Puisi: Menjadi Kambing Berjamaah – Benny Arnas (l. 1983)

Benny Arnas (l. 1983)
Menjadi Kambing Berjamaah

Orang-orang berkerumun.
Dengan wajah yang penuh.
Bibir yang merapal.
Langit jatuh.
Matahari tumbuh.
Pohon-pohon melepuh.
Bumi berpeluh.

Ibu dan Anak mendekati.
Ikut berkerumun.

Seorang wanita tua.
Berjubah bludru.
Berkerudung ungu.

Aku adalah penyanyi dari surga!
Suaranya bergema.
Menggetarkan.
Meremangkan.
Menciutkan.
Mengancam dengan indah.
Mencekik dengan tali api dari angin.

Orang-orang menunggu.
Kapan ia bernyanyi.
Orang-orang tak sabar.

Seperti apa nian.
Suara dari surga itu.

Ibu bertanya:
Maaf, Penyanyi.
Penyanyi dari surga.
Suara apa yang paling susah kautiru?

Bumi berhenti bergasing.

Ibu menanti jawaban.
Orang-orang menanti jawaban.
Orang-orang memeram penasaran.

Suara al Kindi dan Mencius, jawab wanita tua itu.

Orang-orang mengangguk-angguk.

Ibu bertanya.
Lagi.

Wanita itu mendelik.
Menantang.

Lalu.
Suara apa yang paling mudah ditiru?

Wanita itu diam.
Lalu terkekeh.
Terbahak-bahak.
Sungguh.
Suaranya bergema.
Menggetarkan.
Meremangkan.
Menciutkan.

Orang-orang menunggu.
Kapan ia bernyanyi.
Orang-orang tak sabar.
Seperti apa nian.
Suara dari surga itu.
Suara wanita itu.

Ia menjawab:
Suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan!

Orang-orang terperanjat.
Tubuh mereka menggigil.
Mereka takjub.
Mereka ketakutan.
Mereka terperangkap.

Tapi tidak buat Ibu dan Anak.
Ibu menggamit tangan Anak.
Keluar dari kerumunan.
Pergi.
Meninggalkan kerumunan.

Ibu, ujar Anak.
Menengadah ke wajah Ibu yang biru.
Seperti langit yang hampir jatuh.
Mengapa kita berlalu.
Tidakkah kita ingin membuktikan kehebatannya?
Seperti apa nian suaranya.
Suara dari surga itu.

Diam, Nak.
Dia penipu!

Bagaimana Ibu tahu?

Kita belum pernah mendengarnya.
Siapa tahu dia memang hebat.
Penyanyi dari surga!

Ibu menghentikan langkahnya.
Menatap Anak.
Belajarlah.
Berkhidmatlah.
Hayatilah hidup.

Bilapun ia kumandangkan suara malaikat, hantu,
dan titah Tuhan, apakah akan kauiyakan?
Apakah orang-orang akan menjadi kambing berjamaah?
Kalian tidak memiliki perbandingan!

Anak diam.

Wanita itu takkan dapat meniru al Kindi dan Mencius.
Kita hidup bersamaan dengan pandai musik jagat raya
dan orang nomor dua setelah Konfusius.
Dia takkan bisa meniru.

Tapi kupikir.
Dia bukan penipu, Bu.

Lalu apa, Nak?

Dia itu Iblis.

Kau juga tahu dari mana ia datang, bukan?

Anak mengangguk.

Sebutkan?

Dari neraka

 

Sumber: Basa-basi.co (6 Desember 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *