Puisi: Panembrama Yogyakarta – Ragil Suwarna Pragolapati (1948-1990)

Ragil Suwarna Pragolapati (1948-1990)
Panembrama Yogyakarta

Selamat datang, Saudara! Aku Yogya, impian dan legenda
Wajahku 1.000 dimensi. Tubuhku tradisi jiwaku Kejawen
Kucampur 1.000 unsur, jadi 1.000.000 sinkresi harmoni
Kuhimpun 1.000.000 soal jadi kohesi atau kontroversi
Watakku tulen: sopan tapi kikir, ramah tapi mencekik

Selamat datang, Saudara! Aku Yogya, kota sejuk purbakala
Kumanja-manja bisnis industri, nafkahku bergengsi modern
Tradisi dan seni kugeser, agama dan ilmu kuatur minggir
Maliabara? Dulu kraton seniman, kini kraton kelontong
Kraton? Dulu sakti anggun, kini pasar kaum pelancong

Selamat datang, Saudara! Aku Yogya, barometer konsepsi
Seniman-ilmuwan-agamawan bertahan, hidup sabar prihatin
Kuuji 1.00 teori, ada 1.000 seminar kujual jadi proyek
Barometer seni-budaya, ilmu dan kampusku kharisma elok
Kubu kompetisi, pasar 1.000 nilai hidup, sepi tapi mahal

Selamat datang, Saudara! Aku Yogya, kubu 1.000 kreator
Kau tumbuh di jagad seni-budaya-ilmu-agama dan tersohor
Jangan minta nafkah padaku, kau mustahil kaya atau cukup
Kaplingku kumuh, kompetisiku gemuruh, populasiku berjibun
Padahal sudah watakku: tidak memberi, tapi banyak menuntut

Selamat datang, Saudara! Aku Yogya, koloni Indonesia mini
Orang segala suku-agama-tradisi datang, tiap tahun antri
Uang dan gengsi bertarung, aku memberi suaka atau senyum
Baru bermukim semusim, kau frustrasi, cepat angkat kaki
Baru bercerai semusim, kau kangen, aku pun jadi legendaris

Minggiran, 1988-1989

 

Sumber: Salam Penyair (Bentang Budaya, Yogyakarta; November 2002. Pernah terbit terbatas pada 26 Februari 1989 oleh SYS; Studiklub Yoga-Sastrapers)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *