Puisi: Linggau Malam – Motinggo Boesje (1937-1999)

Motinggo Boesje (1937-1999)
Linggau Malam

ketika aku akan pulang terpaksa aku tanyakan hati
segala yang terpetik dari lautbirunya liarnya kehidupan
bepotret dirisendiri dalam nisannya yang teduh
ia akan dibuak kelak ke tanahasing tercintanya.

sial berkata-kata memulangkan nyanyian gadismu
di dalamnya lahir orang-orangan yang dilupakan orang
karena ia, ia lupakan dan dilupai kekasihnya
berkaca di beling hitam wajah bertikaman ancaman perang

perang di hatimu selesai malam ini, kekasihku
di sana kita menukil mata venus dewi keberanian
sedang sang waktu membunuh aku dalam perburuan waktu
dan waktu terbunuh kini karena aku membunuhnya

kauterimakah aku pulang sebagai orang mati yang tercela?
dalam jari tanganku terpaku kata-kata dindingtua
berpotret dirisendiri dalam nisannya yang teduh,
sedang engkau dalam ajakan di cibir cintamu yang runtuh.

kauterimakah aku pulang sebagai orang mati yang tercela
(sebuah vas berisi bungabunga putih di beranda rumah)
dan anak-anak yang bermain dengan popi
hidupnya taktercela matinya takterbela.

dan aku yang bermain-main dengan hidup
menghabiskan doa dalam dukana yang terderita
karena dukapenyair dasar jiwa hati yang selalu berdegup
berpotret dirisendiri dalam cintanya yang runtuh.

Sumatera, 14 Juni 1955

 

Sumber: Budaya, No. 9, Th. V, September 1956; Tonggak 2 (Gramedia, Jakarta, 1987).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *