Puisi: Belerang Biru – Husain Landitjing (l. 1938)

Husain Landitjing (l. 1938)
Belerang Biru

– 1 –
ia sangat rindu untuk sampai lekas ke rumahnya
lantaran janji serta suatu kehendak besar
betapapun beratnya mengatasi akan sebuah makna yang luhur
dalam pergulatan hidup dan kehidupan
rasanya tak perlu meminta bantuan, kecuali
diri sendiri;
kota-kota jadi demikian gawat dan berbahaya
ketika pada malam-malam dalam hujan
ketika dosa dan kutuk makin merajalela
sedang ia ingin untuk sampai lekas ke rumahnya
sayang bila waktu tak memberi keluasan
buat mendapatkan nilai yang menjadi haknya

– 2 –
apa lagikah makna hidup tanpa kepercayaan dan kesetian
menuntut hak dan kemerdekaan serta suara sanubari
antara kawan dan lawan,
antara kristal puisi yang muram
di bumi resah;
dan ia yang sangat rindu untuk sampai lekas ke rumahnya
telah dikepung penyakit dunia
dan menghalau kasih dan cinta
sementara orang-orang pun saling memalingkan muka
takut kehilangan bahagia sendiri;
lantaran kehidupan maka waktu tinggal membisu
usia makin aus dalam memburu impian
makin diburu makin jauh harapan
sedang suatu kehendak besar
dipendam dalam sunyi;

– 3 –
apa boleh buat ia harus pulang kembali
menyalakan api dan hakekat hidup yang kekal
betapapun jauhnya jalan yang ‘kan ditempuh
ketika malam-malam dalam hujan badai
dengan pas jalan dari cinta
dengan jas hujan yang compang-camping
ia wajib menunaikan ini
dan sampai berapa lama,
ia belum berani mengucapkannya sekarang

Sumber: Horison No. 3 Th. VI, Maret 1970

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *