Esai: Muhamad Yamin, Bahasa, dan Soneta

Muhamad Yamin, Bahasa, dan Soneta:

Yang Menanam dan Memetik Cempaka

  Oleh Hasan Aspahani

 

Beta bertanam bunga cempaka

Di tengah halaman tanah pusaka,

Supaya selamanya, segenap ketika

Harum berbau, semerbak belaka.

 

Beta berahi bersuka raya

sekiranya bunga puspa mulia

Dipetik handaiku, muda usia

Dijadikan karangan, nan permai kaya.

 

….

 

(“Gubahan”, Jong Sumatera, Thn. IV No. 4 dan 5, Mei 1921).

 

PADA mulanya adalah Mr. J.H. Abendanon. Ketika ia menjadi direktur Departeman Pengajaran di Hindia Belanda, pada 1900, ia meyakini Bahasa Belanda adalah jalan tercepat untuk memajukan rakyat tanah jajahan untuk sampai pada kebudayaan barat yang maju.  Ia adalah kursus-kursus bahasa Belanda, lalu kemudian resmi diajarkan di kelas 3 hingga 6 di sekolah rakyat terlebih di sekolah guru.  

Boedi Oetomo pada 1908 pun terpikat pada jalan kemajuan itu, dan menuntut untuk pertama kalinya agar Bahasa Belanda diajarkan secara luas. Baru pada 1914 bahasa Belanda jadi bahasa pengantar sekolah bersamaan dengan didirkan H.I.S di beberapa daerah. Yamin adalah produk sekolah itu.

Melihat kemajuan tersebut, ahli pendidikan Belanda kala itu Dr. G.J Nieuwenhuis menyarankan agar Bahasa Belanda dijadikan bahasa persatuan di Hindia Belanda, dan karena itu harus diajarkan lebih luas. Dia menolak bahasa Melayu. Sementara itu ada tokoh lain yaitu yang justru mencemaskan kemajuan itu.

Pada tahun-tahun awal abad ke-20 itu juga, Gubernur Jenderal Hindia Belanda berganti-ganti dengan sikap terhadap kebijakan soal bahasa dan gagasan pelibatan rakyat negeri jajahan dalam pengelolaan dan kemajuan negara yang juga berganti-ganti.

Gagasan untuk menjadikan bahasa Belanda menjadi bahasa persatuan tak dilanjutkan. Sementara penelitian terhadap bahasa Melayu semakin intens. Ejaan pertama yang dikembangkan Van Ophuijsen ditetapkan, pada 1901. Buku-buku bacaan produksi Volklekstur atau Balai Pustaka diselenggarakan sebagai kendali atas bacaan liar dicetak dalam ejaan standar itu. 

Melihat dinamika itu bangkit kesadaran di kalangan terpelajar untuk mengembangkan bahasa sendiri. Yamin ada dalam situasi itu. Jauh sebelum ia berpidato dalam bahasa Belanda mengenai “Kemungkinan Bahasa dan Sastera Indonesia di Masa Depan” pada 1926, dalam Kongres Pemuda yang pertama, Yamin menyadari bahwa bahasa Melayu itu adalah bahasa yang menyatukan orang Sumatera. Bahkan antarkerajaan dan kota-kota dagang di nusantara bahasa ini menjadi lingua franca. William Marsden pada abad ke-18, ketika menjelajahi Singapura menemukan bagaimana bahasa Melayu hidup dalam ekspresi lisan bernama pantun yang ia sebut sebagai sajak liris Melayu.

Jong Sumatranen Bond, organisasi pemuda terdidik Sumatera, yang berdiri dua tahun setelah Jong Java (1915), punya organ penting, yaitu majalah, dalam bahasa Belanda, tetapi mempunyai rubrik puisi dalam bahasa Melayu. Yamin menjadi anggotanya pada 1919, setelah dia tamat dari HIS (1918). 

Sajak-sajak Yamin, sebagian besar (19 dari 22 sajak) berbentuk soneta, mulai muncul di Jong Sumatra pada 1920. Artinya saat itu dia sudah bersekolah di Sekolah Normal dan terutama Sekolah Pertanian dan Dokter Hewan di Bogor (yang tidak ia tamatkan). Sebagian besar sajak-sajaknya ia beri tanda “Tanah Pasundan” di akhir sajak.

  Meskipun telah merantau, berada di Jawa, Yamin kala itu masih menyuarakan persatuan Sumatra. Puisinya yang kedua “Bahasa, Bangsa” (empat bait, masing-masing enam baris), terbit Jong Sumatera, Thn. IV, No. 2, Februari 1921, jelas ditujukan hanya kepada pemuda Sumatera. Kita kutip bait akhir:

 

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatera malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

 

Retorika Yamin di sajak ini tiada lain adalah perlunya memperteguh bahasa sebagai identitas bangsa. Beberapa larik terasa sebagai repetisi, untuk memperkuat pesan itu: terlahir dibangsa, berbahasa sendiri (larik ke-1, bait ke-2), besar budiman di tanah Melayu (larik ke-3, bait ke-2), dalam bahasanya, permai merdu (larik ke-6, bait ke-2), dalam bahasa sambungan jiwa (larik ke-4, bait ke-3), di mana Sumatera, di situ bangsa (larik ke-5, bait ke-3), di mana Perca, di situ bahasa (larik ke-6, bait ke-3), dan tentu di bait ke-4 yang dikutip penuh di atas.

Sajak ini memperluas dan mempertegas apa yang ingin disampaikan Yamin pada sajak pertamanya (“Tanah Air”, Jong Sumatera, Thn. III, No, 4, April 1920). Dalam dua sajak ini Yamin mencoba mencari bentuk. Sajak “Tanah Air” terdiri dari tiga bait, masing-masing 9 larik. Sebagai percobaan awal sajak “Tanah Air” tampaknya memuaskan Yamin. Sajak itu kelak ia kembangkan hingga 30 bait dan terbit sebagai sebuah sirkuler pada Desember 1922, sebagai persembahan untuk Jong Sumatranen Bond atau Persatuan Pemuda Perca, yang tahun itu berusia lima tahun.

Sajak “Tanah Air” sebagian besar menggambarkan alam Sumatra, himbauan masa depan, gugahan untuk bergeerak. Bait ke-9, kita kutip untuk mendapatkan gambaran isi sajak itu dan kaitannya dengan sajak “Bahasa, Bangsa”:

 

O, tanah, wahai pulauku

Tempat bahasa mengikat bangsa,

Kuingat di hati siang dan malam,

Sampai semangatku suram dan silam:

Jikalau Sumatera tanah mulia

Meminta kurban bagi bersama

Terbukalah hatiku badanku reda

Memberikan kurban segala tenaga,

Berbarang dua kuunjukkan tiga.

 

Sejak awal tahun abad ke-20, di Hindia Belanda soal bahasa di tanah jajahan itu jadi isu penting dan sangat politis.

Tanah air, bangsa, dan bahasa dalam dua sajak awal Yamin itu bukan atau belum Indonesia. Gagasan tentang nama Indonesia, termasuk bahasanya,  muncul nun dari para pemuda bumiputra di negeri Belanda. Salah seorang di antaranya yang terpenting adalah Muhamad Hatta. Ia ada juga menulis soneta di majalah Jong Sumatra.

Setelah Boedi Oetomo berdiri di tanah air, di Belanda berdiri Indische Vereeniging, perkumpulan pemuda pribumi dari berbagai daerah. Bersama para pemuda Belanda dan keturunan Tionghoa, yang merasa kelak akan sama-sama menjabat di Hindia Belanda, juga didirikan Indische Verbond. Organisasi yang mengikat berbagai organisasi pemuda Hindia Belanda di Belanda, tujuannya mempercepat tercapainya kemajuan ekonomi. Organisasi ini, menurut kesaksian Hatta, tak bertahan lama. Ada tujuan ideologis yang berbeda, sehingga isinya hanya perbantahan saja. 

Prof. Mr. Van Vollenhoven mengganti istilah inlander – yang sepertinya kian terasa pejoratif – menjadi Indonesier. Istilah baru itulah yang oleh para pemuda pribumi di Belanda direbut menjadi Indonesia. Indische Vereeniging berganti nama menjadi Indonsische Vereeniging, Perhimpunan Indonesia, yang membuat dengan cepat kata Indonesia menjadi pengganti Hindia Belanda dan Inlander, apalagi ketika di jalur politik perhimpungan ini melancarkan gerakan nonkoperasi.

Antara Hatta yang setahun lebih tua dari Yamin, dan Sanoesi Pane, yang lebih muda dua tahun, seakan ada kesepakatan untuk melancarkan gerakan kebangsaan juga lewat bahasa, di majalah Jong Sumatra, di mana mereka sama-sama menjadi penggerakknya. Mereka menulis sastra dalam bentuk baru, dengan tujuan dan misi yang melampaui sastra, dan dengan keinsyafan untuk itu harus ada yang membuka jalan.

“Marilah kita merambah jalan di hutan lebat ini, meskipun tiada kita sendiri yang akan menempuhnya,” tulis Yamin dalam artikel “Suara Semangat” (Jong Sumatra, Thn. III, No. 4, bersamaan dengan sajaknya yang pertama “Tanah Air”.  

Lantas apa strateginya? Bahasa telah diyakini benar oleh Yamin sebagai bagian tak terpisahkan dari meninggikan harga diri bangsa. Bagaimana menunjukkan bahwa bahasa Melayu ini adalah bahasa yang setara dengan bahasa bangsa lain? Harus dibuktikan bahwa ia juga bisa dipakai untuk menuliskan ekspresi puitik dalam bentuk yang mendunia. Yang paling menarik saat itu adalah soneta. Bentuk yang mereka kenal karena diajarkan di sekolah.

Bentuk itu telah dipakai oleh seorang pribumi Jawa yang menulis dalam bahasa Belanda. Soneta Noto Soeroto amat populer di Belanda. Pada 1913, 1917, dan kemudian 1935 Noto menerbitkan tiga kumpulan, apa yang membuktikan keberhasilan percobaan ‘menghias jiwa Timur dengan pakaian Barat”.

Yamin ingin membuktikan bahwa ‘pakaian barat’ itu bisa ia rombak, hanya diambil modelnya, lalu dijahitnya dengan bahan timur (bahasa Melayu) untuk memberi pakaian pada jiwa Timur. Itulah inti percobaan Yamin dengan soneta. Yamin tak seorang. Tapi jelas ia yang paling serius melakukannya, dan mungkin hanya Sanoesi Pane yang segelisah dengannya dan kemudian meneruskannya percobaan ini di Pujangga Baru. Yamin mempelajari benar bentuk itu dengan mempelajari soneta Willem Kloos (1859-1938) dan mengulas soneta J. Perk (1859-1881) dalam serangkaian esai di Jong Sumatera, ia juga menerjemahkan Melatilnoppen, salah satu buku Noto Soeroto. 

Sajak-sajak Yamin setelah dua yang pertama itu kemudian semuanya berbentuk soneta, dengan berbagai percobaan komposisi rima dan isi. Yamin, sepanjang Mei hingga September 1921 tampak asyik dengan soneta hingga menulis 19 sajak dalam bentuk itu. Lalu ia seakan sama sekali berhenti.  Yamin, Sanoesi, dan seorang yang lebih muda bernama Amir Hamzah (lahir 1911) bersama pernah mengupayakan sebuah majalah di luar Jong Sumatra, sebagai organ perjuangan yang lebh luas. Tapi upaya itu gagal. Kecuali Yamin, Amir dan Sanoesi, kelak duduk juga sebagai pembantu tetap “Pujangga Baru”.

Yamin muncul lagi dengan percobaan lain yang juga sangat menarik pada 1923 dengan “Bandi Mataram”, dan kelak di tahun 1928, dua hari sebelum Sumpah Pemuda ia menerbitkan kumpulan “Indonesia Tumpah Darahku’. Keduanya tidak dalam bentuk soneta.

Yamin lahir di Sawahlunto, 23 Agustus 1903, dalam garis darah Kepala Adat Minangkabau. Ia tampaknya menjalani hidup dengan gelisah, jalan pendidikannya berliku-liku. Mula-mula ia belajar di sekolah desa, lalu masuk HIS, dan tamat pendidikan dasar di Sekolah Normal. Ia lalu melanjutkan ke sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Pada saat itulah ia menulis soneta-soneta, sajak-ajak awalnya.

Yamin tak pernah menjadi ahli pertanian. Bogor ia tinggalkan tanpa ijazah, lalu ia masuk AMS di Yogya, hingga tamat pada 1927. Ia kemudian ke Jakarta masuk Recht Hogeschool, sekolah tinggi hukum, hingga bergelar MR, meester in de rechten, pada 1932. Lalu berpraktik hukum sebagai advokat. Ia berang karena namanya dicantumkan tanpa izin sebagai penyokong majalah Pujangga Baru yang disiapkan Armijn Pane (lahir 1908, adik Sanoesi Pane) dan Sutan Takdir Alisjahbana (lahir 1908).

Dua tokoh itu lalu menemuinya secara khusus untuk meredam kemarahannya. Karena Armjn menolak minta maaf, upaya membujuk Yamin gagal.  Bagaimanapun dukungan Yamin penting, sebab dialah yang memulai rintisan percobaan baru dengan soneta berbahasa Melayu. Yamin yang mulai sibuk sebagai advokat tampak tak tertarik lagi dengan puisi, jalan yang pernah dirintisnya dan kemudian dilanjutkan oleh tenaga-tenaga muda. Yamin – dengan tujuan yang sama – telah memilih jalan perjuangan lain.

Tulisan ini dimulai dengan dua oktaf soneta Yamin, “Gubahan” yang bersama lima soneta lain inilah karya pertamanya yang dimuat serentak di Jong Sumatera, Thn. IV No. 4 dan 5, Mei 1921. Saya ingin membaca ini sebagai sikap Yamin dalam berpuisi.

Cempaka di sajak ini bisa kita maknai sebagai sastra, atau khususnya puisi, lebih khusus lagi soneta, apa yang ia rintis, ia tanam, dan ia harapkan berbunga. Seberapa pun adanya bunga itu, kelak ia akan petik untuk dinikmati baunya, sebagai penghias kepala, penanda jejak sejarah, sumbangan kerja budaya, kerja seninya, sebagaimana ia tutup dlam pernyataan pada dua terset, yang kita kutip sebagai penutup tulisan ini. 

….

 Semenjak kuntuman, kecil semula

Beta berniat membuat pahala

Menjadikan perhiasan di atas kepala

 

O, cempaka, wangi baunya

Mari kupetik seberapa adanya

Biar kugubah waktu lagi muda.

 

Jakarta, 27 Juli 2021.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *