menyajikan, yang bila mungkin ia juga dibikin agar sekali santap penikmat karya kita tak bisa melupakan selama-lamanya.

Jakarta, 7 September 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *