Puisi: Menghadiri Pengajian Rumi – Nezar Patria (l. 1970)

Nezar Patria (l. 1970)
Menghadiri Pengajian Rumi

Alif.
Pada Alif aku belajar segala awal menuju Ya. Dia muncul suka-suka dari balik kitab, lalu mengabarkan sebelum ada cahaya, semesta adalah setangkup gelap. Ia tak takjub melihat bumi hanya sebutir debu, karena di kerjap mata kakinya terayun bima sakti. Begitulah kau ada dan tiada seperti Alif berjalan menuju Ya. Aku tak paham. Ia mungkin dongeng dari mereka yang kurang tidur siang. Rumi selalu mengantuk sewaktu aku bertanya soal rahasia-rahasia.

Ba.
Ada lelaki tambun berbaring di pematang. Ia Ba, perut bulatnya tak berhenti berguncang karena tertawa. Wajahnya selebar teratai di kolam air mata. Dia mengatakan aku tak sampai ke nirwana jika tergoda sebundel arsip bagaimana cara bergembira. Ia mengambil segulung kertas, lalu menulis: “Samsara adalah sumur daya cipta bagi segala termasuk menimba kata bahagia”.

Ta.
Aku duduk bermuka-muka bersama Ta, dan segera ia membuatku jadi skizofrenia. Segala yang melintas pada Ta akan terbelah dua: langit-bumi, air-tanah, bahagia-derita. Aku tak bisa membaca mana lebih baik, ke kanan atau kiri. Di kanan bersarang para pesolek pemuja diri. Aku lebih suka ke kiri karena begitulah Rumi mengajariku mengaji. Ia tak menghujah jika aku hilang arah. Ia hanya berbisik di antara benar dan salah ada sebuah savana, dan dia akan menemuiku di sana.

2015-2016

Sumber: Kompas, Sabtu 2 Juli 2016

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *