Puisi: Lukisan Kampung Nasirun – Badruddin Emce (l. 1962)

Badruddin Emce (l. 1962)
Lukisan Kampung Nasirun

: di pinggir sawah Doplang, Adipala!

Rasanya semua kebenaran kumpul di sini.

Nyewiji, seperti keluarga besar
dengan tetangga-tetangga keluarga besarmu.

Kuning air sumur dengan ibu-ibu
yang rajin berkumur.

Lantas dengan kegembiraan macam apa
melukisnya?
Dari tepian ini memandang
yang telah di seberang

Meniti pematang ke seberang
atau lebih seberang lagi.

Saat di seberang yang pernah dipandang,
tak lebih soal bagaimana sang nyata
siapkan warna.

Maka meski di sini engkau tak lagi beralamat,
tanamanmu juga tak pernah khianat.

Terus usil serupa tangan
menggores bentuk-bentuk liat
mirip keris tukang ruwat

Memangnya sama, bertani
dengan pegawai negeri?

Agaknya seseorang tersinggung berat.
karena di tengah aneka muslihat
tanamanmu malah ngakak.

Benar! Adakah lucu
memuliakan satu dari lainnya,
merantau atau di kampung saja?

Semuanya hebat
penuh tanggungjawab?

Merantau terus dibayangi,
sudah bisa apa anak-anak
kampung asal puluhan tahun ditinggal?
Sebaliknya, di kampung sampai tua
disibukkan, setelah seharian di kebun sawah
segera magriban di surau?

Usai wiridan, turonan:

Menduga waktu tempuh ke titik langit
seluruh benih tanaman kampung berasal.

Kroya, 2008

 

Sumber: Diksi Para Pendendam; Akar Indonesia, Yogyakarta; 2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *