Esai: Yang Penting Kucinta Dayungmu yang Basah

Telaah Perpuisian D. Zawawi Imron Lewat Kumpulan Puisi “Kelenjar Laut”

 Oleh Hasan Aspahani


 

Bertemu di muara, udara penuh celoteh
Tapi tak ada orang yang menyebut tempat ini muara
Terserah! Yang penting kau bukan bedebah
Yang penting kucinta dayungmu yang basah

(“Bertemu di Muara”, hal. 17)

KERJA membaca sajak-sajak salah seorang penyair penting kita D. Zawawi Imron sebenarnya sangat menyenangkan. Apalagi yang saya pilih adalah sajak-sajak pada buku Kelenjar Laut  (Gama Media, Yogyakarta, 2007) .  Ini buku yang menandai semakin meluas dan meningkat pengakuan atas kepenyairan beliau, setelah pada tahun 2010 mendapat Southeast Asia Write Award dan Kerajaan Thailand. Sebuah pengakuan regional bergengsi yang ia terima setelah beberapa penghargaan dan kemenangan di dalam negeri.

Menyenangkan, karena saya menyukai sajak-sajak beliau sejak pertama kali membaca.  Tetapi tugas itu menjadi berat, justru setelah saya keasyikan membaca berulang-ulang buku tersebut. Sajak-sajak kelas satu memang memiliki ciri itu, seperti lagu yang baru enak terasa setelah berulang kali mendengarkannya. Berat Karena, pertama, mau tidak mau saya juga harus membaca lagi sajak-sajak lain dari buku lain, yang terbit sebelumnya. Dan itu banyak!  Zawawi termasuk satu di antara penyair kita yang bisa dikatakan prolifik. Ia penyair yng subur. Karena itu, saya kemudian memilih untuk membaca “Madura, Akulah Darahmu” (Grasindo, Jakarta, 1999). Buku “Madura….” ini saya anggap cukup, menjadi tonggak perkembangan persajakan Zawawi.  Sebab inilah 100 sajak pilihan yang dipilih sendiri oleh penyairnya yang ia anggap sebagai potret dari proses perjalanan 30 (dari 1966 hingga1996) tahun dia menyajak.

Adakah yang berubah dalam sajak-sajak penyair kita ini? Lalu apakah yang berubah itu? Dan ke arah mana perubahannya?

D. Zawawi Imron (Foto oleh Hasan Aspahani)

Kedua, saya  juga mengharuskan diri untuk membaca juga pendapat apresiator lain, sebab buku ini adalah titik yang tak bisa dipisahkan dari satu keutuhan linimasa kepenyairan penulisnya, dan saya tak ingin melepaskannya dari situ.  Dari buku yang sama, “Madura…” kita bisa menemukan penilaian Kuntuwijoyo atas sajak-sajak Zawawi. Zawawi, ujar Kuntowijoyo, adalah otodidak tulen, tinggal jauh di pelosok Madura, lebih pinggir dari pinggiran. Dan bertahan menulis lebih dari tiga puluh  tahun, kata Kuntowijoyo lagi, adalah sebuah konsistensi yang langka. Tentang sajak-sajaknya sendiri, Kuntowijoyo menyimpulkan:

Zawawi Imron melukiskan laut, kebun-kebun siwalan, dan desa. Karena itu, sajak-sajaknya dapat disebut mengungkapkan arcadian myth (mitos tentang kesederhanaan, pedesaan, nativitas).    

Secara fisik sajak, diksi, model pengucapan, cara Zawawi membangun imaji, tampaknya kesimpulan Kuntowijoyo masih bisa dipakai. Zawawi memang tidak beranjak dari sana. Tetapi, saya harus kutip lagi dengan segera kalimat Kuntowijoyo:

Adalah melegakan untuk melihat puisi-puisi arkadian. Seolah-olah di tengah gemuruh mesin, penciptaan manusia-mesin, dan pemujaan teknologi, kita diingatkan kembali tentang perlunya alam.

Dari tulisan ini, yang saya simpulkan nanti bisa saja dianggap berlaku sebagai kecenderungan  sajak dan kepenyairan D Zawawi Imron secara umum, meskipun tentu saja itu harapan jumawa. Kekayaan sajak-sajak beliau tak sesederhana apa yang nanti saya urai dan rangkum.

Bertemu sajak-sajak Zawawi seperti bertandang ke sebuah desa kecil, lalu kita diajak berkeliling dipandu oleh seorang yang ramah yang sangat tahu tentang desa itu, seluk-beluknya, keluh-kesahnya, flora dan faunanya, bukit dan lembahnya, sungai dan muaranya, laut dan gelombangnya, angin dan ilalangnya, anak-anak dan lelaki-lelaki yang berani, sapi dan lumpur sawahnya, rembulan dan embunnya, bunyi bonang dan saronennya, padang lalang dan hutan siwalannya.  Semua, lewat cerita si pemandu ramah tadi, tampak jadi amat berbeda, meski tetap akrab dengan kita pembaca.  Semua seperti menjadi milik khas desa itu.  Lelaki ramah itu adalah jenis orang yang kalau dia menasihati kita maka kita akan mendengarkan dengan ikhlas. Tapi dia sebenarnya tak ingin dan mau memberi nasihat. Jika pun itu terasa sebagai nasihat, maka nasihatnya sampai pada kita tak terasa sebagai nasihat.

Coba kita simak sajak ini:

Apa yang busuk bukan yang dingin
Itulah, kenapa kucari siratal mustaqim
Bersawah lelah, menuai tunai
Para wali menyusun sayap
Dalam zikir yang paling senyap

 Paling mustahil adalah derap
Yang membangun surga pada spanduk
Langit seratus tingkat sejuta tingkat
Menolak iman jadi slogan

 Saat bonang mengiang
Dan gong mengalun
Sunyi pun lapar

 Ke Mekahlah, tapi cari
Multazam dalam diri sendiri

(Kelenjar Sunyi, hal. 23)

D. Zawawi Imron (Foto oleh Hasan Aspahani

Di tangan penyair yang masih puber puisi, bahan sajak di atas bisa dengan mudah jatuh menjadi puisi nasihat yang – memakai istilah Sapardi Djoko Damono – habis sekali baca, bahkan selesai sebelum dibaca.  Kata-kata yang dipilih bisa menjadi tempelen agar terasa religius: siratal mustaqim, surga, iman, Mekah, multazam,… tapi di tangan Zawawi bahan sajak itu menjadi sajak yang berlapis tebal.  Kita bisa mengupas banyak makna dari sana. Ada ekspresi kesalihan yang kental tapi jauh dari kesan ingin riya (itulah, kenapa kucari siratal musqakim), ada hantaman kritik sosial (Paling mustahil adalah derap / yang membangun surga pada spanduk), juga nasihat untuk beribadah saja dengan ikhlas (Bersawah Lelah, menuai tunai…dalam zikir yang paling senyap), kekayaan budaya lokal yang selalu dihadirkan dengan wajar dan karena itu terasa indah (saat bonang mengiang / dan gong mengalun / sunyi pun lapar), dan akhirnya nasihat yang tak jatuh menjadi penggalan khutbah dari sebuah podium (Ke Mekahlah, tapi cari  / Multazam  dalam diri sendiri).

Adalah sebuah tindakan yang terlalu menyederhanakan jika saya sebutkan bahwa demikianlah sajak-sajak Zawawi sampai pada saya, sebagai pembaca yang gandrung.  Sajak di atas, dengan segala catatan hasil bacaan saya, hanyalah satu contoh bagaimana Zawawi bisa memukau kita.  Tapi tunggu dulu, si pemandu ramah tadi tak pernah berhenti di satu tempat. Desa dan alam puisinya yang tampak kecil itu adalah sebuah dunia yang tak habis-habisnya menawarkan penjelajahan dan kejutan. Dan saya senang.

Bahkan ketika ia mengajak kita duduk di rerumputan pun, dia akan bercerita tentang rerumputan itu.

Yang paling sepele adalah rumput
yang terinjak di sudut lapangan itu
Orang yang punya sepatu tidak merasa bersalah
dan merasa tidak bersalah

 Di jalan becek yang tak berumput
orang itu tergelincir dan roboh
yang tidak sepele barangkali kebersamaan rumput
tapi orang itu tak merasa bersalah

 Orang itu lalu menuduh hujan, lalu Tuhan
Untuk rumput tak bisa tersenyum
tak bisa menari

 
(Metafora Rumput, hal. 11)

Ini modus sajak lain dari sajak sebelumnya. Jika di “Kelenjar Sunyi” seakan-akan sajak berususan dengan hal-hal besar, di sajak “Metafora Rumput” ini sajak besar tak perlu selalu berangkat dari sesuatu yang besar. Melihat atau membayangkan orang terpeleset di jalan becek, Zawawi bisa menggubah sajak yang mencubit bahkan menampar, meski dengan ajakan untuk tertawa arif dengn kejenakaan yang samar.  Mengurus hal-hal kecil seperti itu, menjadi sajak yang utuh, adalah pekerjaan besar Zawawi, apa yang sudah ia kerjakan sejak awal kepenyairannya.  Ini memang bukan kekhasan seorang Zawawi saja. Penyair Sapardi, Abdul Hadi WM, Ramadhan K.H., Rendra dan Chairil pada beberapa sajaknya, melakukan hal yang sama.  Yang membuat Zawawi istimewa dan berbeda adalah karena hal-hal kecil yang ia pungut dan poles menjadi sajak adalah hal-hal yang akrab, bukan masa lalu yang jadi kenangan, tapi apa yang sehari-hari ada di depan matanya.

Zawawi jelas bukan penyair seperti John Keats dan T.S. Eliot yang menekankan kemampuan membuat negasi (negative capability), menghilangkan diri di dalam karya-karyaya.  Memakai kategori Rene Wellek dan Austin Waren, Zawawi adalah jenis penyair subjektif, dengan wajar membuka diri dalam sajak-sajaknya, menampakkan jejak-jejak biografisnya.  Mungkin dengan pemahaman itu, dia pernah membuka rahasia kehidupan dan kepenyairannya dalam satu peristiwa pembacaan sajak-sajaknya di Taman Ismail Marzuki, pada tahun 1984 lalu.  Ia ingin mengakrabkan hidupnya dan dengan demikian mendekatkan sajak-sajaknya kepada pembaca-pembacanya.

Saya harus merasa beruntung dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga miskin, di ujung timur pulau Madura, meskipun dengan kemiskinan itu setelah tamat SD saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke kota. 

(“Anjangsana” dalam Celurit Emas)

 
Desa itu bernama Batang-batang Laok. Jaraknya 21 km dari Sumenep, di ujung timur Pulau Madura. Desa itu terhampar di kaki bukit, di tengah bentangan sawah yang bertingkat-tingkat. Di antara sawah-sawah itu, tegak pohon-pohon kelapa. Sisi timur dan selatan desa itu dibatasi oleh hutan. Zawawi lahir, besar dan hingga kini ia masih menetap dan menulis puisi di sana. Dia selalu mendengar kokok ayam dan kicau burung-burung.

Saya harus hidup dengan menu sehari-hari berupa nasi gaplek dan ulam daun dadap. Saya pernah bekerja sebagai kuli yang mengangkut kantong daun siwalan dari Gudang dan menaikkannya ke atas truk. Saya juga pernah mengumpulkan batu-batu untuk menghampari jalan.

(“Anjangsana” dalam Celurit Emas)

Ia hanya sempat sebentar marah pada kehidupan yang hanya menyediakan menu berupa gaplek dan ulam daun dadap itu.  Itu bisa kita baca pada beberapa sajaknya yang paling awal. Ia tak lama meratapi itu.  Ia menemukan dirinya tumbuh sebagai sapi karapan yang dibesarkan dengan dan senyum airmata orang-orang Madura, orang-orang yang di tubuh mereka mengalir darah kekuatan yang sama.  Toh, kemudian ia selesai dengan urusan kemiskinan itu dan bahkan mengakui sebagai sebuah keberuntungan. Karena kemiskinan itu adalah sudut pandang, jalan, sumber penghayatan yang kaya – dan juga tema – bagi sajak-sajaknya.

Lapar menemani sepi
setelah akhir lagu menjadi ujung belati
dan rimbun kucari
di belakang hamparan sawah
seperti harum bajumu yang memandu sunyi

 Karena waktu tak pernah berhenti
karena gelagas tak tumbuh sendiri
kumaknai lapar ini
dengan lagu yang tak boleh dinyanyi
betapa penat
bertahun-tahun memikul janji

(“Lapar Menemani Sepi”, hal. 56)

D. Zawawi Imron (Foto oleh Hasan Aspahani)

Lapar, penat, sunyi, adalah kewajaran belaka. Kewajaran yang dihadirkan Bersama apa-apa yang amat akrab, hamparan sawah, gelagas, dan jukstaposisi yang mahir atas berbagai imaji-imaji yang tak simetris: lapar, lagu, belati, waktu, yang semuanya akhirnya sampai pada kesadaran betapa berat dan penat bertahun-tahun ia harus memikul janji.

Keterbatasan, kemiskinan bukanlah kemalangan bagi Zawawi. Kemiskinan memang ia lawan dengan kerja keras. Tapi kemiskinan itu sendiri terasa indah kelak ketika ia hayati dengan mata penyairnya. Ada telaga kecil tak jauh dari rumahnya. Juga sungai kecil yang riciknya, ia kenang, seperti nyanyian. Paduannya: desau angin dan gemerisik daun kelapa dan pohon siwalan. “Saya mendengar itu semua seperti suara zikir. Nah, di tengah alam yang sederhana yang memberikan keindahan dan penuh kegaiban itu saya dibesarkan,” kenang Zawawi, sebagaimana pernah ia paparkan dalam wawancara dengan Republika (19 April 1993). Itulah alam yang amat dikenal oleh Zawawi dan menjadi khazanah imaji, bahan pengucapan, yang tak habis bagi sajak-sajaknya.

Kenangan dan kehariinian, bagi Zawawi seakan tak berbatas.  Ia masih bisa dengan intens menulis sajak seperti “Nyanyian Dusun” yang mungkin kita bayangkan seharusnya ia tulis di awal-awal kepenyairannya, dan memang sajak-sajak sejenis ini banyak ia tulis sebelumnya.

Kupu-kupu berkelebat
menggoda kebetulan demi kebetulan
Matahari terperanjat
Di ketiak pohon talas
Di sana ada pelangi
menikmati gerimis serbuk-serbuk bulan

 Secarik langit jatuh di bumi
Jejaknya jadi danau
Di tepinya ada cinta
ada burung berbulu jerami
Di sini orang-orang ingin punya keringat
Dilengkapi lenguh kerbau dan sapi

 (Lagu Dusun, hal. 46)

Kali ini, di sajak ini, kita dibikin terpesona dan terperanjat oleh kelebat kupu-kupu. Kita tak merasakan lagi itu peristiwa kecil terjadi di sebuah dusun Madura atau entah di belahan bumi mana.  Tapi kita dirayu untuk menikmati harmoni yang tercipta dan kebetulan-kebetulan kecil alam semesta di dusun itu: kelebat kupu-kupu, terobosan cahaya matahari di sela batang-batang pohon talas, dan yang pernah tinggal di kampung, mandi di sumur di waktu pagi, di bawah teduh pepohonan di belakang atau disamping rumah, tahu bahwa dengan matahari pagi itu kita bisa menciptakan pelangi-pelangi kecil.  Bagi saya ini seperti sebuah pemandangan surealisme sederhana yang mewah.  Di dusun, dengan manusia-manusia yang tak tak berjarak dengan kesederhanaan yang mewah itu, yang dicari adalah keringat. Kerja. Orang-orang ingin punya keringat. Amanat, jika itu yang ingin dituntut dari sebuah puisi, selalu bisa diselipkan oleh Zawawi nyaris di setiap sajaknya.

Mari kita bandingkan sajak ini dengan apa yang ia tulis di tahun 1987, kita petik dari “Madura….”:

Kupu-kupu menari
Menaklukkan keangkuhan tebing-tebing
Dengan warna

Aku jadi ingin tahu
Siapa
Yang memetik tombak jadi kecapi.

(Siapa, hal. 96)
 

Berangkat dari imaji yang sama, yakni kupu-kupu, dua puluh tahun kemudian, meskipun tak memberi kita kejutan dengan sesuatu yang baru, Zawawi dengan sangat kuat menawarkan kesegaran baru, kejelian pengamatan yang tak kendor, dan yang penting adalah kemungkinan pemaknaan yang lebih dalam. Satu persoalan besar dan penting bagi penyair dengan usia kepenyairan yang panjang diselesaikan dengan tuntas olehnya.          

Beranjak jauh ke hulu waktu, kita mungkin ingin dapat jawab bagaimana Zawawi bisa tergerak menulis – dan terus menulis – puisi? Bagaimana dia bisa mengolah bahan-bahan di kampungnya itu menjadi puisi yang kaya imaji?

Ia mula-mula terpesona pada syi’ir, syair tradisional Madura, dan ia mencoba menuliskan itu, tentu saja dalam bahasa Madura. Yang dia rasakan adalah upaya menghasilkan syi’irnya sendiri itu tidak mudah. Ketika ia tunjukkan pada gurunya pun penilaian sang guru membuatnya patah arang. Ia kecewa. Tapi justru kekecewaan itulah yang menjadi titik balik penting bagi kepenyairannya.

“Ustad saya menilai bahwa bahasa Madura saya tak terlalu bagus. Ucapan itu membekas sekali. Maka setelah keluar dari pesantren, saya menulis puisi dalam bahasa Indonesia,” katanya.

Jalan puisi, dan puisi bagi Zawawi mungkin adalah jalan setapak bagaimana ia gambarkan di sajaknya berikut ini. Ia membuka, merintis, menjaga, dengan kata lain menciptakan jalan setapak itu untuk kita. Ia mengajak kita berjalan bersamanya di jalan setapak itu. Ia bercerita, bernyanyi, mengajak kita tertawa, di sepanjang jalan setapak itu.

Jalan setapak di tengah hutan
Aku bukan pemburu, tapi peluru
Terus berloncatan dari moncong hatiku
Yang bukan senapan

 Burung-burung berloncatan dari dahan ke dahan
Lagunya seperti menafsirkan
Gunung dan laut yang mulai terancam

(Jalan Setapak, hal. 53)

 

Gunung dan laut, alam dan kehidupan dusun yang tenteram itu ada di dalam diri Zawawi. Sebaliknya ia juga ada di tengah semesta kecil, dunia sajaknya itu. Dengan moncong hati yang bukan senapan, dan kesadaran bahwa ia bukan seorang pemburu, tapi peluru, maka ia melihat dan mendengar gejala alam (lewat nyanyi burung), sebagai tafsir dari adanya ancaman. Ia tahu tak ada yang baka, segalanya fana. Perubahan adalah sunatullah. Dan karena itu ia menulis puisi, sebagai catatan kesaksian.  Puisi-puisinya adalah peluru yang berloncatan, tidak ditembakkan. Tapi peluru  dari moncong hati yang bukan senapan itu akan dengan mudah kita temui di sepanjang jalan setapak. Peluru itu adalah peringatan bahwa ada yang tahu benar bahwa kedamaian itu mulai terancam. Ancaman yang bisa dimulai kapan saja.

Ketegangan akan adanya ancaman itu lebih terasa pada sajak lain, Setapak Jalan. Lihatlah, bagaimana judul – juga isi – sajak ini dibalikkan saja dari sajak yang kita urai tadi.

Ada lagi setapak jalan
di luar hutan, di tengah sabana
Aku punya senapan, tapi aku merasa kijang
Yang terus diburu dan terus diburu

 Di bawah langit yang kuhijaukan
Aku seperti yakin
Arah jalan setapak
Tak sama dengan sasaran peluru

 (Setapak Jalan, hal. 61)

Si aku sajak, tahu bahwa sabana kehidupan juga ada di luar hutannya tadi. Ada setapak jalan juga di sana. Dan ia menelusurinya.  Ia bukan pemburu, dan ia merasa punya kemampuan untuk membaca juga kehidupan di sabana itu, tapi dengan senapan yang ia punya itu, ironisnya, dia merasa kijang yang terus dan terus diburu. Dengan sabana yang terbuka, langit jelas ada, tampak dan si pemilik senapan tadi membayangkan langit itu hijau, sehijau sabana.  Ia yang menghijaukan langit itu baginya sendiri. Dengan cara itu ia yakin, merasa yakin, bahwa jalan setapak yang tengah membawanya melintas menyeberangi sabana itu, membawanya berjalan ke arah yang tak sama dengan sasaran peluru. Dan sebagai kijang yang merasa diburu, keyakinan itu membuat dia tahu bahwa dia ada di jalan yang benar dan dia akan selamat.  Sebuah permainan makna yang padat, padu, dan pesan tak terasa dijejalkan di situ, bahkan itu terasa seperti hadir begitu saja, tentu perlu kejelian dan pengalaman sebagai pembaca untuk menikmati penemuan-penemuan makna itu.  Kepada pembaca, Zawawi memang menuntut kita untuk mengasah kejelian itu.

Mari kita sedikit melakukan kilas balik. Ada sajak Zawawi berjudul, Dialog di Bukit Kemboja (1992). Ini adalah sajak D Zawawi Imron yang banyak dibicarakan setelah menang lomba puisi nasional yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi.  Dari sajak itu kita bisa belajar bagaimana dia bekerja menghasilkan puisi-puisinya untuk kemudian kita bisa lebih menikmatinya.

Umumnya, sajak-sajak Zawawi bergerak antara yang liris-imajis dan yang epik-naratif. Dalam wawancara dengan Republika, Zawawi menjelaskan bagaimana ia menulis sajak “Dialog…”. Di sajak itu, dia tidak bercerita dalam alur yang terang-benderang, meskipun ia bicara lewat tokoh-tokoh yang berdialog. “Gaya penulisan saya tidak eksplisit dalam bercerita,” katanya.

Kadang-kadang Zawawi hanya bicara ironi, karena menurutnya dia memang tidak ingin menjelas-jelaskan dalam puisi. “Dan memang tidak bisa dijelaskan secara tuntas. Justru dari ketidakjelasan itu diharapkan ada semacam bias-bias yang bisa ditangkap,” ujarnya.
Kesamar-samaran pengucapan itu, menurutnya, bisa jadi dipengaruhi oleh puisi-puisi lama Madura yang hanya berupa sindiran-sindiran halus, sanepa-sanepa. Nasihat-nasihat yang tidak langsung, dan gambaran alam yang menjadi personifikasi manusia. Tentang hal ini, sajak berikut ini mungkin relevan untuk dikaitkan:

Tak mudah memproses diri menjadi angin
sebelum hening melompat
ke dalam gulungan layar
Engkau kucari, dan terus kucari
Sampai tiba-tiba kujumpa senja yang mawar

 Siapa yang masih bersiap ke dalam angin
Ah, tak usah berkabar tentang ranting yang patah
atau irama gambang yang latah
Antara langit dan bumi siapa yang salah?

 Orang-orang sudah tahu jawabnya
Kemana engkau akan mengaji
tentang seutas benang yang direntang matahari

 Angin sendiri akan lari
untuk tidak disebut angin
Ia ingin menjadi sesuatu yang memang lain.
 

(Kelenjar Angin, hal. 68)

 Yang dia tulis dan disebut puisi itu, yang membuatnya disebut sebagai penyair besar itu, yang mengantarkannya sampai di senja (usia) yang mawar (nama yang harum), yang membuat pikiran, permenungan, penghayatannya atas kehidupan, eksistensi manusia, makna kehadiran dirinya di dunia, terus bergerak seperti angin, ia akui bukanlah suatu proses yang mudah.  Ia juga bisa merasakan kehadiran angina ketika angina itu sendiri tak ada, ketika hening melompat ke dalam layar yang tergolong, ia bisa berlayar ketika kapal tak membentangkan layar.  Ia juga merasa perlu merendah bahwa segala makna yang ia tawarkan dalam puisi-puisinya sebenarnya telah pula diketahui oleh orang.  Tapi ia telah sampai pada hakikat keikhlasan angin, yang ingin menjadi sesuatu yang memang lain. Hakikat angina adalah gerak. Menggerakkan.  Hakikat kerja menyair dengan puisi yang hadir sebagai tanda kepenyairan adalah menggerakkan hati pembacanya. Angin dan penyair itu tak perlu lagi disebut-sebut ada, tapi nikmati saja gerak batinmu yang disebabkan oleh hembusan makna puisinya. Sajk-sajak Zawawi, dengan hormat harus kita dudukkan di tempat yang sereligius itu, sebagaimana terulas juga di bagian tulisan ini, tanpa berpretensi untuk menjadi seperti itu.

Lahir, tumbuh, dan hidup di tengah kultur masyarakat Madura yang religius disadari benar oleh Zawawi mempengaruhi bahkan membentuk puisi-puisi yang dia tulis. Sajak-sajaknya selalu bernafas religius, bahkan ketika ia tidak bicara soal religiositas.

“Tak ada hal khusus kenapa terjadi begitu. Faktor utamanya karena hidup dan kehidupan saya selama ini berada di lingkungan religius,” kata Zawawi.

Pendidikan formalnya setelah SR adalah pesantren, ia berceramah, dan mengajar di pesantren. Ia membaca dan mengenal benar syi’ir-syi’ir atau sastra lama Madura yang umumnya mengungkap soal-soal keagamaan, misalnya indahnya surga, perilaku hidup sesuai panduan agama, riwayat nabi, dan tentang maut. Tentang itu kita mungkin bisa merujuk ke sajak “Ada Sisa Ujung Alif”:

Ada sisa ujung alif
di relung anganku
yang kupertahankan menjadi benih telaga
(benih samudera)
Yang kuhampar di hati ibu

 
(Ada Sisa Ujung Alif, hal. 2)
 

Ia mungkin merasa tak banyak belajar secara formal, juga hanya sebentar di pesantren. Ia hanya bisa menyimpan satu sisa ujung alif. Tapi itulah yang ia pertahankan dan ia kembangkan menjadi benih telaga bahkan benih samudera. Tentu saja dengan kegigihan, kerja keras, penghayatan yang intens atas kehidupan yang dekat dengan Yang Maha Mencipta, Sang Pemilik Semesta Huruf.

Akulah masalah sekaligus masa depan
Hidup bagai rahasia tapi tak pernah bisu
Antara kata yang membusuk
Dan yang bertahan
Puisimu kadang hadir mewakili curah hujan.

(Ada Sisa Ujung Alif, hal. 2)

Menyair, bagi Zawawi sebagaimana bisa kita simpulkan dari sajak-sajaknya, juga sajak “Ada Sisa…” adalah pekerjaan besar memaknai kehidupan, membongkar atau membiarkannya menjadi rahasia, juga menghidupkan nafas Tuhan dalam kehidupan ini, lewat angin yang  ikhlas dan karena itu tak mau disebut angin. Bekal ilmu tak pernah cukup, karena itu teruslah merasa bahwa yang kita punya sebenarnya hanya sisa ujung alif.  Bicaralah dengan makna, bagi penyair tentu lewat puisi, karena nasib kata hanya dua: membusuk atau (jika itu puisi yang baik maka ia akan) bertahan. Yang bertahan itu kadang bisa adalah hujan, apa yang beralusi pada Q.S. An-Nahl 65, “Dan Allah  menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Sebagai penyair, Zawawi meyakini bahwa puisi membutuhkan kerjasama antara penyair yang menuliskannya dan pembaca yang memaknainya. Baginya puisi bukan segalanya. Puisi hanyalah salah satu sisi saja dari kehidupan manusia. Memang, katanya, puisi punya kekuatan, tapi penyair punya keterbatasan untuk memberdayakan kekuatan itu. Maka baginya, penting sekali seorang penyair mengetahui keterbatasan dirinya, sebagaimana dia yang hanya merasa memilik sisa ujung alif tadi. Di bait lain sajak yang sama ia menulis:

Yang dulu fitrah kini membusuk dalam darahku
Ada bangkai dalam dagingku
Ranting-ranting jadi duri jadi paku
Yang menusuk-nusuk mataku.

(Ada Sisa Ujung Alif, hal. 2)

 Di mana posisi pengamatan Zawawi sebagai penyair? Aku di sini, memandang ke tengah lembah / Kudengar gumam  angin yang basah / Hatiku rasa tergugah / oleh rindu balai-balai bambu / tempat aku kecil dulu ditidurkan ibu.   Ya, di posisi yang sesederhana itu. Di sini itu bisa di mana saja, di mana ia sebagai penyair bisa mendengar gumam angin yang basah.  Mendengar apa saja yang membuat hatinya tergugah. Rindu pada hal-hal sederhana yang membuatnya tenteram, tertidur, seperti ditidurkan ibu di waktu kecil itu. Ia bukan merindukan yang tak ada. Tapi ia membayangkan apa yang pernah ia pandanga di tengah lembah kehidupan itu terbentang seimbang.

“Saya tidak pernah mengalami kehidupan politik, maka sulit bagi saya untuk menulis puisi-puisi yang bernada politik. Tahunya saya ya perahu, karapan sapi, orang tenggelam ke dalam laut, kemarau panjang, dan pak tani tak bisa bertanam, kembang-kembang tembakau yang bermekaran di ladang dan sebagainya,” paparnya.

Puisi bagi Zawawi tidak punya daya paksa. Puisi tidak bisa menyuruh orang untuk berbuat sesuatu seperti bunyi sebuah surat keputusan resmi. Tapi puisi menyasar pada hati pembacanya. “Tugas puisi ya memberi kesegaran-kesegaran rohani kepada manusia,” ujarnya.

Bagaimana bisa memberi kesegaran rohani jika puisi yang ditawarkan tidak membawa kesegaran? Dua sajak yang dibandingkan sebelumnya, telah menjadi bahan pertimbangan saya untuk menyimpulkan bahwa Zawawi menyelasaikan tugasnya itu. Mari kita ambil satu sajak lagi dari “Madura…” untuk diperbandingkan.

Alif, alif, alif!
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku
alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan

                                                terang
                                                hingga aku
                                                berkesiur
                                                pada
                                                angin kecil
                                                takdir-

                                                mu

(Zikir, hal. 81)

Dalam satu perbincangan, Zawawi pernah mengatakan bahwa dia memang tak pernah berhenti membaca ulang sajak-sajaknya. Saya kira, sajak “Ada Sisa Ujung Alif” yang dibahas di atas adalah sajak yang ditulis sebagai hasil bacaan atas sajak “Zikir” (1983), dua sajak berjarak lebih dari 20 tahun. Apa yang terjadi dalam rentang waktu semenganga itu? Pada “Zikir” ia hanya sampai pada kesimpulan yang terasa datar dan generik: alifmu yang satu / tegak di mana-mana.  Tapi pada sajak yang kemudian ia berhasil, membangun imaji yang lebih komplek dengan makna tetap utuh, lebih dalam, membawa kesegaran lain, dan kali ini bahkan juga sesuatu yang baru: Akulah masalah sekaligus masa depan / Hidup bagai rahasia tapi tak pernah bisu. Urusan dengan Tuhan, bukannya tak lagi penting, tapi kesadaran tentang tugas manusia dan tindakan memilah dan menyadari … / Antara kata yang membusuk / Dan yang bertahan /… untuk mempertegas keagungan dan kehadiran Tuhan itu lebih mustahak untuk ditunaikan, itu sebabnya maka…/ Puisimu kadang hadir mewakili curah hujan.

Zawawi bukan penyair yang tak peduli pada pembaca. Ia membuka diri menerima pembaca sebagai apresiator. Ia menyadari perlunya kerja sama antara penyair dan pembaca sebagai dua pihak yang saling membutuhkan. Penyair menawarkan kesegaran makna yang dengan itu maka puisi memiliki daya sentuh, sementara pembaca mengasah kemampuan apresiasinya sehingga menjadi peka untuk merasakan sentuhan dan kesegaran makna yang ditawarkan.

“Bahkan puisi yang ditulis seorang maestro seperti Chairil Anwar pun di hadapan pembaca yang tarap apresiasinya rendah bisa jadi tidak akan berbicara apa-apa,” kata Zawawi.

Maka puisi, bagi Zawawi, dan ia berharap juga bagi pembaca sajak-sajaknya dalah sebuah pertemuan di muara.  Tempat yang mempertemukan alir sungai dan ombak laut.  Sungai yang bermuara pada puisi itu mungkin punya aliran yang beda, tapi muara puisi itu memungkinkan sebuah pertemuan.  Tak penting itu disebut puisi atau bukan, dinilai sebagai puisi yang seperti apa.  Pertemuan itu yang penting.

Dan, yang penting kucinta dayungmu yang basah, ujarnya. Dayung yang basah. Orang-orang yang rindu ingin berkeringat. Manusia yang bekerja. Itulah manusia Zawawi. Religiositas bukan sekadar menadah tangan dan berdoa. Kesalehan orang-orang dalam sajak Zawawi adalah kesalehan orang yang berjuang dan bekerja, yang berkeringan dan yang dayungnya basah, oleh air laut dan sungai yang ditempuh sampai pada pertemuan di muara makna, muara hidup yang berarti.

Perdebatan memang bukan urusan bunga-bunga
Sedangkan layar yang yakin berdebar
Sesekali memberi isyarat
Pentingnya jiwa manis untuk mengelak ancaman karang

(“Bertemu di Muara”,  hal. 17)

Dan pertemuan itu bukan akhir dari perjalanan. Karena akan ada pelayaran masing-masing. Sedangkan layar yang yakin berdebar. Layar adalah salah satu metafora favorit Zawawi, sebagaimana kita temukan di sajak ini, juga di sajak lain yang dikutip sebelumnya.

Jadi, adakah yang berubah dalam sajak-sajak penyair kita ini? Bagi saya, ia tetap lelaki ramah yang membawa kita berkeliling dunia kampungnya, sambil dengan asyik dan memukau kita dengan ceritanya. Ia tetap saja penyair yang bahagia sebab telah berhasil – meski ternyata tak pernah selesai – menyingkap  aneka rahasia dan teka-teki alam dan kehidupan.  Kita masih mendengar Zawawi bersiul dan bernyanyi seperti gadis-gadis desanya mencari kayu bakar di tengah belukar, atau siul para pemanjat pohon siwalan.

Bahasa sajak Zawawi  tampaknya selalu ramah untuk dimasuki. Terasa lebih diafan ketimbang prismatis.  Tapi jelas ia berhasil menempatkan posisi sajaknya untuk tidak jatuh pada sajak yang terang-benderang dan Karena itu sesungguhnya tak selalu mudah dimaknai. Paling tidak, ia selalu berhasil dengan sangt wajar menyusupkan mutiara makna hasil penghayatannya atas hidup.  Ia memang pernah menyebutkan perihal ini. Dalam pergulatan hidup ini, katanya, ia lebih banyak menghayati, meskipun ia berusaha juga untuk mengerti. Saya harus percaya benar, bahwa sekian puluh tahun setelah pengakuan di buku Celurit Emas (Bintang, Surabaya, 1986) itu, ia kini lebih jauh lebih banyak mengerti. Tapi, tampaknya puisi-puisinya tetap saja lebih banya lahir dari penghayatannya. Dan penghayatannya – sebagai mana kita lihat dalam sajak-sahaknya – kemudian lebih dalam sebab ia banyak yang ia mengerti.

Lalu apakah yang berubah?  Istilah sajak-sajak arkadian, seperti kata Kuntowijoyo, masih bisa kita kenakan pada karya-karya Zawawi di buku “Kelenjar Laut” ini. Tapi jelas bukan mitos. Juga bukan konsep-konsep sufistik yang menjulang atau rumit. Mungkin sajak-sajaknya adalah sajak arkadian spiritualistik, jika memang penyebutan seperti harus ada.  Yang berubah adalah dia semakin mempesona kita lewat keberhasilan mengolah bahan yang tampaknya itu-itu saja, dan menawarkan kesegaran citraan dan kedalaman dan keluasan makna. Itu tidak dihasilkan jika si penyair kita ini tidak mencurahkan energi menyair yang lebih banyak atau setidaknya stabil.

Dengan kekukuhan  jejak dan posisi kepenyairan semacam yang diuraikan dan disimpulkan di atas, jelas Zawawi menebar pengaruh yang tak sedikit bagi penyair sesudahnya. Terutama pada mereka yang menempuh jalan puisi sufistik. Tetapi para pengekornya harus hati-hati, pesona sajak-sajak Zawawi bisa menjebak.  Kesederhanaan penampakan tampaknya mudah ditiru, tapi sajak-sajak kita ini hasil dari kemampuan untuk menangkap sunyi di tengah udara muara yang penuh celoteh. Dan dia tak berhenti di kedalaman muara. Ia bergerak terus menyelami kedalaman makna.  Dan itu hanya bisa dilakukan lewat intensitas penghayatan atas bahan-bahan sajak yang didapatkan dari kehidupan. Kekuatan penghayatan itu yang membedakan. Karena kebutuhan untuk terus memperhebat penghayatannya itulah yang membuat kyai penyair D. Zawawi Imron kita ini dalam pidatonya di TIM pada 1984 dulu itu  berkata, “saya harus banyak introspeksi dan meminta nasehat teman-teman, agar saya dengan kepenyairan ini tidak terperosok ke dalam dunia popularitas yang pada hakikatnya tak ada gunanya!”

Dan dia konsisten.

Kepada dirinya sendiri dan kepada kita pembacanya ia memperingatkan untuk tidak menjadi manusia yang brengsek: yang penting kau bukan bedebah, dan mengingatkan kita untuk tidak berhenti dan terus mengayuh biduk kehidupan, karena: … kucinta dayungmu yang basah.

  Jakarta, 5 Juni 2017

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *