Puisi: Gereja Peterongan – Ragil Suwarna Pragolapati (1948-1990)

Ragil Suwarna Pragolapati (1948-1990)
Gereja Peterongan

Hening! Suasana Eropawi dipersuci koleksi antik
Kau bukan jemaah Katholik. Hanya musafir asing
Melihat dan menghayati. Iman butuh pembanding
Kini pada taraf seni tinggilah nilai lestari
Saat membersihkan lumpur-debu di rongga hati
Kau membisu, menyimpan 1.001 tandatanya dada
Membayar uang kolekte tanpa nyanyi dan komuni
Menyimak kumandang khotbah, bacaan ayat-ayat
Aneh! Iman Islam tambah hidup, mutu dan kuat
Allah di mana? Ada di masjid, juga di gereja

Kepada siapa Allah memihak? Bukan pada jemaah
Tuhan hanya Sang Tunggal tanpa sekutu saingan
Dia tidak butuh menang-kalah. Emoh blok-blokan
Hanya manusia sendiri asyik membangun golongan
Lalu menangkap Allah dalam kerangkeng monopoli
Yakin di luar jamaah hanya ada neraka kesesatan
Engkau tersenyum menyaksikan ayat Allah dikunyah
Mengenyangkan hati. Tapi memperlapar akal-pikir
Allah disekap di surga berterali. Mewah. Indah
Misa pun berakhir. Keluar. Berbuat dosa lagi

Di pintu luar kau menunduk, memelihara jiwa sadar
Yakin para Nabi tidak pernah kelahi dan bertengkar
Beribu kitab-suci berasal dan Maha Sumber Tunggal
Allah memihak diri-Nya sendiri, bukan aku dan kami
Engkaulah yang harus memihak Dia. Yakin lagi setia
Tidak perlu berperang, berebutan kebenaran tunggal
Tidak butuh bertikai, berkubu agama rumah ibadah
Perang bukan doktrin agama, bukan firman Cinta
Di pintu kau menggigil. Monopoli Allah mustahil
Di luar, orang terus bertikai memakai Kitab Suci

Semarang, Oktober 1981

 

Sumber: Salam Penyair (Bentang Budaya, Yogyakarta; November 2002. Pernah terbit terbatas pada 26 Februari 1989 oleh SYS; Studiklub Yoga-Sastrapers)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *