Puisi: Malino dalam Senja – Husain Landitjing (l. 1938)

Husain Landitjing (l. 1938)
Malino dalam Senja

dentang hidup sayup bergema lewat hari-hari dalam senja
sementara kota dingin ini menonjol di lintasan
kabut putih saling bergulat di pucuk-pucuk pohonan
dan semak-semak menghilang;
tatkala arus angina bangkit kembali
kabut putih, hantu-hantu serta roh-roh dihalau bengis
ke jurang ternganga di bawah, dan —
di atas gunung saling pukul memukul danberombak dalam suara

kemudian haripun letih sendiri, lalu,
menyerah,
mengendap di padang rumput basah
dan sepi merangkak perlahan-lahan
menusuk indra,
mengganggu sampai malam jatuh di ranjang penginapan;

mendadak kawanku bertanya;
apa yang bisa dibuat dengan sunyi?
mibum anggur garang?
mengepulkan mimpi ke dunia lain?
atau bercerita akan hal ihwal perempuan tak habis-habisnya?
atau tentang kesusasteraan Indonesia abad dua puluh?
atau sifat-sifat Tuhan?
atau hal mati?

ah, jangan, jangan dengan hal mati
aku takut maut tiba-tiba bangkit bagai dinding
atau menyamar dalam sepi
lalu menangkap dengan garang
maka kita takkan bisa lagi kembali
ke rumah asal
buat menyalakan api
yang kekal;

sebab, sungguhpun duka demikian berat dan memuncak
menggelegak,
di hari-hari dalam senja
aku masih tetap rela bangkit dan akan bertarung kembali
dari kejatuhanku yang kedua
aku akan bertarung lagi,
sampai kapan?
sekarang ini aku belum bisa mengatakan

Sumber: Horison No.3, Thn. 5, Maret 1970.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *