Puisi: Potret Diri dengan Sebutir Apel – Halima Puti Djamari (l. 1980)

Halima Puti Djamari (l. 1980)
Potret Diri dengan Sebutir Apel

kau boleh menghabiskan biru untuk memanjangkan
rambutku hingga ke bahu (dan bahkan melebatkannya
seperti gelombang) agar tertutup luka yang sudah
mengendap di leher ini—

kau mesti membalurkan kuning di tengah bidang sampai
wajahku mampu bangkit sendiri membedakan diri dari
bukit-bukit yang terlalu lelah menahan hujan badai
sepanjang malam—

kau mesti mengelupas sisik-sisik putih yang tumbuh
menutup telingaku agar kau mendengar kelepak burung
undan yang dikirim ibu kita untuk meluaskan langitmu
di kamar ini—

kau ragu melingkupi hidungku dengan sebilah pisau tapi
teruskanlah belaka sebab niscaya aku segera menjangkau
lambungmu ke pusat warna merah dan mengasahmu
dengan sepasang alis khat hijau daun paku—

kau boleh mengabaikan mataku (yang teramat bosan
bertanya berapa banyak warna sudah kauhamburkan) tapi
segeralah tutupkan keduanya dengan sapuan kuasmu
yang tak kenal lagi mana atas atau bawah—

kau mesti menghanguskan mulutku sampai lidah kencana
yang tak terperi ini tertarik keluar tiba-tiba menjilati kabut
pada cermin yang tanpa kausadari selalu terbentang
angkuh di hadapanmu—

kau telah menutup jendela agar barisan cerobong dan
kilang nun di kota sana tak masuk ke mari menghalangi
sebatang sungai yang tumbuh perlahan di belakangmu
dan memurnikan suaraku—

kau hampir gugur ketika menjadi padananku—
kau hendak berdusta apakah sebutir apel bening di depan
cermin itu mesti kaumakan atau kaubiarkan saja kekal
bersama rupaku pagi ini—

Sumber: Kompas, Minggu, 15 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *