Esai: Doa Puisi Purnama Sari: Kompleksitas dalam Kelembutan

Oleh Hasan Aspahani

TUBUH puisi sebagai teks punya daya tarik antara lain karena ia – seperti material spons – menyerap dan menyimpan lebih banyak makna daripada apa yang tampak terbaca pada fisiknya. Teks puisi jelas berbeda dengan resep masakan atau petunjuk cara minum obat, misalnya, yang memang harus begitu, dan hanya begitu.

Sampul depan “Kawitan”

Kemampun puisi untuk memiliki potensi pemaknaan yang melebihi dari apa yang tersurat itu, oleh penyair, antara lain dihadirkan dengan membangun kompleksitas, seraya menjaga kepaduan. Pada keterampilan dan kekriyaan menarik-ulur antara kompleksitas yang terbangun dan kepaduan yang tetap terjaga itulah mutu puisi dipertaruhkan.

Pembicaraan tentang inilah yang ingin saya pakai untuk memasuki buku Ni Made Purnama Sari (lahir 1989) “Kawitan” (Gramedia, 2016), yang memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015, khususnya lewat sajak “Lewat Rotterdam Tengah Malam” (hal. 22-23).

Bagaimana Purnamasari membangun kompleksitas dalam sajak ini? Ia memadukan dua wacana – sebutlah begitu. Pertama, pengalamannya yang unik dan penghayatannya yang otentik ketika dia naik kereta di Rotterdam; dan kedua, pengetahuannya tentang sosok Muhammad Hatta yang kita tahu dari sejarah biografinya memang pernah menuntut ilmu di kota negeri Belanda itu.

Lewat Rotterdam tengah malam
Kukira Hatta bersamaku di kereta
Bagai dua siswa sekolah mula
menempuh ujian akhir tahun:
ia menulis sajak, aku gubah sejarah
tak boleh saling contek

Hanya dengan imajinasi si penyairlah maka kedua hal itu bisa menjadi sebuah dunia rekaan yang punya logikanya sendiri, menjadi sebuah puisi yang menjadi yang membangun dunianya sendiri. Pengalaman dan imajinasi, maka dua dari tiga hal dari unsur penyusun fiksi, sebagaimana dijelaskan Kuntowijoyo pun hadir. Kita bisa bayangkan bagaimana nilai-nilai yang dianut penyair kemudian memandu strukturisasi kedu hal itu menjadi teks puisi. Imajinasi yang liar diatur sedemikian rupa, sehingga kedua hal itu membentangkan keluasannya sendiri.

Karena Purnama penyair, dia yang sedang menulis puisi, maka ia membayangkan Hatta – yang ia sebut dengan usil sebagai temannya, sebagai “dua siswa sekolah mula yang hendak ujian akhir tahun” – menulis puisi, dan dia sendiri menggubah sejarah dan mereka tak boleh saling contek. Ini jenaka. Tak banyak yang tahu, tapi saya yakin Purnama tahu, Hatta ada juga menulis puisi (yang buruk), dengan berbagai nama samaran. Maka, ungkapan Purnama “tak boleh saling contek” bagi saya mempertegas sosok Hatta yang pemalu, apalagi di hadapan perempuan, dan tak yakin dengan puisinya.

Dari situ imajinasi penyair kita ini berjalan kemana-mana membangun kompleksitas dalam komposisi sajaknya, dengan strategi sintaksis yang menghasilkan kalimat yang tertunda, rumpang di sana-sini, penyusupan pengetahuannya tentang sejarah (peti-peti buku Hatta, pembuangan ke Bandanaira), bolak-balik antara kini dan lampau (kereta yang melesat 100 km per jam, kanal dan puing kota Rotterdam yang lampau), yang faktual dan yang khayali, hingga perasaan yang dihadirkan untuk menegaskan bahwa itu adalah sebuah sajak liris yang dengan cermat hendak memadukan emosi dan pengamatan pada situasi (juga imajinasi).

Puisi ini sangat bisa dibaca sebagai pernyataan seorang anak muda yang punya kesadaran untuk meneruskan sejarah bangsanya: sejarah yang aku buat / entah akan akhir bagaimana. Tapi, sebagaimana Hatta yang lurus dan malang itu, kami tak punya apa-apa / kecuali nasib buruk yang tanpa jemu / menikung langkah di setiap kesempatan. Ada yang terasa jenaka. Ada kemurungan yang melintas. Sampai akhirnya mereka harus: ...memisah arah / Ia turun di stasiun, aku laju ke masa yang nun. Puisi kami, sejarah kami / Entah akan pernah sejalan lagi. Sejarah dan puisi, apa yang berbeda itu bisa menyatu, tapi masa depan tak pernah tentu.

Sajak ini mungkin sangat bisa mewakili tipikal sajak-sajak Purnama di buku ini. Bait-bait yang teduh, larik-larik yang tenang, bukan karena tak ada gejolak emosi, tapi penyair kita mengendalikannya dengan kuat. Kata “wit”, kata dasar dari “kawitan” yang menjadi judul buku ini, berarti asal mula. Itu bisa berarti Tuhan, asal dari segala mula, bisa juga dimaknai sebagai leluhur yang harus selalu diingat. Untuk Purnama, kawitan juga kita maknai sebagai etos menyairnya yang ingin mencoba mencari asal atau makna di balik segala fenomena yang ia alami dan hayati. Begitulah cara dia memahami hidup dan dunianya, yang terbaca dari sajak-sajaknya.

Sebagai penyair, Purnama adalah pengamat yang cermat dan penghayat yang takzim. Ia memberi perhatian pada (nyaris) apa saja: cicak, kadal, lalat, kucing, tikus, anjing (bernama Ciko yang nyaris buta), burung, kasuari, perdu limau, semak kayu manis, helai cempaka, pinus, cemara, sabana sumba, cincin janda, sudut-sudut jalan, buku-buku perpustakaan, hal-hal kecil yang ketika dijukstaposisikan dalam bait-bait puisi menjelma menjadi berbagai metafora yang tak sok sebagai metafora, yang tak pura-pura menyembunyikan makna di balik akrobat sintaksis. Kalimat puisi Purnama adalah kalimat biasa (yang dengan demikian secara fisik ia nyaman dibaca), tapi tak bisa kau anggap diafan sebab imaji yang bangkit dari sana amat prismatis. Narasi Purnama mengalir lancar dalam lirisme yang anggun.
Maka dari tangannya lahirlah sajak-sajak yang mengajak kita merenungi kesementaraan hidup lewat prosesi menyantap es krim Ragusa yang legendaris di jalan Veteran I, itu. Ia juga dengan cermat memotret kehidupan orang kecil, seperti tukang becak, penjual nanas kupas, dan aroma kecap kedelai hitam, lewat apa-apa yang ia amati dari perubahan sepotong jalan di sebuah pasar, dan berbagai peristiwa kehidupan yang lain.

Pengamatan yang jeli, adalah bekal untuk mendapatkan bahan yang kaya. Sajak-sajak di buku ini kemudian disuguhkan dengan terampil. Misalnya bagaimana simile digarap cermat dan hasilnya adalah ungkapan perbandingan yang menggoda imajiansi. Simile-simile yang ia hadirkan bisa terasa sangat istimewa. Sekadar beberapa pembangkit selera, mari kita cicipi beberapa petikan:

Cilame seketika bagai museum terlupa; / ibarat pencuri, sembunyi dari kejaran waktu. (Jalan Cilame, hal 4)
Nanas-nanas dikupas sekenanya / Seperti kucing penuh kutu (Jalan Cilame, hal 4)
Jiwa kami bagai kaleng minuman bekas / tandas dilindas hampa (Paskah di Benhil, hal. 6)
Seperti kalimat penutup sebuah sajak / yang ditulis ragu-ragu di bangku tunggu: / sajak seorang yang bunuh diri (Lantai Atas Stasiun Gambir, hal. 8)
Airmata rumputan / menumbuh subur sebiji benih / bagai keluh ganti musim (Semangka di Semanggi, hal 15)
Maka aku berlari / bagai sekumpulan camar / menyambut musim dingin (Lanskap Pagi, 30)
Bagai anak hilang abai tak pulang / aku berharap bisa mengembara (Perpustakaan Kampus, hal. 41)

Contoh pertama adalah unik, sebab dua perumpamaan diberuntunkan, karena memang tak cukup satu. Keduanya dibutuhkan. Keduanya membangkitkan ironi dan kontras. Keduanya seakan bertentangan (satunya benda mati dan yang lain manusia). Tapi, kita terima sebab satunya adalah wujud fisik (imaji tampakan) dan yang lain adalah perilaku (imaji gerak). Ini adalah penemuan yang mudah sebab simile ditandai dengan kata-kata penunjuk khas: bagai, seperti, ibarat. Tetapi sesungguhnya, setiap benda yang hadir dalam sajak Purnama bisa dibaca sebagai simile-simile dari berbagai hal, bahkan metafora, yang tentu saja menambah kompleksitas dalam teks sajak-sajaknya.

Hal cerdik yang juga dilakukan Purnama adalah bagaimana dia memanfaatkan nama-nama penyair Indonesia, yang tentu dia kagumi dan dalami sajak-sajaknya, menjadi berbagai alusi. Maka lahirlah sajak tentang mereka, juga yang bukan tentang mereka tapi dengan imaji yang terbawa ketika nama Chairil, Sitor, Poyk, dan Panji Tisna (ia juga menyebut Paz, Whitman, Mistral, Rumi, Khayyam) dihadirkan. Yang ia lakukan ini mempertegas kenyataan bahwa puisi para penyair kita terdahulu cukup berlimpah untuk menyediakan bahan perbandingan, rujukan, model awal, bagi penyair yang datang kemudian. Juga tak kikuk ketika disanding dengan sajak-sajak penyair dari negeri lain. Yang unggul memang muncul dari pemuliaan dan penyilangan. J.E. Tatengkeng, salah seorang pemikir Pujangga Baru sudah meyakinkan itu sejak lama. Dalam Pujangga Baru III/1, Juli 1935 ia menulis artikel “Penyelidikan dan Pengakuan”, kita kutip:… Seni, kesusasteraan kita, harus mendapat ilham dari seluruh alam. Tidak benar yang pengaruh asing itu melemahkan saja. Kita harus berakar sedalam-dalamnya di tanah air kita, tetapi juga kita harus mengembangkan cabang-cabang ke kiri – ke kanan dan ke atas supaya kita peroleh udara yang sesehat-sehatnya yang dibawa angin dari segala penjuru alam.

Tanpa jargon atau manifesto ini-itu, Purnama menjadikan puisinya bagian dari puisi dunia, mengambil inspirasi dari berbagai belahan dunia, bukan sekadar ingin “menjadi ahli waris kebudayaan dunia”. Libanon, Armenia, Kota Brecht,¬† Jalan Flinders, Katedral St. Paul, baginya sama saja dengn Cikoko, Padalarang, Salemba,¬†nama lama kawasan Weltevreden, dan Jalan Gajahmada di Denpasar. Dia menghayati keduanya dengan intensitas yang sama. Di negeri asing ia tidak datang dengan kekaguman atau kebingungan pendatang, di negerinya sendiri dia tidak melintas dengan cuai karena bosan dengan peristiwa rutin.

Jika puisi-puisi di buku terasa lembut – di tengah kompleksitas yang memukau – maka itu bisa kita temukan jawabannya di sajak terakhir, “Doa Puisi”. Sebuah puisi yang dibangun dengan penghayatan atas waktu dan perjalanan, kehidupan dan hidup sesudah kematian. Memilih Chairil – yang sajak-sajaknya sedemikan terobsesi pada maut – sebagai metafora dan alusi dan sebagai bahan pembangun imaji utama di sajak ini adalah pilihan yang cermat. Kontras bait awal dan bait akhir di sajak ini membuat bait-baitnya seakan bergaung.

Di stasiun karet aku menunggu bukan untuk chairil
puisi orang mati atau keluh sebuah kota yang berubah.

Purnama memindahkan Karet yang sudah tertanam di kepala kita sebagai pembaca sebagai “kuburan” yang mati dan akhir itu, ia pindahkan ke “stasiun” yang perjalanan dan awal itu. Dan dia menunggu di sana, bukan untuk Chairil, puisi orang mati, dan keluh sebuah kota yang berubah. Sungguh sebuah kontras antara puisi dan lingkungan yang melingkupi tiap unsur pengungkapnya.

Lantas ia membentangkan jajaran imaji yang mengutuhkan: loket, gerbong, tiket, kota, rumah, pintu kereta, penumpang, tapi juga imaji yang mengganggu di antara kolokasi itu yaitu burung yang menukik dari langit. Burung itu menelusup kedalam pikirannya, yang suara kicaunya memberi warna pada kata-kata. Penting sekali imaji burung itu untuk menganggu rutin hidupnya. Lalu suara burung itu ditimpa lagi dengan dengan suara kereta yang datang, sayup, yang membuka pintunya, mendedahkan ruang yang remang dan kesepian penumpang. Yang sakral, yang wingit, bahkan selapis tipis horor hadir. Seperti jemputan untuk kembali ke asal. ke wit itu.

Sajak kemudian ditutup dengan bait ini:

Semua yang mati
hidup bangkit kembali karena doa puisi.

Jadi, bagi Purnama, puisi adalah doa, jalan baginya untuk menghidupkan apa-apa yang ‘mati’, mengembalikan apa-apa telah berlalu, menyekarangkan apa yang lampau, memberi peran besar pada apa-apa yang kecil dan remeh. Siapa pun tentu saja berdoa dengan lembut, dengan suara rendah, dan syahdu. Dan kelembutan nadanya itulah salah satu kekuataan sajak-sajak Purnama.

Jakarta, Juni 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *