Esai: Sastra yang Sehat dan Penyakit Puisi Esai

Oleh Hasan Aspahani

MISALNYA, pada zaman yang sama dengan Chairil Anwar, hidup seseorang yang menulis puisi yang sangat bagus tapi dia tak pernah menyiarkan karya-karyanya hingga ia meninggal. Karyanya pun hilang tak pernah dibaca oleh siapapun. Sehebat apapun karyanya, penulis puisi itu tidak menyumbangkan apa-apa bagi perkembangan sastra Indonesia.

Itulah perumpamaan sederhana yang saya buat untuk memahami suatu hal mudah yang seringkali dibuat rumit dan rancu dalam pembicaraan kita tentang sastra. Yaitu soal sosialisasi sastra. Karya sastra, kata Jacob Sumardjo, ditulis bukan tanpa tujuan sosial. Sastra, katanya, bukan terapi jiwa untuk mengobati sakit yang diderita sastrwannya.

Sosialisasi Sastra
Sosialisasi sastra melibatkan empat pihak pokok, yaitu: sastrawan yang melahirkan karya sastra; penerbit sastra yang menyiarkan karya sastra; masyarakat yang membeli dan membaca karya sastra; dan maecenas sastra atau pelindung sastra jika ikhtiar untuk menyiarkan karya sastra itu oleh penerbit sastra dianggap tak sepadan dengan imbal balik minimal yang pantas yang ia perlukan untuk mempertahankan perannya.

Peran maecenas sastra bisa dan kerap harus diambil alih oleh negara. Ini yang terjadi misalnya dulu dalam proyek pengadaan buku Inpres, yang tidak hanya memakmurkan sastrawan tetapi juga penerbit sastra.

Ada satu pihak lagi, yang juga penting, tetapi menurut Jacob Sumardjo tidak mutlak harus ada. Ia hanya mengambil peran pendamping yaitu kritikus sastra. Kita sering mencemaskan absennya kritik dan kritikus sastra dalam kehidupan sastra kita. Nyatanya, dengan kecemasan itu, sastra terus berkembang, hidup dengan empat komponen utamanya tadi.

Mari kita melihat kehidupan sastra kita dalam konteks sosialisasi sastra itu. Kita tidak kekurangan sasrtawan. Penulis-penulis baru bermunculan. Penulis senior tetap produktif menulis. Frischa Aswarini (lahir 1991) muncul, Sapardi Djoko Damono (1940) pun terus menerbitkan buku baru. Jarak antara kedua penyair itu lebih dari setengah abad. Bayangkan, keberagaman seperti apa yang lahir dari karya mereka. Di antara kedua nama itu penulis-penulis baru datang menawarkan kebaruan dan kesegaran yang harus disambut dengan kesadaran bahwa sastra kita sedang sehat-sehat belaka.

Saya menerbitkan beberapa buku sejak 2007, bekerja sama dengan banyak penerbit. Semua dengan perjanjian kontrak royalti yang jelas. Beberapa buku saya dicetak ulang. Penerbit-penerbit berburu naskah yang bagus. Buku-buku lama hadir lagi. Buku puisi Chairil Anwar dicetak ulang oleh Penerbit Gramedia sampai 39 kali. Di deretan best-seller, buku sastra selalu mendominasi. Novel-novel Pramoedya Ananta Toer tak pernah kosong dari rak toko buku besar. Beberapa penulis hidup makmur dari karyanya. Artinya, penerbit sastra juga dalam kondisi yang sehat. Akan tetapi, apakah yang laris itu memang buku sastra? Tunggu, kita harus menyamakan cara pandang soal ini, nanti kita bicarakan.

Bagaimana dengan pembaca sastra? Melihat angka-angka penjualan buku sastra kita harus simpulkan bahwa karya sastra kita memang dibaca. Peluncuran buku, diskusi buku, penjualan perdana, selalu diramaikan oleh peminat sastra. Mereka sebagian besar tentu saja para pembaca buku. Kita juga bisa melihat dinamika lahir dan hadirnya kelompok pembaca ini di situs komunitas Goodread misalnya. Mereka bahkan punya festival sendiri yang tiap tahun memilih buku terbaik versi pembaca.
Dengan kondisi yang sesehat itu, sesungguhnya kita tidak terlalu memerlukan peran maecenas alias pelindung sastra. Maecenas sastra yang sesungguhnya adalah pembaca itu sendiri, kata Jacob Sumardjo. Kecuali itu dilakukan oleh pemerintah, lewat lembaga-lembaga yang berkaitan. Kit tahu dan patut beri apresiasi pada Kemdikbud dan Badan Bahasa yang dalam beberapa tahun menggelar program Sastrawan Berkarya. Program yang memilih dan mengirim sastrawan ke daerah terpencil, terluar, tertinggal, atau keluar negeri untuk menulis atau menyelesaikan karya sastranya.

Topografi Sastra
Setelah mendudukkan soal sosialisasi sastra, maka mari kita samakan cara kita memandang sastra kita dengan apa yang dijelaskan oleh Jacob Sumardjo sebagai topografi budaya sastra. Apakah itu? Dalam dunia sastra, dapat dilihat tiga penggolongan budaya, yakni sastra avant garde, sastra mainstream atau konvensional, dan sastra populer. “Ketiga sastra tersebut memiliki dunia kehidupannya sendiri, yang sebenarnya satu sama lain saling berpengaruh,” ujarnya dalam buku “Sastra dan Massa” (Penerbit ITB, Bandung, 1995).

Kita memerlukan ketiga jenis sastra itu. Sastra avant garde untuk mendobrak kebuntuan. Karya avant garde adalah karya gardu depan, karya perintis. Beberapa sastawan kita, di sepanjang sejarah sastra kita harus ditempatkan pada posisi itu. Hamzah Fansuri, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Raja Ali Haji, Armijn Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Chairil Anwar, Iwan Simatupang, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, dengan beberapa karyanya sudah melakukan terobosan yang mengubah sastra sesudahnya atau setidaknya mereka telah membuka dan meperlihatkan jalan baru dalam sastra kita. Tidak setiap saat muncul karya avant garde. Chairil dan Sutardji berjarak waktu 20 tahun lebih.
“Karya para sastrawan ini kebanyaan tidak umum, nonkonvensional, dan kadang diberi nama eksperimental,” ujar Jacob. Dengan ciri yang demikian, salah jika kita berharap karya avant garde ini gagal ketika hanya dibaca dan dimengerti oleh segelintir pembaca sastra. Tetapi adalah bagus jika ada maecenas satra yang membantu karya avant garde dibaca oleh sebanyak-banyaknya pembaca sastra.
Kerap kali dianggap hanya karya yang demikian itulah yang dengan rancu disebut sebagai ‘karya sastra’. Kadar kepeloporannya tentu saja bisa berbeda-beda, dan apa yang mendobrak pada mulanya, seiring waktu bisa beralih menjadi sesuatu yang mainstream.

Sastra mainstream atau konvensional adalah karya arus utama. Inilah jalan raya atau jalan utama sastra. Ada aturan, keteraturan, dan konvensi yang diterima. Karya arus utama ini patuh pada konvensi itu. Dinamikan sosialisasi sastra terutama dilakukan dan terjadi di wilayah ini. Puisi M Aan Mansyur, puisi para penyair terkini yang muncul di koran akhir pekan, buku-buku prosa Tere Liye, Andrea Hirata, dan Ika Natasha, misalnya bermain di wilayah ini. Demikian juga halnya, buku-buku Balai Pustaka pada masanya. Ini juga menjadi contoh bagaimana pemerintah Hindia Belanda menjadi maecenas sastra untuk menyediakan bacaan rakyat, meski dengan muatan politis untuk menghindari pengaruh buruk bacaan liar.

Sastra populer, dulu muncul di koran-koran berbahasa Melayu Rendah, apa yang disebut bacaan liar itu. Pada era lain, roman picisan, serial silat Wiro Sableng, karya Kho Ping Ho, kemudian novel di aplikasi Wattpad di era digital kini, bisa kita masukkan ke dalam kelompok sastra populer. Pembacanya bisa mencapai angka jutaan. Batas antara ketika kelompok ini tidak selalu jelas, terutama antara yang arus utama dan yang populer. Yang muncul sebagai karya populer di Wattpad bisa kemudian masuk menjadi mainstream setelah dicetak dan dijual dalam bentuk buku. Bahkan bisa dianggap, tujuan utama dari penulis memang untuk masuk dan diterima di arus utama itu.

Penyakit Puisi Esai
Dengan memakai kacamata dua hal di atas tadi, maka saya ingin melihat apa yang beberapa tahun belakangan ini sedikit mengganggu tubuh sastra kita, yaitu “puisi esai” dengan segala rekayasa memebesarkannya dan melambungkan nama penggagasnya Denny JA, sebagai penyakit. Bukan penyakit yang berat, tapi lumayan mengganggu.

Kenapa penyakit? Kita mengenal Denny JA dengan reputasi bagus sebagai pebisnis yang menjual jasa konsultasi politik yang kinclong. Kepeloporan di bidang itu teruji dan diakui. Demokrasi dengan pemilihan langsung ditangkap oleh beliau sebagai peluang bisnis dan beliau menjadi makmur karenanya. Sebagai konsultan politik Denny JA tentu mahir belaka dengan jurus-jurus pemasaran, bagaimana mempopulerkan seseorang, meningkatkan keterpilihannya, dan membuatnya memenangkan kontes pemilihan.

Jurus-jurus itu – dan tentu saja uang – ia pakai untuk melambungkan apa yang ia perkenalkan sebagai puisi esai, dan yang lebih penting adalah melambungkan namanya sebagai tokoh sastra yang berpengaruh. Seolah-olah “puisi esai” adalah sebuah karya avant garde yang membawa sebuah pembaharuan penting dalam sastra Indonesia. Padahal itu klaim kosong. Tidak sulit bagi saya untuk menyimpulkan bahwa tak ada yang baru dalam puisi-puisi Denny JA itu. Puisi dengan catatan kaki? Sebuah kronik singkat di Majalah Horison memberitakan bahwa itu sudah pernah ada di tahun 1970-an. Mengangkat fenomena sosial? Bukankah Rendra sudah melakukannya dengan sangat kuat dalam sajak-sajak pamlet. Jadi semua klaim kebaruan dan jika bisa avant garde pada puisi esai ini rapuh dan rontok.
Saya dikirimi buku “Atas Nama Cinta”, buku puisi esai di awal kemunculannya. Saya diminta untuk menulis dan disertakan dalam lomba berhadiah menggiurkan yang disponsori oleh Denny JA, si penulis itu sendiri. Di sini, Denny JA mengambil tiga peran sosialisasi sastra: dia sastrawan, dia penerbit sastra, dia juga maecenas sastra.

Puisi esai, katanya membawa sastra yang minim pembaca itu ke tengah gelanggang. Ini klaim lain yang rancu. Puisi esai memang bermain di wilayah itu. Dia berada di antara sastra mainstream dan populer yang memang berhadapan dengan publik pembaca yang luas, apalagi dengan jurus marketing berbiaya besar yang menyertainya. Dia bukan karya avant garde. Yang avant garde itu tetap saja di sana menjalani takdirnya bersama sedikit pembaca. Puisi esai tak pernah, tidak perlu, dan tak bisa melakukan apa-apa untuk mendobrak keterpencilan itu.

Akan tetapi, Denny JA tampaknya menikmati keberhasilan semu gerakan puisi esainya itu. Ia menduplikasi terus jurus-jurus yang sama. Ia menjadi maecenas untuk membayar orang-orang agar menabalkannya menjadi salah seorang tokoh yang berpengaruh. Ia menerbitkan majalah sastra. Ia membayar orang untuk mengulas puisinya dan mengirimkannya ke banyak orang, meskipun sebagian besar mengembalikannya. Ia membuat lomba menulis puisi esai dengan peserta yang harus teken kontrak, karena peserta dibayar, lalu berdasarkan itu klaim-klaim pun dibuat. Denny JA sendiri dengan rajin menulis klaim itu, menyebarkannya lewat media sosial dan media digital. Telah cukup syarat, tulisnya, untuk menyatakan kelahiran sebuah angkatan baru, yaitu angkatan puisi esai. Satu lagi peran diambil oleh Denny JA, pengamat dan kritikus, untuk membesarkan sosoknya sendiri.

Tentu tidak ada larangan bagi siapa saja untuk ikut mengembangkan sastra Indonesia, dengan cara apa saja. Tulisan ini hanya ikhtiar untuk mengingatkan dan untuk sama-sama merawat kesehatan sastra kita. Puisi esai adalah batu gamping yang terus digosok-gosok agar tampak berkilau dan kemudian disebut-sebut sebagai sejenis intan yang baru. Uang memang bisa membeli banyak hal, tapi banyak yang tetap tak terbeli dengan uang.

Puisi esai adalah monumen rapuh yang sejak awal sudah tampak miring, yang akan lekas tumbang, meskipun sang sastrawan merangkap maecenas terus-menerus menopangnya dengan kekuatan kapitalnya. Gagasan puisi esai seperti gagasan mengembalikan becak ke sistem transportasi dan disebut-sebut itu sebagai gagasan baru untuk menyelesaikan persoalan mobilitas di ibukota.

Puisi esai adalah penyakit . Tapi kita tak perlu tak cemas, tubuh sastra kita sehat dan mempunyai antibodi yang kuat. Penyakit puisi esai akan mati sendiri  terbunuh dan tertolak oleh antibodi itu.  Sementara itu, Denny JA dan para pendukungnya, bisa dan boleh memilih peran lain untuk sama-sama membuat sastra kita sehat walafiat.

Jakarta, Januari 2018

 

 

One thought on “Esai: Sastra yang Sehat dan Penyakit Puisi Esai

  1. cukup menyadarkan saya akan satu hal, yaitu bisa saja datang para “orang-orang yang memanfaatkan sastra untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya” atau, mungkin bisa saja disebut dengan politik sastra?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *