Penyair: Darah dan Mantra Sutardji Calzoum Bachri

“SAJAK Sutardji menuntut permenungan yang dalam dan persediaan imajinasi yang kaya. Dunia sajak-sajaknya begitu kompleks, tidak bisa dirumuskan secara sederhana,” kata penyair Abdul Hadi WM, setelah membaca lagi sajak-sajak sahabatnya Sutardji Calzoum Bachri untuk menyambut 66 tahun usia si penyair yang dirayakan dengan khusus pada tahun 2007 lalu, antara lain dengan menerbitkan buku kumpulan tulisan “Raja Mantra, Presiden Penyair”. Tulisan Abdul Hadi ada di buku itu.

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri, lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, adalah pendobrak kebekuan puisi Indonesia pada tahun ketika perkembangannya terasa mampat.  Sajak-sajaknya menempatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia.  Kredonya tentang kata – yang ia sertakan ketika menerbitkan kumpulan Amuk,  yang hendak ia bebaskan dari belenggu kamus, penjajahan gramatika, beban moral kata, dan mengembalikan kata seperti dalam mantra, mengejutkan dan menjadi perdebatan panjang.

Lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung.  Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Sutardji membawa cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.  Panggung-panggung pembacaan puisinya selalu disesaki peminat. Ia menjadikan puisi seperti naskah teater di mana ia kemudian aktor yang memainkan lakon dari puisinya. Dia bergerak, melompat, berguling, menyelingi dengan permainan harmonika, dan menenggak bir yang tersedia di podium.

Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

Harry Aveling menerjemahkan sajak Sutardji ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979).

Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Gabungan tiga kumpulan sajak itu menampilkan pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

Pada 2008, Sutardji menerbitkan buku puisi Atau Ngit Cari Agar (Yayasan Panggung Melayu).  Sebelum atau bersamaan puisi-puisi awalnya Sutardji juga menulis cerpen yang banyak dimuat antara lain di Horison. Cerpen itu kemudian dibukukan oleh Indonesiatera pada 2001 di bawah judul Hujan Menulis Ayam. Penerbit yang sama menerbitkan kumpulan esai lengkapnya: Isyarat (2007).

Sajak-sajaknya:

1. Berdarah – Sutardji Calzoum Bachri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *