Puisi: requiem sebuah balon – Malkan Junaidi

Malkan Junaidi
requiem sebuah balon

pintu itu, mayat pohon mangga dari sebuah kebun. ia telah menerima berjuta ketukan dan salam. angin dan debu, tamu-tamu yag paling tekun, membawa dongang-dongeng dari tanah yang jauh. tentang bantal yang terbakar, tentang pulpen yang memuncratkan sebelanga sperma, tentang kening yang penuh dengan gelombang pasang dan anjing-anjing yang memperebutkan sepasang sepatu kaca.

saat tertutup, pintu itu, mayat pohon mangga dari sebuah kebun itu, menahan sebuah balon dari berburu sebutir rembulan. ada kelelawar-kelelawar yang lapar di atas sana, katanya. ada layang-layang yang meraung-raung mengutuki senar yang tak kunjung melepasnya. ada hujan meteor dan jarum yang akan meledakkan tubuhmu di lambung galaksi yang menganga.

suatu hari, balon itu membawa pulang sebuah sampan yang remuk, meletakkannya di sudut dapur di samping tungku yang beku. di lain hari ia menggotong matahari-matahari yang sekarat, menguntainya menjadi tasbih, dan menaruhnya di samping mushaf yang membuka dirinya sepanjang waktu.

hari ini, kursi-kursi mencangkungi ruang tamu. menatap mayat balon di karpet hijau yang pojoknya digerogoti kesunyian itu. televisi terus membelalakkan mata. ia seperti jurang tempat yang mati mendapat penghormatan terakhir. ia seperti hujan yang menyergap pintu itu, mayat pohon mangga dari sebuah kebun itu, dan menyapunya dengan cat biru.

2011

Sumber: Kemudian.com, 9 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *