Puisi: Bardi Menjelma Mesin – Wowok Hesti Prabowo (1963-2020)

Wowok Hesti Prabowo (1963-2020)
Bardi Menjelma Mesin

Matahari tak selalu hadir di hatinya
“Aku merindu. Aku merindu agar tak mati rantingku,” katanya
Pagi Bardi menyibak embun mengetuk pintu pabrik
Sisa cahaya bulan menempatkan tubuhnya pada tanah
Sebelum kopi menghangatkan tubuhnya ia telah menjelma mesin
Gerakannya monoton melahirkan grafik-grafik produktivitas
“Lumayan, bila grafiknya di atas tiap Minggu berhitung agak lama,”
dengan bangga Bardi cerita gaji mingguannya

Siang tenggorokannya disuapi pelicin
Agar otot-otot dan tulang tetap bisa bergerak monoton
Lantas lapor Tuhan di musala tentang kepasrahannya yang prima
dan sedikit permintaan agar tak sakit-sakitan
“Sebab bila aku sakit tak bisa apa-apa Tuhan
sehatkanlah aku agar bisa terus mengabdi pada pabrik.”
Sedikit dibentak dan dipagari tatapan galak mandor
Menjadi jamu dan penjara
Dalam gulita matahari diganti mercury
Otot-otot harus bekerja lebih panjang
Hingga ketika menuju rumah petak matahari sudah tak tampak lagi
“Aku merindu matahari agar tak patah rantingku.”
Tiba-tiba supermarket, mal, plaza mengepungnya
Merogohi kantungnya hingga pulang membawa tawa dan tangis

Otot-otot Bardi lunglai direbahkan pada malam gelisah
Sebelum subuh menggedor-gedor mimpinya
Untuk kembali menyibak embun, mengetuk pintu pabrik
Dan menjelma mesin!

Begitulah Bardi tiap hari hidup di Tangerang.

Sumber: Cisadane, ed. Ayid Suyiyno PS & Iwan Gunadi (Roda-roda Budaya, Tangerang, 1997) lewat Angkatan 2000, Ed. Korrie Layun Rampan (Grasindo, 2000)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *