Obituari Gerson Poyk (16 Juni 1931-24 Februari 2017)

Ada Banyak Derita dan Absurditas di Dunia

Oleh Hasan Aspahani

makin terasa ada kesementaraan / berbunga dalam dada / bila kematian tadi di bayang sendiri / tanah kelahiran selalu menerima kepedihan umur / sampai pun suara seru; aku pun pergi tua selalu tersua / matahari pasir

Gerson Poyk

“ADA banyak derita dan absurditas yang terjadi di dunia ini, semua itu merupakan salib yang harus dipikul hingga ajal menjemput,” ujar sastrawan besar Gerson Gubertus Poyk. Khalayak sastra Indonesia lebih mengenalnya sebagai Gerson Poyk. Jumat (24/2) beliau mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Depok, setelah beberapa kali kabar tentang sakitnya, dan kesulitan biaya pengobatan beliau tersiar.

Gerson Poyk menulis kalimat di atas dalam pengantarnya untuk buku puisinya “Dari Rote ke Iowa” (Kosa Kata Kita, 2016). Puisi-puisi yang terhimpun di buku itu ia tulis sejak 1950-an. Keseluruhan puisinya di buku itu, salah satunya “Via Dolorosa” yang dikutip di awal tulisan ini, merupakan akumulasi dari kisah perjalanan kehidupan Gerson selama berkiprah sebagai jurnalis maupun sebagai penulis sastra.

“Puisi-puisi yang beragam isinya ini, merupakan penggambaran bahwa ketidakadilan selalu terjadi di mana-mana, dia berpagut mesra dengan kebahagiaan dan kesenjangan yang ada di dalam diri manusia,” ujarnya.

Sosok Gerson dikenang sebagai kawan yang baik hati, disegani, dan dihormati sastrawan lain. Leon Agusta (1938-2015), menyebut Gerson sebagai gurunya. Apa yang dipelajari Leon dari Gerson adalah kelihaian untuk selalu menghasilkan karya baru dengan keilmuan, bakat, dan karakter pribadinya. “Karya-karya Gerson bagi saya selalu menakjubkan,” kata Leon sebagaimana dikutip di buku puisi Gerson.

“Gerson kawan yang baik hatinya luar biasa,” kata sastrawan senior Sori Siregar. Sori sempat membezuk Gerson di rumahnya  dan bertemu dengan Abdul Hadi WM, Sabtu lalu.

“Dari Rote…” adalah buku terakhir beliau yang sempat terbit. Beberapa buku prosa karya Gerson antara lain: Hari-Hari Pertama, Sang Guru, Cumbuan Sabana, Giring-Giring, Matias Akankari, Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk, Nostalgia Nusa Tenggara, Jerat, dan Di bawah Matahari Bali.

Orang banyak lebih mengenalnya sebagai penulis prosa yang kuat. Karir kepenulisannya mulai ia rintis sejak menjadi wartawan Sinar Harapan pada pertengahan 1963 hingga 1970. Sebelumnya ia menjadi guru di Ternate dan Bima, sejak 1956 hingga 1963. Beliau lalu memilih menjadi penulis lepas, apa yang sudah beliau rintis sejak usia 19 tahun pada 1950.

Sebagai wartawan ia membuktikan kehandalannya ketika memperoleh hadiah Adinegoro dua kali berturut-turut pada 1985 dan 1986. Ini mengulangi prestasi yang pernah ia capai di tahun 1965 dan 1966 juga dua tahun berturut-turut.

Bekerja di koran sore Sinar Harapan, yang pada waktu itu adalah koran paling berpengaruh, tampaknya amat membekas bagi Gerson. Ia menulis sajak untuk itu: seorang mantan guru desa tertatih-tatih / bermodalkan naskah fiksi dan puisi-puisi / menjadi jurnalis koran sore Sinar Harapan / menulis di atas roda sepeda motor butut / ditelan keseharian mesin rutin.

Bersama Sori Siregar, Gerson adalah sastrawan Indonesia pertama yang mengikuti International Writing Program di University of Iowa, AS, pada 1970. Sebuah program residensi bagi sastrawan dunia yang tiap tahun mengundang sastrawan terpilih termasuk dari Indonesia.

“Banyak sekali kenangan saya bersama Gerson selama di Iowa. Kita nonton teater, diskusi, nonton film, yang sama, bersama-sama. Pesertanya dari 20 negara. Paling banyak dari Eropa. Waktunya lama, satu tahun. Sekarang kan cuma tiga bulan ya… Untuk writing program tahun itu adalah yang pertama diadakan. Sebelumnya kan di University of Iowa sudah ada writing workshop,” kata Sori.

Gerson juga memenangkan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand pada 1986. Pemerintah Indonesia memberikan Anugerah Kebudayaan untuk Gerson.

Yohanes Sehandi, pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Flores, Ende, mengaku tidak pernah bisa melupakan kisah-kisah Gerson meskipun ia membacanya tiga puluh tahun yang silam, ketika ia kuliah di Semarang.  “Cerita-ceritanya sederhana, unik, lucu, memikat, terkadang mengejutkan, namun tetap terselip nilai pendidikan dan moral kemanusiaan universal,” ujarnya dalam artikelnya “Gerson Poyk, Perintis Sastra NTT”. 

Fanny J Poyk, putri Gerson, pernah berbincang dengan saya di sela Musyawarah Nasional Sastrawan Insonesia di Jakarta, tahun lalu. Kami membincangkan kesehatan beliau yang turun karena usia, tapi semangat untuk menulis beliau masih menyala-nyala.

Saya melihat nyala semangat itu di mata beliau saat bertemu di Bentara Budaya, Jakarta. Fanny juga yang mendorong ayahnya di kursi roda ketika menerima penghargaan Lifetime Achievment Award dari Kompas, atas pengabdian beliau yang panjang dalam penulisan prosa.

Selamat jalan, Pak Gerson.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *