Penyair: Imaji dan Permainan Makna Sapardi Djoko Damono

SEBAGAI penanda usianya yang panjang, yang pada tahun 2015 mencapai tiga perempat abad, Sapardi menerbitkan buku puisi Melipat Jarak. Buku itu berisi 75 sajak yang dipilih olehnya dan Hasif Amini.

Sapardi adalah berkah dan legenda hidup dalam dunia sastra Indonesia saat ini. Ia menjadi saksi dan pelaku banyak peristiwa penting dalam perjalanan puisi Indonesia, dan hingga kini tak mengurangi produktivitas dan aktivitasnya menyair.

Sapardi Djoko Damono.

Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, anak pertama dari pasangan Sapariah dan Sadyoko, 20 Maret 1940.  Tempat kelahirannya yaitu Baturono, di sebelah timur kampung Gading, tak jauh dari Alun-alun Selatan, di kota Solo. Rumah kelahirannya adalah rumah kakeknya dari garis ayahnya. Ayahnya mula-mula bekerja sebagai abdi dalem kraton, lalu menjadi pegawai negeri.

Menulis puisi sejak SMA di Solo, 1957, dan sejak itu sudah menembus media-media penting di Jakarta. Pertama kali menerbitkan buku puisi duka-Mu abadi (1969), diikuti Mata Pisau dan Akuarium (1974). Lalu menerbitkan Perahu Kertas dan Sihir Hujan yang masing-masing mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Anugerah Puisi Putera, Malaysia pada tahun 1983. Buku puisinya yang paling dikenal publik Hujan Bulan Juni, yang salah satu puisinya juga sangat terkenal: Aku Ingin.

Sepanjang tahun 1989 hingga 2015 menerbitkan buku-buku puisi: Ayat-Ayat Api, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, Sita, dan Babad Batu.

Sapardi juga menulis prosa, novel dan cerpen, yang dibukukan dalam Membunuh Orang Gila, Trilogi Soekram, Hujan Bulan Juni, Sita. Dan sejumah buku esai Tirani Demokrasi, Slamet Rahardjo, Sebuah Esai, Mengapa Ksatria Memerlukan Punakawan?, dan Alih Wahana. 

Tahun 2012 Akademi Jakarta memberinya penghargaan untuk pencapaian seumur hidup dalam bidang kesusastreraan dan kebudayaan. Setelah pensiun dari Universitas Indonesia, Sapardi mengajar di Pascasarjana FIB-UI, Universitas Diponegoro, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), di mana dia juga menjadi Ketua Senat Akademik.

Sajak-sajaknya:
1. Dalam Doaku – Sapardi Djoko Damono

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *