Puisi: Muslihat Pagi Buta – Fatih Muftih (l. 1992)

Fatih Muftih (l. 1992)
Muslihat Pagi Buta

Seperti yang sudah dikatakan. Pagi masih buta dan bapak akan mengajakku ke wahana hiburan. Aku membayangkan kuda-kudaan yang berputar penuh lampu. Ada juga penjual gulali besar yang boleh kujilati sampai habis. Bapak tidak membawa arlojinya. Katanya, di sana waktu tidak lagi bekerja. Duh, keriangan lincah bermain di angan-angan. Aku, kataku pada Bapak, ingin bermain lama-lama di sana. Selamanya.

Ibu tentu paling sibuk berkemas. Perhiasan terbaik ia tanggalkan. Seperti Bapak. Katanya, segala di sana suka-suka. Cokelat besar-besar boleh kuhabiskan tanpa takut gigi berlubang. Aku mau pakai baju kembang penuh warna. Tapi Ibu melarang. Disiapkannya baju hitam-hitam. Taman bermain di sana, kata Ibu, dipenuhi bunga macam warna. Aku gegas mandi. Hari ini girang sekali, tidak perlu bedak di pipi.

Jauhkan perjalanan kita hari ini? Bapak menggeleng. Ibu pilih mendekap adik yang merasa sarapan pagi ini begitu terburu-buru. Kuberikan bunga kertas padanya. Ia menerima tapi tidak ada senyum darinya. Mata Ibu pun begitu, sama seperti Bapak, memandang jauh yang tak kujangkau. Aku bernyanyi. Bapak dan Ibu lekas memintaku berhenti.

Kami pergi dari rumah, tidak membawa apa-apa.

Kami keluar dari kehidupan, tanpa tahu menuju ke mana.

Kulihat bunga kertas di tangan adik jadi merah tiba-tiba. Tidak ada kuda-kudaan, gulali, juga cokelat. Liburan ini siapa yang sebenarnya merencanakan.

2018.

Sumber: Blog Mahafatih, 15 Mei 2018.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *