Puisi: Satu Malam Pandemi Sebelum Pulang – Deri Hudaya (l. 1989)

Deri Hudaya (l. 1989)
Satu Malam Pandemi Sebelum Pulang

Di halaman depan rumah kontrakan
yang tidak mungkin terbayar lagi
dan jadi mirip neraka tapi belum bisa
ditinggal pulang malam ini, aku serahkan
diriku pada lirik-lirik lagu tentang pulang
sambil membayangkan sengkarut
imajinasi Columbus yang jauh.

Apakah pulang akan bernama pulang
jika benua tidak melahirkan anak-
anaknya, jika Adam dan Hawa tidak pernah
saling jatuh cinta di surga, jika kampung
dan kota dan pabrik dan jalan raya
tidak dibangun tuan-tuan kolonial yang
mesum dahulu kala, jika tak ada sekolah
dan pertanyaan perihal cita-cita.

Aku masih di sini, ditemani seekor
pulang yang luar biasa malas dan manja
tapi bulu-bulunya sehalus kehadiran
malaikat pencabut nyawa. Sekali lagi
aku memetik gitarku sambil meminum
sebotol kebimbangan Columbus
di bawah langit berwarna sengsara
tanpa ada nikmat-nikmatnya.

Bagaimanakah pulang jika ke sana
pun pulang, ke mana pun pulang,
di mana-mana pun pulang, ketika pulang
adalah bulan sabit keparat di atasku
seperti perahu lesung tersesat, rudin,
utopis, berisi buruh kere tanpa tabungan,
tak punya pesangon dan tidak mampu
mendapatkan pacar dari kelas borjuis
yang kebetulan budiman.

Pohon jambu tak tahu diuntung di depanku
menggugurkan bayang-bayang pulang
dari rantingnya. Apakah angin celaka
malam ini berembus dan menghasut
pulang hanya untukku? Demi setan-setan
penunggu jemuran, mengapa rumput liar
terus bergoyang di batok kepala,
mengingatkanku pada rumah butut,
pada tanah tandus kampung yang telah
lama bukan lagi milikku.

Atas nama Columbus yang sedih
dan habis, seekor pulang menyebalkan
di sampingku agak sempoyongan, lalu
berjalan meniti angin, berjinjit di kabel
listrik, mengeong pada atap-atap kota,
dan melenggang ke bulan yang tidak lantas
jadi purnama, masih seperti perahu lesung
yang tentu tidak agung seperti perahu
besar Nuh, tapi tenteram seperti batu
nisan. Setidaknya, di sana tidak harus
bayar kontrakan.

2020

Sumber: Bacapetra, 20 Januari 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *