Puisi: Di Atas Kata Mati – Eka Budianta (l. 1956)

Eka Budianta (l. 1956)
Di Atas Kata Mati

Katakan, aku tidak sedang
menunggu jenazahmu, sayang.
Ini hanya hidup, hanya sepotong
kegiatan kecil di atas napas sejarah.
Tahun-tahun itu, cinta kita, katamu
hanyut dalam cahaya malam.
Lalu di muara umurku ini,
aku menemukan kembali:
pertemuan kita, persetubuhan kita,
anak-anak, pertengkaran, dan perpisahan.
Lalu kesadaran, jauh dan kembali.
Juga surat-suratmu yang memenuhi laciku
Juga harapanmu, kepercayaanmu,
kesetiaanmu, semua jadi suvenir
memenuhi museum kenanganku.

Di Hong Kong, di Tokyo, di San Francisco,
New York, dan sekarang di London
planet kita mempermainkan perasaanku.
Sekarang katakan, aku tidak menunggu
jenazahmu di kamar pengap ini, kekasihku.
Katakan di luar masih ada langit
ada kubur, laut luas tak terbatas.
Lalu ada aku dan kau dalam cerita
yang diulang-ulang tak ada habisnya.

Lepas dari istri dokter itu,
lepas dari burung-burung kenariku,
lepas dari angan-anganku yang
membuatmu mati karena cemburu,
aku masih pangeranmu.

Sekarang katakan engkau tak mati.
Engkau tak meninggalkan aku sendiri.
Engkau bersamaku menulis cinta
Di atas kata mati.

Sumber: Rumahku Dunia (Puspa Swara, Jakarta; 1993)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *