Puisi: Secarik Berkas Lama – Yona Primadesi

Yona Primadesi
Secarik Berkas Lama

Laut hanya sedu-sedan ombak
saat rantai jangkar dikerek naik,
rengekanmu bagai barang jarahan
direnggut dari tangan bapakmu
di dermaga itu.

Kautatap Dili—mereka
seakan kayu terpancang,
tinggallah rok masa kecilmu
terlipat di lemari-usia ibumu.

Hatimu
bagai hutan terpencil
dalam mata mungil seekor kenari
—kau menatap pulang
jauh ke langit, khayalan rumah
dari rasi bintang; sebidang ladang
jagung dan kopi, dan awan
persis bulu kambing
sekilas terkatup kelopak kantukmu.

Pagi serupa pagi berikutnya,
jam belajar telah dicampak keluar;
jalan Kendari ke Kolaka
dicatat telapak kakimu,
Bone dan Enrekang sodorkan kursi,
mengajarmu bagai monyet yang mesti
patuh pada erangan malas majikan.

Di Polsam adalah kandang
untukmu dan Maukunda
—saudara angkat
yang separuh hari belajar
menjadi beo di sekolah,
dan kerbau bagai di siang hari.

Tiga tahun, tubuhmu
jadi pelampiasan otot
sehari-hari macam tinta stempel
pada surat kontrak ilegal,
sampai seorang sejawat Tuanmu
tukar tebusan iba bagimu ke Takalar.

Satu engahan kembali
membuka jam belajar,
kau duduk mencatat,
menekuri abjad
demi menjawab muasalmu
yang samar; desa Susekar
atau Malmera atau Remeksio,
air matamu berlinang bagai lensa minus
saat Miggel meluapkan kenanganmu,
lantas di hatimu tumbuh lagi
rindu itu, seperti bibit-bibit jamur
bertahun kau rawat di Malino.

39 tahun tumpukan berkas
masa silam dipenuhi stempel
cap Seroja, pelan kau perinci
hingga kau meringkuk di sudut sofa
seperti Kauka—nama kecilmu
yang menyusut di satu sel otak
di sela hari-harimu sebagai istri.

Sumber: Media Indonesia, Minggu 5 November 2017

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *