Puisi: Nyanyian Kekasih – Muhammad Subarkah (l. 1969)

Muhammad Subarkah (l. 1969)
Nyanyian Kekasih

Pada deretan plaza aku temukan sosok bayanganmu yang membatu. Hidup menjadi antrian keluhan. Ada yang menjelma kecap, ketimun, selada, daging babi panggang, kaleng bir, cendawan hutan, atau sekawanan binatang ternak.

Kekasih, aku potong kepalaku sendiri ketika hujan pagi ini menggenangi got-got dan pelimbahan komplek taman. Sebelum itu aku telah pakukan namamu pada bangku taman dan tiang ayunan. Angin hanya beku memandangku ketika mata gergaji mulai menetaki ruas batang leher. Tak ada darah. Tak ada air mata. Tak ada lenguhan. Semua diam membisu.

Percuma bila Tuhan kau keluhkan. Nasib menuai mati di tanganku. Tak perlu lagi doa yang kau ulurkan karena itu telah berubah menjadi sulur akar pohon yang akan merambati batu nisanku.

Kekasih, alangkah indahnya bila hidup sudah seperti mati!

2003

Sumber: Republika, 19 Agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *